Bursa Asia Dibuka Melemah di Tengah Konflik Iran

Bursa Asia dibuka melemah di tengah konflik Iran. Harga minyak naik usai kabar penutupan Selat Hormuz.

oleh Arthur GideonDiterbitkan 03 Maret 2026, 08:20 WIB
Seorang wanita berjalan melewati layar monitor yang menunjukkan indeks bursa saham Nikkei 225 Jepang dan lainnya di sebuah perusahaan sekuritas di Tokyo. (AP Photo/Eugene Hoshiko)

Liputan6.com, Jakarta - Bursa Asia dibuka melemah pada perdagangan Selasa, seiring konflik Iran yang memasuki hari keempat tanpa tanda-tanda mereda.

Harga minyak melanjutkan kenaikan setelah muncul laporan bahwa Iran telah menutup Selat Hormuz. Minyak mentah AS naik 0,15% ke level USD 71,33 per barel, sementara Brent melonjak 7,14% menjadi USD 78,07 per barel.

Data Kpler menunjukkan lebih dari 14 juta barel minyak per hari melintasi Selat Hormuz sepanjang tahun lalu. Angka itu setara dengan hampir sepertiga total ekspor minyak laut dunia, menjadikan jalur tersebut sangat vital bagi perdagangan energi global.

Mengutip CNBC, Selasa (3/3/2026), di Korea Selatan, indeks Kospi turun hampir 2%. Namun, saham sektor pertahanan justru melonjak tajam, dengan Hanwha Aerospace naik 11% saat pembukaan perdagangan.

Bursa Australia, S&P/ASX 200, dibuka melemah 0,57%, setelah sehari sebelumnya menjadi salah satu dari sedikit pasar yang mencatat kenaikan tipis.

Sementara itu, indeks Nikkei 225 Jepang turun 0,42% dan Topix melemah 0,76%. Di Hong Kong, kontrak berjangka Hang Seng berada di level 26.109, lebih tinggi dibandingkan penutupan sebelumnya di 26.059,85.

Wall Street Mampu Bangkit

Ekspresi pialang Michael Gallucci saat bekerja di New York Stock Exchange, Amerika Serikat, Rabu (11/3/2020). Bursa saham Wall Street jatuh ke zona bearish setelah indeks Dow Jones turun 20,3% dari level tertingginya bulan lalu. (AP Photo/Richard Drew)

Bursa saham Amerika Serikat (AS) atau Wall Street menutup perdagangan Senin dengan pergerakan terbatas setelah sempat tertekan tajam di awal sesi menyusul serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir pekan.

Mengutip CNBC, Selasa (3/3/2026), Indeks S&P 500 naik tipis 0,04% ke level 6.881,62, setelah sebelumnya sempat anjlok hingga 1,2%.

Nasdaq Composite menguat 0,36% menjadi 22.748,86, meski sempat turun 1,6% dalam sesi perdagangan. Sementara itu, Dow Jones Industrial Average turun 73,14 poin atau 0,15% ke 48.904,78, setelah sebelumnya sempat merosot hampir 600 poin.

Pemulihan pasar didorong oleh beberapa faktor, di antaranya harga minyak AS yang turun dari level tertinggi harian sehingga meredakan kekhawatiran dampak perang terhadap ekonomi.

 

Saham Teknologi

Selain itu, investor agresif memborong saham-saham teknologi unggulan seperti Nvidia dan Microsoft yang dinilai memiliki fundamental kuat dan cadangan kas besar.

CEO KKM Financial Jeff Kilburg mengatakan, pasar berjangka sempat bereaksi berlebihan terhadap konflik Iran.

“Pasar berjangka bereaksi berlebihan terhadap konflik Iran, menciptakan peluang untuk membeli S&P 500 saat mendekati level terendah 2026,” ujarnya.

“Kami tetap berada dalam tren pasar bullish meskipun ketegangan geopolitik meningkat,” tambahnya.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya