Israel Balas Serangan Hizbullah, 52 Orang Tewas di Lebanon

Lebih dari 150 orang lainnya terluka akibat serangan Israel.

oleh Khairisa FeridaDiterbitkan 03 Maret 2026, 12:01 WIB
Kepulan asap membubung setelah ledakan yang dilaporkan terjadi di Teheran, Iran, pada 28 Februari 2026. Dua ledakan keras terdengar di Teheran, Iran, pada 28 Februari 2026 pagi hari. (Foto oleh AFP)

Liputan6.com, Beirut - Sedikitnya 52 orang tewas dan 154 lainnya mengalami luka-luka dalam serangkaian serangan udara Israel di Beirut dan wilayah selatan Lebanon pada Senin (3/3/2026). Demikian menurut otoritas Lebanon seperti dikutip dari laporan kantor berita Anadolu.

Dalam pernyataan resminya, Unit Manajemen Bencana pemerintah Lebanon menyebutkan bahwa pesawat tempur Israel telah melancarkan 221 serangan udara di berbagai wilayah negara itu sejak Senin dini hari. Sebelumnya, Kementerian Kesehatan Lebanon melaporkan jumlah korban tewas sebanyak 31 orang dan 149 lainnya terluka. Namun, data terbaru menunjukkan peningkatan jumlah korban jiwa dan korban luka akibat intensitas serangan yang terus berlangsung.

Serangan tersebut terjadi setelah kelompok Hizbullah menyatakan menargetkan sebuah lokasi militer di Israel utara dengan rentetan roket dan drone. Hizbullah menyebut serangan itu sebagai respons atas serangan Israel yang terus berlangsung di Lebanon serta operasi militer gabungan Amerika Serikat (AS) dan Israel terhadap Iran.

AS dan Israel diketahui telah melanjutkan serangan berskala besar terhadap Iran sejak Sabtu (28/2). Dalam operasi tersebut, sejumlah pemimpin tinggi Iran dilaporkan tewas, termasuk Pemimpin Tertinggi Ayatullah Ali Khamenei serta sejumlah pejabat militer senior lainnya.

Sejak gencatan senjata antara Israel dan Hizbullah mulai berlaku pada akhir November 2024, Israel disebut melakukan pelanggaran hampir setiap hari di wilayah Lebanon. Pelanggaran tersebut dilaporkan telah menewaskan ratusan orang.

Israel memulai ofensifnya terhadap Lebanon pada Oktober 2023. Konflik tersebut kemudian meningkat menjadi perang skala penuh pada September 2024. Sejak saat itu, lebih dari 4.000 orang dilaporkan tewas dan sekitar 17.000 lainnya mengalami luka-luka akibat konflik yang berkepanjangan tersebut.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya