AS Akui Tidak Semua Drone Iran Bisa Ditembak Jatuh

Drone murah dinilai telah menjadi game changer bagi Iran karena menciptakan ketimpangan ekonomi dan taktis yang luar biasa menguntungkan mereka.

oleh Khairisa FeridaDiterbitkan 05 Maret 2026, 11:50 WIB
Iran meluncurkan gelombang serangan rudal dan drone balistik ke wilayah Israel pada Sabtu 28 Februari 2026 malam, hingga Minggu 1 Maret 2026 dini hari waktu setempat. Tampak dalam foto, jejak-jejak pencegahan rudal pertahanan udara terlihat di Tel Aviv, Israel, Sabtu 28 Februari 2026. (AP Photo/Ohad Zwigenberg)

Liputan6.com, Washington, DC - Pejabat militer tertinggi Amerika Serikat (AS) memberi tahu para anggota parlemen bahwa militer AS kemungkinan tidak dapat menembak jatuh setiap drone Iran yang diluncurkan untuk menyerang instalasi dan aset militer AS. Informasi itu disampaikan dalam sebuah pengarahan tertutup kepada anggota Kongres pada Selasa (3/3/2026), menurut dua orang yang mengetahui isi pertemuan tersebut.

Dalam pengarahan itu, para pejabat yang dipimpin oleh Ketua Kepala Staf Gabungan Jenderal Dan Caine menjelaskan bahwa Iran telah mengerahkan ribuan drone serangan satu arah. Mereka menyatakan bahwa militer AS mampu menjatuhkan sebagian besar drone tersebut, tetapi tidak semuanya.

Karena itu, militer AS kini memfokuskan upaya pada penghancuran lokasi peluncuran drone dan rudal konvensional Iran secepat mungkin. Dua sumber yang mengetahui pertemuan tersebut berbicara dengan syarat anonim karena pembahasan menyangkut informasi sensitif.

Serangan drone itu merupakan bentuk balasan Iran atas serangan militer AS sebelumnya. Dalam serangan balasan tersebut, Iran meluncurkan drone Shahed berbiaya rendah yang dirancang sebagai drone serangan satu arah.

Drone ini dinilai lebih sulit dideteksi oleh sistem pertahanan udara konvensional dibandingkan rudal balistik karena terbang rendah dan bergerak lebih lambat. Karakteristik tersebut membuatnya lebih mampu menghindari sistem pertahanan udara.

Seorang pejabat senior pemerintahan mengatakan strategi Iran yang tampaknya bertujuan memaksa AS menggunakan sistem pencegat canggih seperti Patriot dan Thaad dinilai keliru dan tidak berhasil. Menurut pejabat tersebut, AS justru berhasil menjatuhkan drone-drone itu dengan berbagai metode pertahanan yang berbeda.

Meski demikian, sejumlah anggota Partai Demokrat di Kongres menyampaikan kekhawatiran bahwa AS telah menghabiskan banyak rudal pencegat (interseptor) untuk mempertahankan diri dari serangan rudal balistik yang diluncurkan Iran. Kekhawatiran tersebut diakui oleh Jenderal Caine, menurut seseorang yang mengetahui pembahasan itu, meskipun secara terbuka ia tetap menyatakan keyakinannya terhadap tingkat persediaan amunisi.

Dalam konferensi pers di Pentagon pada Rabu (4/3) pagi, Caine mengatakan AS masih memiliki cukup amunisi presisi untuk menjalankan operasi militer yang sedang berlangsung.

"Kami memiliki cukup amunisi presisi untuk tugas yang ada saat ini, baik untuk serangan maupun pertahanan," kata Caine seperti dikutip dari laporan The Guardian, tanpa memberikan rincian atau angka spesifik mengenai jumlah persediaan tersebut.

Senator Mark Kelly dari Partai Demokrat menggambarkan situasi yang ada sebagai "masalah matematika" karena Iran memiliki stok drone yang sangat besar dan murah untuk diproduksi. Sebaliknya, rudal pencegat AS seperti Patriot sangat mahal dan jumlahnya terbatas. Dengan ribuan drone yang diluncurkan secara bersamaan, sistem pertahanan udara dapat mengalami kewalahan, sehingga beberapa drone berhasil menembus celah pertahanan.

 

Biaya Operasi Militer dan Klaim Stok Senjata AS

Presiden Amerika Serikat Donald Trump saat berada di Roosevelt Room, Gedung Putih, Rabu (10/12/2025). (Dok. AP/Evan Vucci)

Tingginya intensitas serangan juga berdampak pada besarnya biaya yang harus dikeluarkan. Pada hari-hari awal perang, Amerika Serikat dilaporkan menghabiskan sekitar USD 2 miliar per hari. Menurut seseorang yang mengetahui analisis awal Departemen Pertahanan, angka tersebut kini telah turun menjadi sekitar USD 1 miliar per hari dan diperkirakan akan terus menurun seiring berlanjutnya konflik. 

Seorang juru bicara Gedung Putih tidak segera memberikan tanggapan ketika dimintai komentar mengenai laporan tersebut. Sementara itu, juru bicara Ketua Kepala Staf Gabungan menolak berkomentar dengan alasan keamanan operasional.

Pada Senin (2/3) malam, Presiden Donald Trump menulis di media sosial bahwa AS dapat mempertahankan tingkat penggunaan senjata saat ini tanpa batas waktu. Ia menyebut persediaan amunisi "kelas menengah dan menengah atas" hampir tidak terbatas.

Namun, Trump juga mengakui bahwa stok senjata pada kategori "paling canggih" belum berada pada tingkat yang diinginkan.

Dalam konferensi pers pada Rabu, Sekretaris Pers Gedung Putih Karoline Leavitt mengatakan AS memiliki persediaan senjata yang lebih dari cukup untuk menghadapi perang berkepanjangan dengan Iran. Ia juga menyatakan bahwa unggahan Trump tersebut merupakan kritik terhadap keputusan pemerintahan Joe Biden yang mengirimkan senjata ke Ukraina.

"Kami memiliki persediaan senjata di tempat-tempat yang bahkan tidak diketahui banyak orang di dunia ini," kata Leavitt.

"Presiden hanya menunjukkan bahwa, sayangnya, selama empat tahun kami memiliki pemimpin yang sangat bodoh dan tidak kompeten di Gedung Putih yang memberikan banyak senjata terbaik kami secara cuma-cuma."

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya