Liputan6.com, Brasilia - Para ilmuwan di Brasil tengah meneliti fenomena unik kawanan kambing yang mampu bertahan hidup—bahkan berkembang biak—selama lebih dari dua abad di pulau terpencil tanpa sumber air tawar yang diketahui.
Kambing-kambing tersebut hidup di Pulau Santa Bárbara, salah satu dari lima pulau vulkanik yang membentuk Kepulauan Abrolhos, sekitar 70 kilometer dari lepas pantai Bahia. Para peneliti menduga hewan itu pertama kali dibawa oleh para penjajah berabad-abad lalu sebagai cadangan makanan, kemudian ditinggalkan ketika pemukiman di pulau itu gagal bertahan.
Advertisement
Catatan sejarah menunjukkan keberadaan kambing di pulau tersebut telah berlangsung lebih dari 250 tahun. Hal ini dianggap luar biasa karena pulau kecil yang kering dan berangin itu tidak memiliki sumber air tawar alami, dikutip dari laman Oddity Central, Minggu (8/3/2026).
Meski hidup dalam kondisi keras, populasi kambing di Santa Bárbara justru berkembang pesat. Namun keberadaan mereka akhirnya dinilai mengancam ekosistem lokal, terutama bagi sejumlah spesies burung laut yang berkembang biak di pulau tersebut.
Bulan lalu, Instituto Chico Mendes de Conservação da Biodiversidade yang mengelola Taman Laut Nasional Abrolhos memindahkan 27 kambing terakhir dari pulau itu. Langkah tersebut diambil setelah para peneliti menyimpulkan bahwa populasi kambing mengganggu keseimbangan ekologis, termasuk memengaruhi tujuh spesies burung laut yang bersarang di sana.
Meski demikian, hewan-hewan tersebut tidak dimusnahkan. Para ilmuwan justru ingin mempelajari kemampuan unik mereka bertahan hidup dengan sedikit—atau bahkan tanpa—air.
“Kami percaya mereka mengembangkan kemampuan adaptasi yang luar biasa untuk bertahan hidup,” kata kepala Taman Laut Nasional Abrolhos, Erismar Rocha.
Rahasia Genetik Mereka Bertahan Hidup
Selama bertahun-tahun penelitian, para ilmuwan mengaku tidak pernah sekalipun melihat kambing-kambing itu minum air. Hal itu memunculkan berbagai hipotesis mengenai cara mereka bertahan hidup.
Sebagian peneliti menduga kambing tersebut mungkin beradaptasi dengan meminum air laut, sementara teori lain menyebut mereka memperoleh cairan dari tanaman lokal bernama Beldroega yang memiliki kandungan air tinggi.
Menariknya, kambing-kambing tersebut tidak hanya bertahan hidup, tetapi juga berkembang dengan baik. Peneliti menemukan sebagian besar kelahiran di pulau itu berupa kelahiran kembar, yang menunjukkan kondisi kesehatan dan nutrisi mereka cukup baik.
Dengan mempelajari populasi kambing dari Santa Bárbara, para ilmuwan berharap dapat memahami mekanisme ketahanan ekstrem hewan tersebut. Temuan itu berpotensi membantu pengembangan ras ternak yang lebih tahan terhadap kekeringan dan perubahan iklim, khususnya di wilayah kering seperti Brasil bagian timur laut.