Liputan6.com, Jakarta - PT Sarana Multigriya Finansial (Persero) (SMF) kembali menegaskan fundamental keuangannya setelah memperoleh hasil pemeringkatan tahunan dari PT Pemeringkat Efek Indonesia (PEFINDO).
Berdasarkan hasil rapat panitia pemeringkat pada 2 Maret 2026, berbagai instrumen utang dan sukuk yang diterbitkan perseroan mendapatkan peringkat tertinggi idAAA dan idAAA(sy).
Advertisement
Mengutip laman Keterbukaan informasi BEI, Kamis (5/3/2026), hasil pemeringkatan efek tersebut diterbitkan pada 3 Maret 2026 dan diterima oleh emiten pada 4 Maret 2026.
Peringkat berlaku untuk periode 2 Maret 2026 hingga 1 Maret 2027, dengan dasar penilaian menggunakan laporan keuangan audit per 31 Desember 2024 dan laporan keuangan tidak diaudit per 30 September 2025.
Dalam laporan yang disampaikan PT SMF, PEFINDO menetapkan peringkat idAAA (Triple A) atas Obligasi Berkelanjutan VI Tahap I Tahun 2021 Seri B hingga Tahap IV Tahun 2023, serta Obligasi Berkelanjutan VII Tahap I Tahun 2023 Seri B dan Seri C hingga Tahap VIII Tahun 2025 Seri B. Termasuk pula Obligasi Berkelanjutan VIII Tahap I Tahun 2025 Seri A dan Seri B serta Tahap II Tahun 2026 Seri A dan Seri B. Total nilai obligasi yang memperoleh peringkat idAAA tersebut mencapai Rp 17,56 triliun.
Tak hanya obligasi konvensional, instrumen syariah juga memperoleh pengakuan serupa. Sukuk Musyarakah Berkelanjutan I Tahap I Tahun 2023 serta Sukuk Musyarakah Berkelanjutan II Tahap I Tahun 2025 dan Tahap II Tahun 2026 meraih peringkat idAAA(sy) dengan total nilai Rp 1,42 triliun.
"Instrumen pendanaan syariah dengan peringkat idAAA(sy) adalah instrumen dengan peringkat paling tinggi yang diberikan oleh PEFINDO. Kemampuan emiten untuk memenuhi komitmen keuangan jangka panjang atas kontrak pendanaan syariah dibandingkan emiten Indonesia lainnya adalah superior," tulis laporan PT SMF.
Obligasi Berwawasan Sosial
Selain instrumen reguler, PEFINDO juga memberikan peringkat idAAA kepada Obligasi Berwawasan Sosial Berkelanjutan I Tahap I Tahun 2023 hingga Tahap IV Tahun 2024 serta Obligasi Berwawasan Sosial Berkelanjutan II Tahap I Tahun 2025. Total nilai instrumen ini mencapai Rp 6,85 triliun.
Peringkat tersebut menegaskan bahwa dari sisi kapasitas pembayaran kewajiban finansial, instrumen berwawasan sosial SMF tetap berada pada level tertinggi.
Namun demikian, PEFINDO menegaskan bahwa peringkat tidak mencakup sertifikasi wawasan sosial (social certification) atas efek utang tersebut.
Apabila terjadi penurunan sertifikasi sosial yang berpotensi memicu percepatan pelunasan pokok atau kenaikan kupon sesuai ketentuan yang berlaku, maka PEFINDO akan melakukan pemantauan terhadap peringkat obligor maupun efek utang yang diterbitkan.
Sukuk Musyarakah Berwawasan Sosial
Sementara itu, Sukuk Musyarakah Berwawasan Sosial Berkelanjutan I Tahap I Tahun 2023 dan Sukuk Musyarakah Berwawasan Sosial Berkelanjutan II Tahap I Tahun 2025 dengan total nilai Rp 450 miliar juga memperoleh peringkat idAAA(sy).
Seperti halnya obligasi sosial, peringkat ini tidak mencakup aspek sertifikasi sosialnya, namun tetap menegaskan kekuatan fundamental dan kapasitas pembayaran jangka panjang perseroan.
“Peringkat tidak berlaku atas sertifikasi wawasan sosial (social certification) dari efek utang ini. Jika terjadi penurunan sertifikasi wawasan sosial (social certification) yang bisa berdampak pada percepatan pelunasan pokok dan/atau kenaikan tingkat kupon atas surat utang ini sesuai ketentuan yang berlaku, maka PEFINDO akan melakukan pemantauan terhadap peringkat yang sudah diberikan kepada obligor maupun efek utang yang diterbitkan," tulis laporan SMF.