Liputan6.com, Jakarta - Morgan Stanley, bank investasi raksasa Wall Street yang mengelola hampir USD 9 triliun aset, tengah menjajaki pengembangan layanan aset digital secara menyeluruh. Layanan tersebut mencakup penyimpanan (custody), perdagangan (trading), pinjaman (lending), hingga produk imbal hasil (yield) berbasis Bitcoin (BTC).
Dikutip dari beincrypto, Sabtu (28/2/2026), langkah ini dinilai sebagai sinyal kuat bahwa Bitcoin semakin terintegrasi dalam sistem keuangan global, bukan lagi sekadar instrumen spekulatif.
Advertisement
Dengan basis nasabah yang luas—mulai dari investor ritel, individu beraset tinggi (high-net-worth individuals), hingga institusi besar—masuknya Morgan Stanley ke layanan Bitcoin akan memberikan akses langsung ke aset kripto melalui institusi yang teregulasi dan terpercaya.
Amy Oldenburg, Head of Digital Asset Strategy Morgan Stanley, mengonfirmasi bahwa bank tersebut berencana membangun solusi kustodian dan bursa (exchange) secara internal.
Dalam perbincangan dengan CEO Strategy (sebelumnya MicroStrategy), Phong Le, ia juga menyebut layanan imbal hasil dan pinjaman berbasis Bitcoin tengah dalam tahap eksplorasi.
Penambahan produk yield dan lending dinilai akan memperluas utilitas Bitcoin, tidak hanya sebagai aset simpanan, tetapi juga sebagai instrumen yang dapat menghasilkan pendapatan.
Disclaimer: Setiap keputusan investasi ada di tangan pembaca. Pelajari dan analisis sebelum membeli dan menjual Kripto. Liputan6.com tidak bertanggung jawab atas keuntungan dan kerugian yang timbul dari keputusan investasi.
Sinyal Integrasi Bitcoin ke Sistem Keuangan Global
Langkah Morgan Stanley ini bukan terjadi secara tiba-tiba. Sebelumnya, bank tersebut telah merekrut sejumlah tenaga profesional yang fokus pada kripto, termasuk di bidang Decentralized Finance (DeFi) dan infrastruktur tokenisasi. Hal ini menunjukkan strategi ekspansi aset digital yang lebih luas.
Pada Januari 2026, Morgan Stanley juga mengajukan pendaftaran exchange-traded fund (ETF) spot berbasis Bitcoin, Ethereum, dan Solana ke Komisi Sekuritas dan Bursa AS (SEC).
Data River juga menunjukkan bahwa sejumlah institusi keuangan besar seperti Fidelity Investments, Bank of America, dan Morgan Stanley merekomendasikan alokasi 1–5% portofolio klien ke Bitcoin.
Langkah Morgan Stanley ini mengikuti tren yang lebih luas, di mana bank-bank besar mulai memperluas layanan kripto bagi nasabah ritel maupun institusional.
Jika terealisasi, kehadiran layanan Bitcoin lengkap dari bank sebesar Morgan Stanley dapat mempercepat pergeseran persepsi terhadap aset kripto—dari sekadar spekulasi menjadi bagian struktural dalam sistem keuangan global.