Liputan6.com, Beijing - Pemerintah China pada Senin (2/3/2026) menyerukan gencatan senjata segera dan pembukaan jalur diplomasi untuk mengakhiri konflik di Timur Tengah yang telah memasuki hari ketiga. Seruan tersebut disampaikan di tengah eskalasi ketegangan setelah Israel dan Amerika Serikat (AS) melakukan serangan terhadap Iran dan Lebanon, dengan dampak konflik meluas ke negara-negara tetangga di kawasan.
Serangan gabungan AS dan Israel pada hari pertama, yakni pada Sabtu (28/2), turut menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran Ayatullah Ali Khamenei.
Advertisement
Juru bicara Kementerian Luar Negeri China Mao Ning dalam konferensi pers di Beijing menegaskan bahwa penghentian operasi militer menjadi prioritas utama saat ini.
"Tugas yang paling mendesak adalah segera menghentikan operasi militer dan mencegah meluas serta menyebarnya konflik," ujar Mao seperti dikutip dari laporan CNA.
Konflik tersebut turut berdampak pada warga negara China. Mao mengungkapkan bahwa satu warga China tewas akibat konflik di Teheran, Iran. Namun, Mao tidak memberikan rincian lebih lanjut mengenai identitas korban.
Kementerian Luar Negeri China telah menginstruksikan Kedutaan Besar China di Iran untuk memberikan bantuan kepada individu yang terdampak serta keluarganya. Langkah ini dilakukan sebagai bagian dari upaya perlindungan terhadap warga negara China di luar negeri.
Terkait operasi militer AS, Mao menyatakan bahwa Beijing tidak menerima pemberitahuan sebelumnya.
Seiring memburuknya situasi keamanan, pemerintah China pada pekan lalu telah memperingatkan warganya agar untuk sementara waktu tidak melakukan perjalanan ke Iran. Hingga Senin, lebih dari 3.000 warga negara China dilaporkan telah meninggalkan Iran.
Sementara itu, Garda Revolusi Iran menyatakan akan meluncurkan operasi "paling ganas" dalam sejarah terhadap Israel dan pangkalan AS yang berada di negara-negara Teluk. Negara-negara tersebut sebelumnya telah mengalami dampak dari serangkaian serangan mematikan Iran yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Di tengah ketegangan yang meningkat, Presiden AS Donald Trump dijadwalkan melakukan kunjungan ke China pada 31 Maret hingga 2 April. Kunjungan tersebut merupakan perjalanan pertamanya ke negara tersebut dalam masa jabatan keduanya.
Menanggapi rencana kunjungan itu, Mao mengatakan bahwa Beijing dan Washington masih menjaga komunikasi terkait interaksi antara para pemimpin kedua negara. Namun, ia tidak memberikan rincian lebih lanjut mengenai agenda maupun pembahasan yang akan dilakukan.