Penambangan Emas Ilegal di Hutan Mandailing Natal Terbongkar, 14 Ekskavator Jadi Barang Bukti

Dalam operasi besar-besaran ini, polisi menyita 14 ekskavator serta meringkus tujuh pekerja yang diduga kuat terlibat dalam aktivitas ilegal tersebut.

oleh Reza EfendiDiterbitkan 03 Maret 2026, 16:38 WIB
Lokasi penambangan emas ilegal di hutan Mandailing Natal

Liputan6.com, Jakarta - Kepolisian Daerah Sumatera Utara (Polda Sumut) membongkar penambangan emas tanpa izin (peti) di Kecamatan Siabu, Kabupaten Mandailing Natal (Madina). Dalam operasi besar-besaran ini, petugas menyita 14 ekskavator serta meringkus tujuh pekerja yang diduga kuat terlibat dalam aktivitas ilegal tersebut.

Dansat Brimob Polda Sumut, Kombes Rantau Isnur Eka, menceritakan bahwa lokasi tambang tersebut sengaja dipilih pelaku di wilayah yang sangat terisolasi. Petugas harus berjibaku dengan waktu dan medan yang berat untuk mencapai titik lokasi.

"Jarak tempuhnya kurang lebih 12 jam berjalan kaki dari permukiman warga. Kalau pakai motor modifikasi, tim butuh waktu sekitar tiga setengah jam," kata Rantau, Selasa (3/3/2026).

Meski persiapan matang, operasi ini sempat terkendala dugaan kebocoran informasi. Saat tim pendobrak tiba, para pelaku tampak sudah menyadari kedatangan petugas dan berusaha melarikan diri ke dalam hutan.

"Saat penyergapan, sepertinya informasi sedikit bocor. Mereka berhamburan ke arah seberang. Namun, kami berhasil mengamankan 12 ekskavator di lokasi utama, dan 2 unit lainnya saat sedang dimobilisasi," jelasnya.

Pendalaman Aktor Intelektual

Ketujuh orang yang ditangkap kini tengah menjalani pemeriksaan intensif di Mapolda Sumut. Polisi fokus mendalami peran masing-masing, apakah mereka sekadar pekerja lapangan atau bagian dari struktur organisasi pemodal tambang ilegal tersebut.

Rantau mengimbau warga agar tidak nekat melakukan penambangan ilegal demi keuntungan sesaat namun mengorbankan masa depan lingkungan.

"Kerusakan hutan di hulu adalah bom waktu bencana. Mari kita jaga alam agar tidak terjadi banjir dan bencana alam lainnya bagi anak cucu kita," pungkasnya.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya