Iran Perluas Serangan Balasan terhadap Target Strategis AS dan Israel

Mana saja yang menjadi titik-titik target serangan balasan Iran? Berikut selengkapnya.

oleh Khairisa FeridaDiterbitkan 04 Maret 2026, 11:47 WIB
Serangan ini merupakan balasan langsung atas serangan udara skala besar yang dilakukan oleh militer Israel dan Amerika Serikat (AS) terhadap Teheran dan wilayah Iran lainnya pada Sabtu 28 Februari 2026 pagi. Tampak dalam foto, jejak-jejak pencegahan rudal pertahanan udara terlihat di Tel Aviv, Israel, Sabtu 28 Februari 2026. (AP Photo/Ohad Zwigenberg)

Liputan6.com, Teheran - Iran melancarkan serangkaian operasi militer terkoordinasi pada Selasa (3/3/2026) di berbagai wilayah Asia Barat dengan menargetkan aset militer Amerika Serikat (AS) dan Israel. Operasi ini disebut sebagai bagian dari serangan balasan yang sedang berlangsung dalam eskalasi konflik di kawasan.

Operasi militer tersebut melibatkan beberapa cabang angkatan bersenjata Iran, termasuk Pasukan Dirgantara dan Pasukan Darat Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), Angkatan Laut IRGC (IRGC-N), Pasukan Darat IRGC, serta unit-unit dari Angkatan Darat Republik Islam Iran (Artesh). Demikian seperti dikutip dari Al Mayadeen.

Salah satu operasi menargetkan pangkalan Korps Marinir AS di Camp Arifjan, Kuwait. Dalam serangan yang disebut sebagai operasi gabungan drone dan rudal, pasukan Iran meluncurkan 10 drone ke pangkalan tersebut.

Menurut perkiraan pihak Iran, lebih dari 160 marinir AS berada di lokasi saat serangan terjadi. Penilaian awal dari pihak Iran menyebutkan bahwa terdapat lebih dari 100 korban akibat serangan itu. Hingga saat ini, belum ada konfirmasi resmi dari pemerintah AS mengenai jumlah korban.

Pada saat fajar di hari yang sama, Iran melakukan operasi drone dan rudal berskala besar terhadap Pangkalan Udara Sheikh Isa di Bahrain. Dalam serangan ini, 10 lokasi strategis dilaporkan menjadi sasaran. Target meliputi pusat komando dan kendali udara, depot bahan bakar pesawat, serta tempat tinggal yang digunakan oleh para komandan senior militer AS.

Iran mengumumkan pula bahwa radar sistem pertahanan rudal THAAD kedua di Asia Barat tepatnya di Pangkalan Udara Al-Udeid, Qatar, yaitu radar AN/TPY2, berhasil dihantam rudal presisi sehingga tidak lagi berfungsi.

Sumber Iran menambahkan bahwa radar THAAD di Al-Ruwais, Uni Emirat Arab, juga telah dihancurkan sehari sebelumnya.

 

Drone Israel Ditembak Jatuh di Iran

Iran meluncurkan gelombang serangan rudal dan drone balistik ke wilayah Israel pada Sabtu 28 Februari 2026 malam, hingga Minggu 1 Maret 2026 dini hari waktu setempat. Tampak dalam foto, jejak-jejak pencegahan rudal pertahanan udara terlihat di Tel Aviv, Israel, Sabtu 28 Februari 2026. (AP Photo/Ohad Zwigenberg)

Di wilayah udara Iran, sistem pertahanan udara IRGC dilaporkan menembak jatuh sebuah drone Hermes milik Israel di atas Khorramabad. Selain itu, sebuah drone Hermes-900 yang dilengkapi sistem peperangan elektronik juga berhasil dicegat dan ditangkap dalam kondisi utuh.

Secara terpisah, unit pertahanan udara Artesh menembak jatuh tujuh drone tambahan milik Israel. Dengan demikian, jumlah total drone Israel dan AS yang ditembak jatuh selama konfrontasi yang sedang berlangsung disebut telah mencapai sedikitnya 35 unit.

Operasi Drone di Irak dan Serangan di Samudra Hindia

Di Irak, Pasukan Darat IRGC meluncurkan 30 drone ke posisi kelompok bersenjata separatis di Kurdistan Irak. Menurut pernyataan pihak Iran, kelompok tersebut tengah merencanakan operasi infiltrasi ke wilayah Iran.

Sementara itu, Angkatan Laut IRGC menyatakan telah menargetkan sebuah kapal perusak Angkatan Laut AS menggunakan rudal jelajah Qadr-360 dan Talaeiyeh.

Menurut keterangan IRGC-N, kapal perusak itu sedang melakukan operasi pengisian bahan bakar di Samudra Hindia, sekitar 650 kilometer dari pantai Iran, saat serangan terjadi. IRGC-N melaporkan bahwa rudal tersebut menghantam kapal perusak dan kapal pengisian bahan bakar milik Angkatan Laut AS, sehingga memicu kebakaran di kedua kapal.

Serangan IRGC ke Target Israel

Pada Selasa malam, Pasukan Dirgantara IRGC juga melaksanakan serangan rudal dan drone yang disebut sebagai "serangan efektif" terhadap wilayah tengah dan utara wilayah Palestina yang diduduki Israel.

Serangan tersebut merupakan gelombang ke-17 dari operasi yang disebut "Operation True Promise 4".

IRGC dalam pernyataannya menyebutkan bahwa serangan itu diarahkan ke markas besar staf umum militer Israel dan kompleks kementerian keamanan yang berada di HaKirya. Selain itu, infrastruktur di kota Bnei Brak turut menjadi sasaran.

Target militer tambahan dilaporkan berada di Petah Tikva, timur laut Tel Aviv, serta sebuah pusat militer di wilayah Al-Jalil Barat.

Klaim Korban di Pihak Israel

Warga sipil berlindung di stasiun bawah tanah di Haifa pada Minggu 1 Maret 2026, di tengah kekhawatiran akan serangan Iran. Sirene serangan udara bergema di seluruh penjuru negeri Israel, termasuk di kota-kota besar seperti Tel Aviv, Yerusalem, Haifa, dan Beer Sheva. (Jalaa MAREY/AFP)

Berdasarkan penilaian intelijen dan pemantauan lapangan yang dikutip IRGC, lebih dari 680 tentara Israel disebut telah tewas atau terluka sejak awal konfrontasi saat ini.

IRGC menyatakan bahwa adanya celah teknis serta menurunnya efektivitas sistem pertahanan udara berlapis milik Israel memungkinkan rudal dan drone Iran menembus jauh ke wilayah yang diduduki dan menghantam target dengan presisi tinggi.

Dalam pernyataan tersebut, IRGC menegaskan bahwa Angkatan Bersenjata Iran akan terus melaksanakan operasi yang diperhitungkan untuk melemahkan infrastruktur militer Israel. Iran juga menyatakan komitmennya untuk melanjutkan operasi tersebut hingga apa yang mereka sebut sebagai "tumor kanker" sepenuhnya dihapus dari kawasan.   

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya