Liputan6.com, Jakarta - Adalah Max Alexander, desainer berusia 10 tahun yang menambah daftar panjang prestasinya di dunia mode di usia begitu muda. Kini, ia dikenal sebagai desainer termuda yang pernah menggelar peragaan busana di Paris Fashion Week (PFW).
"Ini benar-benar masalah besar. Lebih besar, lebih besar, lebih besar, lebih besar, lebih besar, lebih besar dari sekadar masalah besar," kata Max saat berbicara dengan CBS LA, dilansir Kamis, 5 Maret 2026. "Karena Paris adalah rumah bagi mode!"
Advertisement
Perancang mode yang berfokus pada keberlanjutan ini telah menggemparkan dunia pada 2023 sebagai pemegang Rekor Dunia Guinness untuk perancang busana runway termuda. Dengan dimulainya Paris Fashion Week pada Rabu, 4 Maret 2026, ia kini juga jadi desainer termuda yang pernah menggelar peragaan busananya di panggung mode besar.
Meski secara pribadi penuh dengan keisengan anak-anak dan kepribadian yang ceria, dia sangat serius dalam hal mode. "Koleksi saya terdiri dari 15 gaun dan semuanya, yah, 90 persen dari koleksi saya dapat terurai secara alami, dapat didaur ulang, berkelanjutan, terbuat dari stok mati dan surplus," jelas Max.
"Stok mati adalah bahan sisa yang tidak digunakan perusahaan ... Bahan itu akan berakhir di tempat pembuangan sampah jika saya tidak menyelamatkannya." Desain tas terbarunya terjual habis hanya dalam 24 jam, begitu pula dengan set gantungan kunci yang baru-baru ini dirilisnya.
Max mengatakan, melalui semua desainnya, ia fokus pada pelestarian lingkungan sambil memastikan bahwa kreativitas terpancar dari setiap detailnya. "Saya mencoba menyelamatkan lingkungan, dengan kata-kata yang sangat rumit," katanya.
Pencapaian Luar Biasa
Saat CBS LA pertama kali bertemu Max pada 2023, ia baru berusia 7 tahun dan sedang mempersiapkan peragaan busana pertamanya setelah menjadi viral di media sosial. Ketika ibunya membuat akun Instagram untuk desain-desainnya, ia mendapatkan lebih dari satu juta pengikut. Sekarang, ia memiliki hampir enam juta orang yang mengikuti label desainnya.
Saat itu, ia mengatakan bahwa ia mulai menjahit beberapa tahun sebelumnya setelah bermimpi menjadi seorang perancang busana. Dalam mimpi lain, ia adalah mendiang perancang busana terkenal Paolo Gucci. Ketika ibunya berhasil membuat manekin untuk memulai desainnya, hal itu memicu gairah tidak terbantahkan yang kini menjadi fenomena mendunia.
Max membagikan cuplikan singkat perjalanannya di Paris Fashion Week di Instagram, menyoroti pencapaian luar biasa tersebut hanya mungkin terjadi dengan dukungan dari seluruh dunia, yang untuk itu dia "selamanya bersyukur."
Inspirasi Pertamanya
Lahir di California dari pasangan Jack Alexander dan Sherri Madison, Max menemukan inspirasi pertamanya pada adiknya, Samantha, yang kini berusia 14 tahun. "Semua pakaian yang awalnya saya buat adalah untuknya dan melihatnya mengenakannya membuat saya sangat bahagia," katanya pada NDTV.
Yang membedakan Max bukanlah sekadar usianya, tapi metodenya. Ia tidak membuat sketsa, melainkan menata kain. "Saya suka menata kain. Rasanya seperti memahat," katanya. Kain langsung berpindah dari imajinasi ke manekin.
Selama tujuh tahun, ia telah melewati cetak biru desain konvensional, lebih memilih membentuk di atas manekin, membiarkan gerakan membimbingnya. Bagaimana sebuah karya mengalir lebih penting daripada bagaimana tampilannya di atas kertas.
Satu ide sering melahirkan ide lain, berkembang secara organik menjadi sebuah koleksi yang terasa menyenangkan karena memang dirancang seperti itu.
Pendekatan Naluriah
Selama lebih dari tujuh tahun, pendekatan naluriah ini telah menghasilkan lebih dari 150 desain berupa gaun, jaket, syal, tas, kimono, setelan jas, bahkan boneka binatang. Selebritas, termasuk Sharon Stone, Debra Messing, dan Willow Shields telah mengenakan karyanya.
Di dalam bengkel labelnya, Couture To The Max, ide-ide terus mengalir. "Mungkin beberapa malaikat juga membantu saya," katanya, menambahkan sedikit sentuhan magis ke dalam ruangan yang kacau namun penuh kreativitas.
Di balik keceriaan Max, tersembunyi sebuah tujuan. Pada September 2024, di usia delapan tahun, Max berpidato di Perserikatan Bangsa-Bangsa tentang keberlanjutan dalam industri mode.
Ia berbicara tentang memikirkan kembali material, penggunaan kembali, dan pembuatan pakaian yang tahan lama. "Ada banyak kain dan pakaian indah yang bisa dibuat menjadi sesuatu yang baru," katanya. "Jika dibuat dengan baik, akan tahan lama."