Tradisi Lebaran dalam Perspektif Syariat, Antara Budaya Nusantara dan Nilai Ibadah

Tradisi Lebaran dalam perspektif syariat menunjukkan bahwa Islam tidak serta-merta menolak adat atau budaya yang ada di tengah masyarakat.

oleh nugroho purboDiterbitkan 20 Maret 2026, 14:20 WIB
Tradisi Lebaran dalam perspektif syariat selalu menarik dibahas karena perayaan Idul Fitri di Indonesia tidak hanya berisi ibadah. (Foto dok: Freepik/rawpixel.com).

Liputan6.com, Jakarta - Tradisi Lebaran dalam perspektif syariat selalu menarik dibahas karena perayaan Idul Fitri di Indonesia tidak hanya berisi ibadah, tetapi juga budaya yang hidup di tengah masyarakat. Tradisi tersebut berkembang turun-temurun dan menjadi bagian dari identitas umat Islam Nusantara. Namun semua itu tetap harus dipahami dengan kacamata ajaran Islam.

Tradisi Lebaran dalam perspektif syariat menunjukkan bahwa Islam tidak serta-merta menolak adat atau budaya masyarakat. Selama tradisi tersebut tidak bertentangan dengan Al-Qur’an dan sunnah, maka ia dapat diterima bahkan dilestarikan. Hal inilah yang membuat budaya lebaran di Indonesia tetap hidup sekaligus selaras dengan nilai agama.

Indonesia dikenal sebagai negara yang kaya tradisi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Banyak tradisi itu muncul dari kebiasaan masyarakat yang kemudian menjadi budaya bersama. Dalam Islam, kebiasaan seperti itu dikenal dengan istilah ‘urf atau adat yang dapat diterima selama tidak bertentangan dengan syariat.

Rasulullah pernah menunjukkan sikap terbuka terhadap tradisi selama tidak melanggar ajaran Islam. Salah satu contohnya terjadi saat Perang Khandaq ketika Salman Al-Farisi mengusulkan strategi menggali parit. Strategi itu berasal dari Persia dan akhirnya diterima oleh Rasulullah sebagai bentuk kebijaksanaan dalam menghadapi musuh.

 

Islam dan Sikap Terhadap Tradisi

Peristiwa tersebut menunjukkan bahwa Islam tidak menutup diri terhadap tradisi dari luar. Selama membawa manfaat dan tidak bertentangan dengan prinsip tauhid, tradisi dapat diadopsi. Hal ini menjadi landasan penting dalam memahami budaya yang berkembang di masyarakat Muslim.

Dalam kesempatan lain, Rasulullah juga memperbolehkan orang-orang Habasyah menampilkan tarian perang di dalam masjid. Peristiwa itu bahkan disaksikan oleh Aisyah yang berdiri di belakang Rasulullah. Ini menunjukkan bahwa unsur budaya bisa hadir dalam kehidupan umat Islam selama tidak melanggar aturan agama.

Namun tidak semua tradisi dapat diterima dalam Islam. Rasulullah menolak perayaan Nairuz dan Mahrajan yang berasal dari Persia karena berisi pesta dan kemaksiatan. Penolakan itu dijelaskan dalam hadis berikut.

إِنَّ اللَّهَ قَدْ أَبْدَلَكُمْ بِهِمَا خَيْرًا مِنْهُمَا يَوْمَ الأَضْحَى وَيَوْمَ الفِطْرِInnallāha qad abdala kum bihimā khairan minhumā yaumal adh-hā wa yaumal fiṭrArtinya: “Allah telah mengganti dua hari raya itu dengan yang lebih baik, yaitu Idul Adha dan Idul Fitri.” (HR. Abu Dawud)

 

Makna Idul Fitri dalam Islam

Hari Raya Idul Fitri menjadi momen kemenangan bagi umat Islam setelah menjalankan puasa Ramadhan. Kemenangan ini bukan sekadar perayaan, tetapi tanda keberhasilan mengendalikan diri selama sebulan penuh. Karena itu Idul Fitri dimaknai sebagai kembali kepada kesucian.

Secara bahasa, Idul Fitri berasal dari kata ‘id yang berarti kembali dan fitri yang berarti suci atau berbuka. Makna tersebut menggambarkan kembalinya manusia kepada keadaan bersih dari dosa. Puasa Ramadhan menjadi proses penyucian diri menuju fitrah tersebut.

Al-Qur’an menjelaskan tujuan puasa dalam firman Allah pada Surah Al-Baqarah ayat 183.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَYā ayyuhalladzīna āmanū kutiba ‘alaikumush shiyāmu la‘allakum tattaqūnArtinya: “Wahai orang-orang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa agar kalian bertakwa.”

 

Tradisi Saling Memaafkan

Salah satu tradisi yang sangat kuat saat lebaran di Indonesia adalah saling meminta maaf. Tradisi ini dilakukan dengan mengunjungi keluarga, tetangga, dan sahabat. Dalam pandangan syariat, sikap memaafkan memang sangat dianjurkan.

Hal ini sesuai dengan firman Allah dalam Surah Ali Imran ayat 134. Ayat tersebut menjelaskan ciri orang yang bertakwa. Salah satunya adalah mampu memaafkan kesalahan orang lain.

وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِWal kāẓimīnal ghaizha wal ‘āfīna ‘anin nāsArtinya: “Orang-orang yang menahan amarah dan memaafkan kesalahan orang lain.”

Ayat tersebut menjadi dasar kuat mengapa tradisi maaf-maafan saat lebaran dianggap baik. Para ulama Nusantara kemudian mendorong masyarakat menjadikannya kebiasaan. Dari sinilah muncul tradisi halal bihalal dan silaturahmi lebaran.

 

Tradisi Memberi THR dan Sedekah

Tradisi lain yang sangat populer saat lebaran adalah pemberian uang kepada anak-anak. Tradisi ini dikenal dengan istilah THR atau salam tempel. Anak-anak biasanya menerima amplop dari orang tua atau kerabat.

Dalam perspektif syariat, tradisi ini termasuk bentuk sedekah dan berbagi kebahagiaan. Al-Qur’an bahkan mendorong umat Islam untuk berinfak dalam berbagai kondisi. Hal ini dijelaskan dalam Surah Ali Imran ayat 134.

الَّذِينَ يُنْفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِAlladzīna yunfiqūna fis sarrā’i wadh dharrā’Artinya: “Orang-orang yang berinfak baik dalam keadaan lapang maupun sempit.”

Karena itu tradisi memberi hadiah atau uang kepada anak-anak saat lebaran tidak bertentangan dengan Islam. Selama dilakukan dengan niat berbagi dan mempererat hubungan keluarga, hal tersebut termasuk perbuatan baik. Bahkan banyak ulama menilai tradisi ini sebagai bentuk ihsan.

 

Tradisi Mudik dan Silaturahmi

Mudik menjadi tradisi khas masyarakat Indonesia menjelang Idul Fitri. Jutaan orang pulang ke kampung halaman untuk bertemu keluarga. Fenomena ini bahkan menjadi peristiwa sosial terbesar setiap tahun.

Dalam Islam, silaturahmi merupakan amalan yang sangat dianjurkan. Rasulullah menyebutkan bahwa silaturahmi dapat memperpanjang umur dan melapangkan rezeki. Karena itu mudik bisa menjadi ibadah jika dilakukan dengan niat mempererat hubungan keluarga.

Selain mudik, masyarakat juga memiliki tradisi ziarah kubur. Mereka datang ke makam orang tua atau leluhur untuk mendoakan mereka. Ziarah kubur sendiri dianjurkan dalam Islam karena dapat mengingatkan manusia pada kehidupan akhirat.

 

Lebaran sebagai Momentum Spiritual

Lebaran bukan sekadar pesta atau perayaan budaya. Hari raya ini adalah momentum spiritual untuk memperbaiki diri. Setelah sebulan berpuasa, umat Islam diharapkan menjadi pribadi yang lebih bertakwa.

Rasulullah bersabda tentang keutamaan puasa Ramadhan.

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِMan shāma Ramadhāna īmānan waḥtisāban ghufira lahu mā taqaddama min dzanbihArtinya: “Siapa yang berpuasa Ramadhan dengan iman dan ikhlas, diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR. Bukhari)

Pengampunan dosa tersebut membuat Idul Fitri menjadi simbol kembali kepada kesucian. Karena itu suasana lebaran selalu diiringi kebahagiaan dan rasa syukur. Umat Islam merayakan kemenangan spiritual setelah menjalani latihan kesabaran selama Ramadhan.

tradisi Lebaran dalam perspektif syariat pada akhirnya menunjukkan bahwa budaya dan agama dapat berjalan berdampingan. Tradisi yang mengandung nilai kebaikan seperti silaturahmi, sedekah, dan saling memaafkan justru memperkuat ajaran Islam. Dengan memahami tradisi Lebaran dalam perspektif syariat, umat Islam dapat menjaga budaya sekaligus tetap berada dalam tuntunan agama.

 

 

People Also Talk

1. Apakah semua tradisi lebaran boleh dalam Islam?

Tidak semua tradisi diperbolehkan dalam Islam. Tradisi yang bertentangan dengan syariat seperti kemaksiatan atau pemborosan harus ditinggalkan. Namun tradisi yang membawa kebaikan seperti silaturahmi, sedekah, dan saling memaafkan justru dianjurkan.

2. Mengapa saling memaafkan menjadi tradisi lebaran?

Karena Islam sangat menekankan pentingnya memaafkan. Al-Qur’an menyebut memaafkan sebagai ciri orang bertakwa. Tradisi ini menjadi cara sosial untuk membersihkan hubungan antar manusia setelah Ramadhan.

3. Apakah memberi THR termasuk sedekah?

Memberi THR atau hadiah saat lebaran termasuk bentuk berbagi rezeki. Jika diniatkan untuk kebaikan dan kebahagiaan keluarga, maka termasuk sedekah. Tradisi ini juga mempererat hubungan antar keluarga.

4. Mengapa umat Islam melakukan mudik saat lebaran?

Mudik dilakukan untuk bertemu keluarga dan mempererat silaturahmi. Islam sangat menganjurkan menjaga hubungan keluarga. Karena itu mudik dapat menjadi ibadah jika dilakukan dengan niat baik.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya