Bitcoin Lebih Tahan Dibanding Saham Asia di Tengah Gejolak Serangan Iran

Di tengah aksi jual aset berisiko dan lumpuhnya Selat Hormuz, Bitcoin menunjukkan ketahanan di level USD 66.500, mengungguli performa indeks saham mayor.

oleh Gagas Yoga PratomoDiterbitkan 02 Maret 2026, 15:00 WIB
Ilustrasi Bitcoin (iStockPhoto)

Liputan6.com, Jakarta - Pasar saham Asia melemah pada Senin setelah serangan militer AS dan Israel ke Iran memicu lonjakan harga minyak dan aksi jual aset berisiko. Di tengah tekanan tersebut, Bitcoin justru bertahan relatif lebih baik dan diperdagangkan di kisaran USD 66.500, setelah akhir pekan bergerak volatil antara USD 63.000 hingga USD 68.000.

Melansir Yahoo Finance, Senin (2/3/2026), penutupan efektif Selat Hormuz sempat mendorong harga minyak mentah Brent melonjak hingga 13% di awal perdagangan. Kondisi ini memicu kekhawatiran investor global dan mendorong peralihan ke aset safe haven.

Bursa Asia Sempat Tertekan

Indeks Nikkei Jepang sempat jatuh lebih dari 2% di awal sesi sebelum memangkas kerugian. Indeks Hang Seng Hong Kong dan Straits Times Singapura juga turun lebih dari 2%, sementara Shanghai terkoreksi tipis 0,45%.

Saham maskapai seperti Qantas, Singapore Airlines, dan Japan Airlines merosot lebih dari 5% akibat lonjakan biaya bahan bakar dan gangguan rute penerbangan. Sebaliknya, saham sektor energi Tiongkok seperti PetroChina justru menguat seiring kenaikan harga minyak.

Di pasar komoditas, kenaikan tajam minyak mulai mereda pada tengah hari. Kontrak berjangka indeks AS juga memangkas penurunan, sementara harga emas naik 1,76%.

Di tengah tekanan tersebut, Bitcoin yang turun sekitar 2,2% tetap mencatatkan kinerja lebih baik dibanding kontrak berjangka saham dan mayoritas indeks Asia.

 

Kripto Bergejolak Sepanjang Akhir Pekan

Ilustrasi Bitcoin (Ist)

Gejolak kripto dimulai Sabtu setelah serangan ke sejumlah target di Iran yang menewaskan Ayatollah Ali Khamenei. Bitcoin sempat anjlok di bawah USD 64.000 dan kapitalisasi pasar kripto menyusut sekitar USD 128 miliar akibat likuidasi di pasar derivatif.

Harga kemudian sempat pulih ke atas USD 68.000 pada Minggu, sebelum kembali turun ke bawah USD 66.000 setelah Iran melancarkan serangan balasan ke wilayah Teluk.

Pada Senin pagi waktu Asia, Bitcoin diperdagangkan di sekitar USD 66.543 dengan volume 24 jam mencapai USD 43,6 miliar, mencerminkan tingginya aktivitas menjelang pembukaan pasar AS.

 

Selat Hormuz Jadi Sorotan

Ilustrasi aset kripto Bitcoin. (Foto By AI)

Risiko terbesar pasar saat ini adalah terganggunya jalur Selat Hormuz, yang dilalui sekitar 20% pengiriman minyak laut global. Laporan menunjukkan lalu lintas kapal tanker hampir berhenti dan beberapa kapal diserang di sekitar Teluk Persia.

Sejumlah ekonom memperingatkan, jika penutupan berlangsung lama, harga minyak bisa terdorong hingga USD 108 per barel.

OPEC+ mencoba meredakan kekhawatiran dengan mengumumkan tambahan produksi 206.000 barel per hari mulai April oleh Arab Saudi, Rusia, Irak, UEA, dan anggota lainnya. Namun analis menilai tambahan pasokan belum tentu efektif jika distribusi minyak dari kawasan Teluk tetap terganggu.

 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya