Fitch Pangkas Outlook Indonesia, BI: Fundamental Ekonomi RI Tetap Solid

Fitch mempertahankan rating Indonesia BBB namun menurunkan outlook menjadi negatif. Bank Indonesia menilai fundamental ekonomi tetap kuat.

oleh Arthur GideonDiterbitkan 04 Maret 2026, 19:30 WIB
Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo bersiap menyampaikan hasil Rapat Dewan Gubernur (RGD) Bank Indonesia di Jakarta, Kamis (19/12/2019). RDG tersebut, BI memutuskan untuk tetap mempertahankan suku bunga acuan 7 Days Reverse Repo Rate (7DRRR) sebesar 5 persen. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Liputan6.com, Jakarta - Lembaga pemeringkat global Fitch Ratings mempertahankan sovereign credit rating atau peringkat utang Republik Indonesia di level BBB dengan kategori investment grade. Namun, Fitch menyesuaikan outlook Indonesia dari stabil menjadi negatif pada 4 Maret 2026.

Dalam laporannya, Fitch menilai afirmasi rating BBB mencerminkan rekam jejak Indonesia dalam menjaga stabilitas makroekonomi serta prospek pertumbuhan jangka menengah yang dinilai masih solid.

Selain itu, rasio utang pemerintah terhadap produk domestik bruto (PDB) yang relatif rendah serta ketahanan sektor eksternal yang memadai turut menjadi faktor yang menopang peringkat tersebut.

Meski demikian, revisi outlook menjadi negatif didorong oleh pandangan Fitch terkait meningkatnya ketidakpastian kebijakan serta kekhawatiran terhadap konsistensi dan kredibilitas kebijakan ekonomi Indonesia.

Menanggapi keputusan tersebut, Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo menegaskan bahwa keputusan Fitch mempertahankan rating BBB menunjukkan kepercayaan global terhadap fundamental ekonomi Indonesia.

“Afirmasi rating Indonesia pada BBB merefleksikan kepercayaan global terhadap fundamental ekonomi Indonesia yang tetap kuat. Penyesuaian outlook diyakini tidak mencerminkan pelemahan fundamental perekonomian Indonesia,” ujar Perry Warjiyo dalam keterangan tertulis, Rabu (4/3/2026).

Ia menambahkan bahwa prospek perekonomian Indonesia tetap kuat dan memiliki daya tahan di tengah ketidakpastian global yang meningkat.

 

BI: Pertumbuhan Ekonomi dan Stabilitas Tetap Terjaga

Gubernur BI Perry Warjiyo memberikan penjelasan kepada wartawan di Jakarta, Kamis (20/6/2019). RDG Bank Indonesia 19-20 Juni 2019 memutuskan untuk mempertahankan BI7DRR sebesar 6,00%, suku bunga Deposit Facility sebesar 5,25%, dan suku bunga Lending Facility sebesar 6,75%.(Liputan6.com/Angga Yuniar)

Menurut Perry Warjiyo, kekuatan ekonomi Indonesia tercermin dari sejumlah indikator utama yang tetap terjaga.

Pertumbuhan ekonomi domestik dinilai masih solid meski ketidakpastian global meningkat. Selain itu, inflasi tetap terkendali, termasuk inflasi inti yang berada pada level rendah.

Stabilitas nilai tukar rupiah juga terus diperkuat melalui kebijakan stabilisasi yang dilakukan Bank Indonesia di pasar Non Deliverable Forward (NDF) luar negeri, serta melalui transaksi spot dan Domestic NDF (DNDF) di pasar domestik.

Selain itu, stabilitas sistem keuangan nasional juga dinilai tetap terjaga.

Hal ini didukung oleh kondisi likuiditas perbankan yang memadai, permodalan bank yang kuat, serta risiko kredit yang relatif rendah.

“Stabilitas sistem keuangan juga tetap terjaga baik, ditopang likuiditas yang memadai, permodalan perbankan yang terjaga pada level tinggi, serta risiko kredit yang rendah,” ujar Perry.

Ia juga menyoroti perkembangan digitalisasi sistem pembayaran yang semakin luas dengan dukungan infrastruktur yang stabil serta struktur industri yang sehat.

Menurutnya, faktor tersebut turut memperkuat momentum pertumbuhan ekonomi nasional.

 

Prospek Ekonomi Indonesia Tetap Positif

Ke depan, Bank Indonesia memprakirakan prospek pertumbuhan ekonomi Indonesia dalam jangka menengah tetap kuat dan cenderung meningkat.

Pada 2026, pertumbuhan ekonomi diperkirakan berada pada kisaran 4,9 persen hingga 5,7 persen, dan diproyeksikan meningkat pada 2027, dengan inflasi yang tetap terkendali sesuai sasaran.

Dari sisi eksternal, ketahanan ekonomi Indonesia juga dinilai tetap kuat di tengah gejolak global.

Hal ini tercermin dari Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) yang tetap sehat serta didukung oleh kinerja neraca perdagangan yang solid.

Cadangan devisa Indonesia pada akhir Januari 2026 tercatat mencapai USD 154,6 miliar.

Jumlah tersebut setara dengan pembiayaan 6,3 bulan impor atau 6,1 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah, jauh di atas standar kecukupan internasional sekitar tiga bulan impor.

Bank Indonesia juga memperkirakan defisit transaksi berjalan pada 2026 tetap rendah, yakni dalam kisaran 0,1 persen hingga 0,9 persen terhadap PDB.

Ke depan, Bank Indonesia akan terus memperkuat bauran kebijakan guna menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan serta mendorong pertumbuhan ekonomi berkelanjutan.

Upaya tersebut dilakukan melalui sinergi dengan Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) dan program pembangunan pemerintah, serta melalui koordinasi erat dengan pemerintah untuk menjaga kepercayaan pasar.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya