Liputan6.com, Teheran - Pemerintah Iran menyatakan sedikitnya 1.332 warga sipil tewas sejak konflik dengan Israel dan Amerika Serikat pecah. Ribuan lainnya dilaporkan mengalami luka-luka akibat serangan yang terjadi di berbagai wilayah negara tersebut.
Pernyataan itu disampaikan Duta Besar Iran untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa, Amir Saeid Iravani, saat berbicara kepada wartawan di markas PBB di New York pada 6 Maret.
Advertisement
Iravani menuduh Amerika Serikat dan Israel secara sengaja menargetkan infrastruktur sipil di Iran. Ia menegaskan bahwa militer Iran, sebaliknya, hanya menyerang sasaran militer dan tidak menargetkan warga sipil, dikutip dari laman Straits Times, Sabtu (7/3/2026).
Namun, tuduhan tersebut dibantah oleh Washington dan Tel Aviv yang menyatakan Iran juga menyerang target sipil.
Menurut Iravani, Iran juga tidak menargetkan kepentingan negara-negara tetangga di kawasan. Ia menambahkan bahwa pemerintah Iran tengah menyelidiki sejumlah laporan yang menyebutkan serangan Iran mengenai fasilitas non-militer.
“Penilaian awal kami menunjukkan bahwa beberapa insiden mungkin disebabkan oleh intersepsi atau campur tangan sistem pertahanan Amerika Serikat yang dapat mengalihkan serangan dari target militer yang dimaksud,” kata Iravani.
Sementara itu, Presiden AS Donald Trump kembali meningkatkan tekanan terhadap Teheran. Pada 6 Maret, ia menuntut “penyerahan tanpa syarat” Iran setelah Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei dilaporkan tewas pada hari pertama perang.
Aturan di Piagam PBB
Dalam wawancara dengan Reuters sehari sebelumnya, Trump juga menyatakan Amerika Serikat seharusnya memiliki suara dalam menentukan pemimpin Iran berikutnya.
Iravani menanggapi pernyataan tersebut dengan keras. Ia menyebutnya sebagai pelanggaran terhadap prinsip non-intervensi yang diatur dalam Piagam PBB.
“Pemilihan kepemimpinan Iran akan berlangsung sepenuhnya sesuai prosedur konstitusional kami dan semata-mata atas kehendak rakyat Iran tanpa campur tangan asing,” ujarnya.
Beberapa jam setelah pernyataan Trump, Presiden Iran mengungkapkan bahwa sejumlah negara yang tidak disebutkan namanya telah memulai upaya mediasi—menjadi salah satu sinyal awal adanya inisiatif diplomatik untuk menghentikan konflik.
Sementara itu, dua pejabat AS mengatakan kepada Reuters bahwa penyelidik Amerika menduga pasukan AS kemungkinan bertanggung jawab atas serangan yang menghantam sebuah sekolah perempuan di Iran pada 1 Maret yang menewaskan puluhan anak. Namun, penyelidikan masih berlangsung dan belum menghasilkan kesimpulan akhir.