Panel Surya Buat PLTS Desa Bakal Dipasok Lokal, Investasinya USD 1,4 Miliar

Menteri Investasi Rosan Roeslani mengungkapkan adanya realisasi investasi senilai USD 1,4 miliar untuk pembangunan pabrik komponen PLTS berkapasitas 50 GW.

oleh Arief Rahman HDiterbitkan 06 Maret 2026, 18:20 WIB
Siswa kompetensi keahlian Teknik Energi Surya Hidro dan Angin (TESHA) melakukan praktek perawatan solar panel di SMK Negeri 1 Kemang Bogor, Jawa Barat, Kamis (19/5/2022). Solar panel teserbut selain sebagai media pembelajaran siswa juga menghasilkan energi listrik yang digunakan untuk kebutuhan pasokan listrik di lab sekolah tersebut. (merdeka.com/Arie Basuki)

Liputan6.com, Jakarta - Pemerintah akan membangun Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) di desa-desa seluruh Indonesia. Nantinya, pasokan panel surya yang dibutuhkan akan didapat dari produksi lokal.

Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), Rosan Roeslani mengatakan sudah ada investor menanamkan dana USD 1,4 miliar untuk pabrik komponen pendukung PLTS, termasuk panel surya.

"Kebetulan sudah ada masuk investasi di Indonesia realisasi akhir tahun ini untuk pembangunan pabrik (panel surya), investasi 1,4 miliar dolar dengan kapasitas 50 GW," kata Rosan, di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, dikutip Jumat (6/3/2026).

Dia menjelaskan, investasi itu sudah masuk pada pertengahan 2025 lalu. Saat ini sudah masuk tahap pembangunan pabriknya. Tagetnya, kata Rosan, pabrik komponen PLTS itu bisa rampung akhir 2026 ini.

"Foreign Direct Investmen (FDI) yang sudah dimulai tahun 2025 pertengahan dan targetnya akan selesai pada tahun akhir 2026," katanya.

Dengan demikian, beberapa komponen seperti panel surya untuk PLTS desa bisa dipasok dari produksi lokal. "Jadi itu juga akan membantu untuk kita bisa pakai produksi dalam bagian kita untuk proyek PLTS ini," imbuh Rosan.

 

Pemerintah Mau Bangun 13 GW PLTS Desa

Tampilan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) Lipang berkapasitas 13 kilowatt peak (MWp) yang terletak di Kecamatan Kendahe, Kabupaten Kepulauan Sangihe, Sulawesi Utara. Pembangkit PLN ini menjadi salah satu yang PLTS yang diresmikan oleh Presiden Prabowo pada Kamis (28/6/2025). (Dok PLN)

Sebelumnya, Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), Rosan Perkasa Roeslani mengungkapkan rencana pembangunan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) berkapasitas besar. Usulannya, PLTS dibangun dengan kapasitas 100 gigawatt (GW) di desa-desa di Indonesia.

Rosan mengatakan, pada tahap awal disepakati untuk memprioritaskan pembangunan PLTS desa sebesar 13 GW. Hal ini sejalan dengan perintah Presiden Prabowo Subianto.

"Jadi kurang lebih dari usulan tadi awal 100 gigawatt, mungkin ada 13, dari 100 GW jadi 13 GW terlebih dahulu yang rencananya akan diprioritaskan," kata Rosan di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, dikutip Jumat (6/3/2026).

 

Ada PLTS Contoh

Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) Hybrid Nusa Penida yang mulai beroperasi menjelang gelaran Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G20 November 2022 lalu, hingga saat ini terus konsisten memasok energi bersih bagi sistem kelistrikan PLN di Bali. (Dok. PLN)

Dia menjelaskan, Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM dan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) akan menindaklanjutinya. Rosan bilang, Danantara telah memiliki PLTS desa yang bisa jadi contoh.

Yakni, PLTS desa yang ada di kawasan Sumenep, Jawa Timur dengan kapasitas 1 megawatt (MW). Harapannya, proyek tersebut bisa direplikasi di daerah lainnya.

"Danantara sudah ada satu prototipe untuk pembangunan PLTS ini di daerah Sumenep yang kebetulan baru selesai sebesar 1 MW. Nah itu juga prototipe itu akan ditinjau akan dilihat langsung oleh tim baik ESDM dan juga Mendikti untuk kemudian itu bisa di roll out," tutur dia.

 

Cari Pendanaan

Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) Hybrid Nusa Penida yang mulai beroperasi menjelang gelaran Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G20 November 2022 lalu, hingga saat ini terus konsisten memasok energi bersih bagi sistem kelistrikan PLN di Bali. (Dok. PLN)

Soal pendanaannya, Rosan mengatakan Presiden meminta dia mengkajin berbagai opsim termasuk adanya keterlibatan investasi asing maupun swasta nasional.

"Memang dari Bapak Presiden memberikan arahan agar bisa pembangunan ini dengan beberapa opsi pendanaan yang diminta untuk kami melihat dan mempelajarinya seutuhnya," ujar dia.

Salah satu perhatiannya, yakni investor yang memiliki kemampuan dari aspek teknologi PLTS. "Baik dalam negeri maupun dengan pihak swasta yang punya teknologi dan mempunyai kemampuan dari segi solar (panel) dan baterainya," imbuh Rosan.

 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya