Tiga Prediksi Hasil Perang Iran vs AS dan Israel

Di balik perang antara AS dan Israel vs Iran muncul kekhawatiran mengenai arah dan akhir konflik tersebut.

oleh Tim GlobalDiterbitkan 05 Maret 2026, 14:38 WIB
Iran meluncurkan gelombang serangan rudal dan drone balistik ke wilayah Israel pada Sabtu 28 Februari 2026 malam, hingga Minggu 1 Maret 2026 dini hari waktu setempat. Tampak dalam foto, jejak-jejak pencegahan rudal pertahanan udara terlihat di Tel Aviv, Israel, Sabtu 28 Februari 2026. (AP Photo/Ohad Zwigenberg)

Liputan6.com, Jakarta - Dunia internasional menyoroti langkah Presiden AS Donald Trump yang melancarkan operasi militer besar-besaran di Iran dalam beberapa hari terakhir. Di balik operasi itu, muncul kekhawatiran ke mana arah dan akhir konflik tersebut?

Melansir CNN, Kamis (5/3/2026), sejumlah analis menilai retorika yang digunakan Trump dan jajaran kabinetnya dalam konflik AS dengan Iran telah membangkitkan ingatan komunitas internasional atas strategi lama Presiden George W. Bush pasca-serangan 11 September 2001.

Menurut mereka, kemiripan retorika tersebut yang akhirnya menimbulkan kekhawatiran bahwa pemerintah AS saat ini belum sepenuhnya belajar dari pengalaman pahit dari konflik sebelumnya.

Taruhan besar Presiden Donald Trump dalam memulai perang bersama Israel terhadap Iran juga terlihat dari berbagai kemungkinan hasil yang dapat terjadi. Terlebih, konflik ini telah menyebabkan tewasnya Pemimpin Tertinggi Iran Ayatullah Ali Khamenei.

Risikonya pun sangat besar, ini bisa berpotensi memicu kekacauan luas di Timur Tengah, menewaskan ribuan warga sipil, hingga ancaman serangan teror baru terhadap warga Amerika di masa depan.

Namun di sisi lain, ada pula kemungkinan berbeda bagi Trump. Ia bisa saja meraih kemenangan strategis jika mampu melemahkan ancaman regional dari Iran yang merupakan musuh Amerika selama hampir 50 tahun dan memicu lahirnya perubahan politik di negara tersebut.

“Perang yang diluncurkan Trump ini tidak beralasan dan ilegal. Itu tidak berarti pasti akan gagal,” kata Sejarawan dan pakar kebijakan luar negeri Max Boot dalam konferensi daring Council on Foreign Relations, seperti dikutip dari CNN, Kamis (5/3/2026).

Tiga Kemungkinan Besar

Para analis menilai setidaknya ada tiga kemungkinan besar yang dapat terjadi:

1. Skenario paling optimistis adalah serangan udara yang berlangsung beberapa hari mampu memicu pemberontakan rakyat Iran terhadap pemerintah. Jika itu terjadi, perubahan politik di Iran berpotensi mengubah keseimbangan kekuatan di Timur Tengah.

2. Kemungkinan kedua adalah skenario yang lebih rumit. Para pemimpin Iran yang tersisa dapat membangun kembali rezim baru. Namun operasi militer Amerika tetap dapat dianggap berhasil jika mampu menghancurkan kemampuan nuklir, rudal, dan militer Iran yang selama ini menjadi ancaman regional.

3. Skenario terburuk adalah Iran mengalami kekacauan seperti Libya setelah runtuhnya pemerintahan pusat. Kekosongan kekuasaan dapat memicu perang saudara, krisis pengungsi, hingga risiko bahan nuklir jatuh ke tangan kelompok ekstremis.

Ke Mana Konflik Ini Berujung?

Kepulan asap membubung setelah ledakan yang dilaporkan terjadi di Teheran, Iran, pada 28 Februari 2026. Dua ledakan keras terdengar di Teheran, Iran, pada 28 Februari 2026 pagi hari. (Foto oleh AFP)

Di sisi lain, Sejumlah analis menilai arah konflik antara Amerika Serikat dan Iran masih dipenuhi ketidakpastian. Pemerintahan Trump disebut beberapa kali mengubah alasan di balik keputusan melancarkan perang tersebut.

Awalnya, Trump menyatakan tujuan konflik adalah mengganti rezim di Iran dan memberikan kebebasan kepada rakyatnya. Ia juga berjanji menghancurkan program nuklir Iran, meski sebelumnya sempat mengklaim program tersebut telah berhasil dilumpuhkan.

Di sisi lain, Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth menegaskan bahwa operasi militer dilakukan untuk membalas kematian warga Amerika akibat serangan teror yang dilakukan Iran atau milisi yang didukung Teheran selama pendudukan Amerika di Irak.

Sementara itu, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menyatakan serangan dilakukan sebagai langkah pencegahan. Menurutnya, Israel telah bersiap menyerang Iran dan pasukan Amerika di kawasan berpotensi menjadi sasaran balasan.

Perbedaan penjelasan tersebut memunculkan keraguan di kalangan pengamat mengenai tujuan sebenarnya dari operasi militer itu.

“Tidak benar-benar ada strategi yang jelas. Dan kita perlu mendengar langsung dari presiden apa yang sebenarnya ia inginkan,” kata Senator Partai Demokrat Jeanne Shaheen kepada CNN, Senin.

Menurut Shaheen, konflik ini memang bisa menjadi titik balik bagi kawasan Timur Tengah jika berakhir sukses. Namun hingga kini, hasil akhirnya masih sulit dipastikan.

Tujuan Perang yang Belum Jelas

Meski terlihat membingungkan, sebagian analis menilai ketidakjelasan tujuan justru memberi ruang politik bagi Trump. Dengan target yang tidak terlalu spesifik, ia memiliki peluang untuk mengklaim kemenangan kapan saja.

Trump juga tampaknya berusaha menghindari pelajaran pahit dari perang besar Amerika sebelumnya, seperti di Irak dan Afghanistan, yang berubah menjadi konflik darat berkepanjangan.

Namun para pengamat menilai sulit menemukan contoh di mana serangan udara saja mampu menjatuhkan rezim dan melahirkan pemerintahan baru yang stabil.

Belakangan, Trump mulai mempersempit tujuan militernya. Ia menyatakan operasi Amerika Serikat berfokus menghancurkan angkatan laut Iran, program rudal, serta ambisi nuklir negara tersebut.

Baik Trump maupun Hegseth juga menyiratkan bahwa rakyat Iran memiliki peran dalam menentukan masa depan negaranya.

“Saya pikir pesan presiden sudah jelas. Kepada rakyat Iran: ini adalah momen Anda,” kata Hegseth.

 

Iran yang Melemah?

Kombinasi gambar yang dibuat pada tanggal 22 Juni 2025 menggunakan citra satelit yang dirilis oleh Maxar Technologies menunjukkan fasilitas pengayaan nuklir Isfahan milik Iran pada tanggal 16 Juni 2025 (atas), dan fasilitas pengayaan nuklir Isfahan milik Iran di Iran bagian tengah setelah serangan AS pada tanggal 22 Juni 2025. (Citra satelit ©2025 Maxar Technologies/AFP)

Peneliti senior di Council on Foreign Relations, Elliott Abrams, menilai rezim Iran kemungkinan akan mengalami perubahan besar jika perang berakhir dengan melemahnya kekuatan militernya.

Menurut Abrams, Iran berpotensi kehilangan sebagian besar kemampuan militernya, termasuk program nuklir, peluncur rudal, hingga kekuatan angkatan laut.

Jika itu terjadi, dampaknya bisa meluas secara geopolitik. Iran selama ini menjadi bagian dari poros anti-Barat bersama Rusia dan China. Melemahnya Teheran juga dapat mengurangi aliran drone dan rudal Iran ke militer Rusia dalam perang di Ukraina.

Risiko Salah Perhitungan

Meski demikian, banyak analis mengingatkan bahwa skenario optimistis sering kali runtuh ketika berhadapan dengan realitas kompleks di Timur Tengah.

Amerika Serikat sebelumnya juga mencoba berbagai strategi untuk memenangkan perang di Afghanistan dan Irak, termasuk meningkatkan jumlah pasukan. Namun pada akhirnya Washington tetap menarik diri dari kedua konflik tersebut.

Ironisnya, Trump sendiri pernah mengkritik kebijakan intervensi tersebut. Dalam kunjungannya ke Arab Saudi, ia mengatakan para “pembangun negara” justru sering merusak lebih banyak negara daripada yang mereka bangun.

Namun para pengamat menilai Trump juga berisiko melakukan kesalahan perhitungan lain. Ia dinilai terlalu menekan Iran dalam negosiasi nuklir dengan menuntut penyerahan total, tanpa memberi ruang bagi pemimpin Iran untuk menyelamatkan muka secara politik.

Peluang runtuhnya rezim Iran juga dianggap kecil. Negara tersebut memiliki sistem keamanan yang kuat dan menembus hampir seluruh lapisan masyarakat.

Bahkan jika serangan udara melemahkan aparat keamanan, kelompok oposisi di Iran masih dinilai belum memiliki kepemimpinan yang cukup terorganisasi untuk mengambil alih kekuasaan.

 

Infografis Kronologi Perang Iran vs Israel dan Amerika Serikat. (Liputan6.com/Abdillah)

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya