Liputan6.com, Jakarta - Cara menjaga pakan ternak saat musim hujan menjadi perhatian penting bagi peternak, terutama ketika curah hujan tinggi dan kelembapan udara meningkat drastis. Tanpa pengelolaan yang tepat, kualitas pakan bisa menurun dalam waktu singkat dan berdampak langsung pada kesehatan ternak. Kondisi inilah yang membuat cara menjaga pakan ternak saat musim hujan tidak bisa dianggap sepele.
“Musim hujan itu bukan cuma soal kandang becek, tapi juga soal pakan cepat rusak,” ujar Suranta, peternak di Jumapolo, Karanganyar. Menurutnya, banyak kerugian terjadi bukan karena ternak sakit sejak awal, melainkan karena pakan yang kualitasnya menurun tanpa disadari.
Advertisement
Selain itu, banyak peternak baru menyadari masalah setelah pakan berubah bau atau berjamur. Padahal, langkah pencegahan bisa dilakukan sejak awal. Untuk lebih jelasya, berikut ini telah Liputan6 susun informasi lengkapnya, pada Senin (2/3).
Kelembapan Tinggi, Ancaman Utama Kualitas Pakan
Musim hujan identik dengan udara lembap dan sirkulasi yang kurang optimal. Kondisi ini sangat mendukung pertumbuhan jamur dan bakteri pada bahan pakan, terutama pakan kering seperti dedak, jagung giling, konsentrat, dan pelet. Dalam situasi seperti ini, pakan yang tampak normal dari luar belum tentu aman dikonsumsi.
Kelembapan yang terserap ke dalam karung atau wadah penyimpanan akan mempercepat proses pembusukan. Jika dibiarkan, pakan akan berubah warna, menggumpal, dan menimbulkan bau tidak sedap. Lebih berbahaya lagi, beberapa jenis jamur menghasilkan racun yang tidak terlihat secara kasat mata.
Karena itu, menjaga kualitas pakan saat musim hujan bukan hanya soal menghindari pemborosan, tetapi juga melindungi ternak dari risiko keracunan dan gangguan pencernaan.
Pentingnya Manajemen Penyimpanan yang Lebih Ketat
Pada musim kemarau, penyimpanan pakan mungkin tidak terlalu bermasalah. Namun saat musim hujan, standar penyimpanan harus ditingkatkan. Ruangan penyimpanan sebaiknya benar-benar kering, memiliki ventilasi cukup, dan tidak bocor.
Karung pakan tidak boleh langsung bersentuhan dengan lantai semen atau tanah. Gunakan alas kayu, bambu, atau palet untuk mencegah uap air meresap. Jarakkan karung dari dinding untuk menghindari lembap dari rembesan.
Suranta menekankan bahwa kesalahan kecil sering berakibat besar. “Kadang cuma karena lantai lembap, pakan jadi rusak semua,” katanya.
Selain itu, sistem pembelian bertahap menjadi solusi bijak. Hindari menyimpan pakan dalam jumlah besar jika kondisi gudang belum benar-benar aman dari kelembapan.
Mengelola Hijauan agar Tidak Membahayakan Ternak
Bagi peternak sapi, kambing, dan domba, hijauan merupakan pakan utama. Namun saat musim hujan, rumput yang baru dipanen cenderung basah dan memiliki kadar air sangat tinggi. Jika langsung diberikan, ternak berisiko mengalami kembung atau gangguan pencernaan.
Untuk itu, hijauan perlu dilayukan terlebih dahulu di tempat teduh. Proses pelayuan membantu mengurangi kadar air berlebih dan menstabilkan struktur seratnya. Selain itu, hijauan tidak boleh ditumpuk terlalu tebal karena dapat menimbulkan panas dan pembusukan dari dalam.
Penyimpanan sementara hijauan juga harus terlindung dari tampias hujan. Air yang terus mengenai rumput akan mempercepat proses fermentasi liar yang tidak terkendali.
Mengenali Tanda Pakan Tidak Layak Konsumsi
Peternak perlu lebih peka terhadap perubahan kualitas pakan selama musim hujan. Tanda-tanda pakan tidak layak antara lain muncul bau apek, tekstur menggumpal, warna berubah, atau muncul bercak putih dan hitam akibat jamur.
Jika tanda tersebut terlihat, sebaiknya pakan tidak diberikan meskipun jumlahnya masih banyak. Kerugian akibat membuang pakan jauh lebih kecil dibanding risiko ternak sakit.
Suranta mengingatkan agar tidak memaksakan penggunaan pakan yang meragukan kualitasnya. “Kalau ragu, lebih baik jangan dipakai,” ujarnya.
Silase sebagai Solusi Cadangan
Musim hujan sebenarnya bisa dimanfaatkan untuk menyiapkan cadangan pakan dalam bentuk silase. Ketika hijauan melimpah, sebagian bisa diolah dan disimpan dalam kondisi kedap udara. Dengan teknik yang benar, silase dapat bertahan berbulan-bulan dan menjadi solusi saat kondisi cuaca tidak menentu.
Namun prosesnya harus disiplin, mulai dari pencacahan, pemadatan, hingga penutupan rapat agar tidak kemasukan air. Silase yang baik beraroma asam segar dan tidak berjamur.
Pemantauan Harian Tetap Menjadi Kunci
Cara menjaga pakan ternak saat musim hujan tidak berhenti pada penyimpanan saja. Pemantauan harian terhadap nafsu makan ternak juga penting dilakukan. Jika ternak tiba-tiba kurang lahap, bisa jadi kualitas pakan menurun meskipun belum terlihat jelas.
Perubahan perilaku makan sering menjadi indikator awal adanya masalah pada pakan. Dengan pengawasan rutin, peternak bisa segera melakukan evaluasi sebelum masalah berkembang lebih besar.
Musim hujan memang meningkatkan risiko kerusakan pakan, tetapi dengan manajemen yang lebih disiplin, kualitas pakan tetap dapat dijaga. Penyimpanan yang kering, pengelolaan hijauan yang tepat, serta pengawasan rutin menjadi langkah penting agar ternak tetap sehat dan produktif.
Mengelola pakan dengan baik di musim hujan bukan hanya soal bertahan, tetapi juga menjaga keberlanjutan usaha ternak dalam jangka panjang.
Tanya Jawab Seputar Menjaga Pakan Ternak Saat Musim Hujan
1. Mengapa pakan ternak lebih mudah rusak saat musim hujan?
Karena kelembapan udara meningkat dan suhu cenderung tidak stabil. Kondisi ini mempercepat pertumbuhan jamur dan bakteri, terutama pada pakan kering seperti dedak, jagung giling, dan konsentrat.
2. Berapa lama pakan kering aman disimpan saat musim hujan?
Idealnya tidak lebih dari 1–2 minggu, tergantung kondisi gudang. Semakin lembap ruangan penyimpanan, semakin pendek masa simpannya.
3. Apakah pakan yang sedikit berbau masih boleh diberikan?
Tidak disarankan. Bau apek atau asam yang tidak wajar bisa menjadi tanda awal pertumbuhan jamur. Lebih aman memisahkan dan tidak menggunakannya.