Liputan6.com, Jakarta - Banyak orang tidak menyadari bahwa ada berbagai kebiasaan boros saat Ramadan tanpa disadari yang justru membuat pengeluaran membengkak. Padahal, bulan ini identik dengan menahan diri, termasuk dalam hal keuangan.
Tanpa perencanaan yang baik, pengeluaran kecil yang terasa wajar bisa menumpuk menjadi beban besar. Karena itu, penting bagi Anda untuk mengenali pola konsumsi selama Ramadan agar tetap hemat dan terkontrol.
Advertisement
Berdasarkan pengamatan Liputan6.com, Rabu (04/03/2026) inilah beberapa kebiasaan yang umum membuat boros di bulan Ramadan.
1. Lapar mata saat buka puasa
Saat waktu berbuka tiba, keinginan membeli berbagai makanan sering kali meningkat drastis. Anda mungkin membeli lebih banyak dari yang dibutuhkan, mulai dari gorengan, minuman manis, hingga makanan berat.
Kondisi ini sering membuat makanan terbuang karena tidak habis dikonsumsi. Untuk mengatasinya, cobalah membuat daftar menu sebelum berbuka dan batasi pembelian hanya pada 2 hingga 3 jenis makanan saja. Dengan begitu, Anda bisa lebih fokus dan mengurangi pemborosan.
2. Terlalu sering bukber di luar
Ajakan buka bersama memang sulit ditolak, apalagi jika datang dari teman dekat atau rekan kerja. Namun, frekuensi bukber yang terlalu sering bisa menguras anggaran secara signifikan.
Satu kali makan di luar bisa menghabiskan Rp50.000 hingga Rp150.000 per orang. Jika dilakukan 5 hingga 8 kali dalam sebulan, jumlahnya cukup besar. Solusinya, batasi jadwal bukber dan pilih alternatif seperti potluck atau berbuka di rumah.
3. Belanja lebaran
Momen lebaran sering dikaitkan dengan kebutuhan baru seperti baju, sepatu, hingga dekorasi rumah. Tanpa disadari, Anda bisa membeli barang yang sebenarnya tidak terlalu dibutuhkan.
Pengeluaran ini bisa mencapai jutaan rupiah jika tidak direncanakan. Untuk menghindari kebiasaan boros saat Ramadan tanpa disadari, buat anggaran khusus dan prioritaskan kebutuhan utama. Gunakan prinsip membeli seperlunya, bukan sekadar keinginan.
4. Pesta kembang api
Menjelang malam takbiran, sebagian orang mengalokasikan dana untuk membeli kembang api. Meski terlihat menyenangkan, pengeluaran ini sebenarnya tidak memberikan manfaat jangka panjang.
Harga kembang api bisa berkisar dari puluhan ribu hingga ratusan ribu rupiah. Anda bisa mengalihkan dana tersebut untuk kebutuhan yang lebih penting, seperti sedekah atau tabungan.
5. Terlalu mengandalkan THR
Tunjangan Hari Raya sering dianggap sebagai dana tambahan yang bebas digunakan. Akibatnya, banyak orang menghabiskan THR tanpa perencanaan yang jelas.
Padahal, THR sebaiknya dibagi untuk beberapa kebutuhan seperti tabungan, zakat, dan keperluan lebaran. Solusinya, buat alokasi sejak awal, misalnya 40 persen untuk kebutuhan, 30 persen tabungan, dan sisanya untuk keperluan lain.
6. Membuat hampers berlebihan
Memberikan hampers memang menjadi tradisi yang menyenangkan saat Ramadan dan lebaran. Namun, membuat atau membeli hampers dalam jumlah berlebihan bisa membebani keuangan.
Biaya satu hampers bisa mencapai Rp100.000 hingga Rp500.000 tergantung isi dan kemasan. Anda bisa menyiasatinya dengan membuat hampers sederhana atau membatasi jumlah penerima. Fokus pada kualitas dan makna, bukan kuantitas.
Frequently Asked Question (FAQ)
Apa saja kebiasaan boros saat Ramadan tanpa disadari?
Beberapa di antaranya adalah lapar mata saat berbuka, terlalu sering bukber, dan belanja berlebihan untuk lebaran. Kebiasaan ini sering dianggap wajar padahal bisa menguras keuangan.
Bagaimana cara menghindari kebiasaan boros saat Ramadan?
Anda bisa membuat anggaran, mencatat pengeluaran, dan menentukan prioritas kebutuhan. Disiplin dalam mengikuti rencana sangat penting.
Apakah bukber termasuk pengeluaran yang boros?
Tidak selalu, tetapi jika terlalu sering dilakukan, bukber bisa menjadi sumber pemborosan. Batasi frekuensinya agar tetap terkontrol.
Bagaimana cara mengelola THR agar tidak cepat habis?
Bagi THR ke beberapa pos seperti kebutuhan, tabungan, dan sedekah. Hindari menghabiskan semuanya untuk belanja konsumtif.