Tukang Ojek hingga Sopir Angkot di Jabar Dilarang 'Narik' Selama Masa Mudik Lebaran

Demi mengatur lalu lintas agar tidak terjadi kepadatan, tukang ojek hingga sopir angkot di Jabar dilarang beroperasi selama masa mudik Lebaran.

oleh Dikdik RipaldiDiterbitkan 05 Maret 2026, 12:06 WIB
Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi

Liputan6.com, Bandung - Tukang ojek, sopir angkot, hingga tukang becak di Jawa Barat dilarang beroperasi selama masa mudik Lebaran. Hal tersebut merupakan bagian dari upaya pengaturan arus lalu lintas.

Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi mengatakan, mereka yang diliburkan itu khusus yang berada di jalur lintas mudik Lebaran, diminta tidak bekerja selama sepekan.

"Pemerintah Provinsi Jawa Barat mengambil kebijakan untuk meliburkan tukang ojek, sopir angkot, andong, becak yang berada di jalur lintasan mudik libur selama seminggu, ya," katanya lewat keterangan media, Kamis (5/3/2025).

Sementara, bagi mereka yang biasa beroperasi di jalur wisata seperti Lembang atau Puncak Bogor, juga diminta untuk libur hingga seminggu setelah Lebaran.

"Karena biasanya pariwisata meningkat dan berpotensi menimbulkan kemacetan, termasuk di jalur puncak," jelasnya.

Pemerintah Provinsi Jawa Barat pun diaku akan menyiapkan uang pengganti bagi mereka yang tidak bisa bekerja. Dalam keterangannya, Dedi belum menjelaskan besaran uang pengganti tersebut.

"Pada saat mudik bisa tinggal di rumah bersama keluarganya dan mendapat uang pengganti selama seminggu tidak bekerja," katanya.

Sebelumnya, Dedi Mulyadi menegaskan, Pemerintah Provinsi Jabar tidak akan membebani kepolisian dalam pengamanan arus mudik. Pihaknya justru akan membantu kelancaran arus mudik dengan cara memberikan kompensasi kepada pengemudi angkutan kota, becak, dan andong di jalur mudik agar tidak beroperasi sementara.

"Pemprov Jabar tidak akan membebani Polri terlalu berat saya sudah lapor ke Pak Kapolda seluruh jalur mudik yang ada angkot, becak, andong dan berbagai hal lainnya akan diliburkan menjelang dan setelah idul fitri," ujar Dedi, Rabu (4/3/2026).

Dengan begitu, arus mudik di wilayah Jabar tidak ada penyumbatan sehingga masyarakat yang akan menuju Jawa Tengah dan Jawa Timur bisa melewati Jabar dengan nyaman.

 

 

Strategi Atur Lalu Lintas

 

Polda Jawa Barat mulai mematangkan strategi besar guna menjamin kelancaran arus lalu lintas. Kapolda Jabar, Irjen Rudi Setiawan, menegaskan bahwa koordinasi lintas sektoral akan segera difinalisasi melalui Rapat Koordinasi sejak awal Maret ini.

Dalam pengamanan tahun ini, beberapa bentuk pengamanan masa mudik di antaranya adalah menjadikan masjid-masjid strategis di sepanjang jalur arteri sebagai Pos Pelayanan. Bekerja sama dengan TNI, posko ini dirancang agar pemudik bisa beristirahat dengan lebih nyaman dan khidmat.

"Kami akan membangun pos di masjid-masjid tertentu yang layak. Masyarakat dapat singgah untuk beristirahat. Insya Allah, kami siapkan sedikit minuman dan makanan ringan ala kadarnya, seperti singkong rebus, untuk membantu memulihkan tenaga teman-teman pemudik," ujar Irjen Rudi Setiawan, Minggu lalu (1/3/2026).

Langkah ini diambil untuk menekan angka kecelakaan yang sering dipicu oleh kelelahan pengemudi, terutama mereka yang melintasi jalur non-tol.

Di sektor jalan bebas hambatan, Tol Cipali diprediksi tetap menjadi titik paling krusial. Konsentrasi kendaraan dari arah Jakarta menuju Jawa Tengah dipastikan mengalami peningkatan signifikan. Untuk mengantisipasi hal tersebut, Polda Jabar akan menerapkan rekayasa lalu lintas berskala nasional di bawah kendali Korlantas Polri.

"Sama seperti tahun lalu, konsentrasi utama adalah jalan tol. Nanti akan diberlakukan one waynasional, one way sepenggal, hingga rekayasa lokal sesuai kebutuhan di lapangan," jelas Kapolda.

Selain badan jalan, area istirahat (rest area) juga mendapat perhatian khusus guna mencegah penumpukan kendaraan yang dapat mengunci arus lalu lintas.

Bagi pemudik jalur Selatan, titik-titik klasik seperti Nagreg, Naringgul, hingga Gentong masih dipetakan sebagai zona langganan kepadatan. Polda Jabar menyiagakan personel di simpul-simpul tersebut untuk memastikan volume kendaraan yang melonjak tetap dapat mengalir.

Kapolda menambahkan bahwa fokus kepolisian tidak hanya terpaku di jalan raya. Pengamanan juga mencakup:

  • Lingkungan Permukiman: Patroli intensif untuk menjaga rumah-rumah yang ditinggal mudik oleh pemiliknya.
  • Tempat Ibadah: Menjamin keamanan pelaksanaan sholat Idul Fitri di seluruh wilayah Jawa Barat.
  • Destinasi Wisata: Pengawasan pada arus balik dan lokasi hiburan pasca-Lebaran.

"Kami ingin ibadah Idul Fitri ini berlangsung aman, termasuk kediaman masyarakat yang ditinggal mudik. Semua menjadi fokus pengamanan kami," pungkasnya.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya