Bitcoin Bergejolak Imbas Perang Iran-AS, Hal Ini Jadi Sorotan

Perang Iran-AS berdampak kesejumlah sektor tersebut kripto.

oleh Gagas Yoga PratomoDiterbitkan 06 Maret 2026, 06:00 WIB
Ilustrasi harga Kripto. (Foto By AI)

Liputan6.com, Jakarta - Ketegangan di Timur Tengah meningkat setelah konflik yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran sejak Sabtu (28/2/2026). Situasi tersebut berkembang dengan penutupan Selat Hormuz jalur penting bagi sekitar 20 persen perdagangan minyak global serta serangan balasan Iran terhadap fasilitas Amerika Serikat di sejumlah negara Teluk, seperti Bahrain, Qatar, Kuwait, Irak, dan Uni Emirat Arab.

Perkembangan tersebut turut memengaruhi pasar energi. Harga minyak dilaporkan naik hingga sekitar USD 80 per barel, yang kemudian memicu sentimen risk-off di sejumlah kelas aset dan meningkatkan kekhawatiran pasar terhadap inflasi serta gangguan pasokan global.

Di tengah kondisi tersebut, harga emas dunia tercatat menguat di kisaran USD 5.100 per troy ons seiring meningkatnya permintaan terhadap aset safe haven. Sementara itu, saham teknologi Amerika Serikat mengalami penguatan terbatas. Pasar kripto yang beroperasi selama 24 jam juga menunjukkan respons cepat terhadap perubahan sentimen investor.

Data CoinMarketCap menunjukkan Bitcoin sempat turun ke level USD 63.100 pada akhir pekan, sebelum naik ke sekitar USD 70.000 di awal pekan dan kemudian bergerak di kisaran USD 68.000. Kapitalisasi pasar kripto global saat ini berada di sekitar USD 2,33 triliun.

Vice President INDODAX, Antony Kusuma, menilai pergerakan harga tersebut mencerminkan sensitivitas pasar terhadap dinamika geopolitik dan kondisi makroekonomi.

“Lonjakan dan koreksi dalam hitungan hari menunjukkan pasar sedang sangat headline-driven. Dalam situasi seperti ini, sentimen global dan dinamika kebijakan menjadi faktor utama yang memengaruhi pergerakan aset berisiko, termasuk saham dan kripto,” ujarnya dalam keterangan resmi, Jumat (6/3/2025).

 

Investor Bersikap Hati-Hati

Aset kripto Bitcoin, Altcoin, hingga Meme Coin. (Ilustrasi By AI)

Pada fase awal gejolak, investor umumnya cenderung bersikap lebih berhati-hati untuk menjaga likuiditas. Dalam situasi ketidakpastian yang berlanjut, sebagian investor mulai mempertimbangkan aset yang dinilai lebih defensif. 

Antony menuturkan bahwa menghindari keputusan berbasis FOMO serta menerapkan diversifikasi portofolio dan manajemen risiko secara disiplin menjadi langkah yang dapat dipertimbangkan.

“Dalam kondisi pasar yang tidak menentu, diversifikasi portofolio menjadi salah satu pendekatan yang banyak dilakukan, termasuk mengalihkan sebagian eksposur ke aset kripto yang lebih stabil seperti stablecoin Tether (USDT) atau USD Coin (USDC), atau aset kripto berbasis emas seperti Tether Gold (XAUT) yang tengah menguat, sembari tetap menjaga alokasi terukur pada aset utama,” jelas Antony.

 

Jaga Likuiditas

INDODAX juga menyampaikan bahwa pihaknya tetap berupaya menjaga likuiditas dan keamanan sistem, serta mendorong peningkatan edukasi terkait risiko investasi. Selain itu, platform tersebut mengingatkan investor untuk tetap melakukan riset mandiri sebelum mengambil keputusan investasi dan memperhatikan pengelolaan risiko.

"Di saat pasar penuh tekanan makro seperti sekarang, strategi investasi bertahap atau Dollar Cost Averaging (DCA) tetap menjadi opsi paling bijak untuk memitigasi volatilitas," pungkas Antony. 

 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya