Liputan6.com, Jakarta - Harga saham PT Bakrie and Brothers Tbk (BNBR) mencatat kenaikan signifikan pada sesi pertama di tengah laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang memerah pada perdagangan saham Jumat, (27/2/2026).
Mengutip data RTI, harga saham BNBR meroket 24,22% ke posisi Rp 200 per saham. Harga saham BNBR dibuka naik 12 poin menjadi Rp 173 per saham dari penutupan sebelumnya Rp 161 per saham.
Advertisement
Saham BNBR berada di level tertinggi Rp 216 dan level terendah Rp 173 per saham. Total frekuensi perdagangan 159.807 kali dengan volume perdagangan saham 35.711.224 saham. Nilai transaksi Rp 690,1 miliar.
Sementara itu, IHSG turun 0,31% menjadi 8.209,32 pada sesi pertama. Indeks LQ45 terpangkas 0,65% menjadi 832,45. Sebagian besar indeks saham acuan memerah.
Pada sesi pertama, IHSG berada di level tertinggi 8.219,70 dan level terendah 8.093,74. Sebanyak 420 saham melemah sehingga bebani IHSG. 239 saham menguat dan 156 saham diam di tempat. Total frekuensi perdaganga 1.505.039 kali dengan volume perdagangan saham 26,5 milair saham. Nilai transaksi harian saham Rp 11,3 triliun. Posisi dolar Amerika Serikat terhadap rupiah di kisaran 16.759.
Kenaikan harga saham BNBR itu seiring Perseroan merilis laporan keuangan yang beragam. Pendapatan turun 3,26% menjadi Rp 3,74 triliun pada 2025 dari 2024 sebesar Rp 3,86 triliun. Laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk naik 50,75% menjadi Rp 493,85 miliar pada 2025 dari periode sama tahun sebelumnya Rp 327,59 miliar.
Laba bruto turun 14,38% menjadi Rp 744,38 miliar pada 2025 dari 2024 sebesar Rp 869,47 miliar. Beban usaha naik 6,97% menjadi Rp 627,52 miliar pada 2025 dari periode sama tahun sebelumnya Rp 586,60 miliar.
Seiring hal itu laba usaha perseroan terpangkas 58,6% menjadi Rp 116,86 miliar pada 2025 dari 2024 sebesar Rp 282,87 miliar. Laba bersih tumbuh 49,60% menjadi Rp 502,74 miliar pada 2025 dari 2024 sebesar Rp 336,04 miliar. Laba per saham dasar dan dilusi yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk naik menjadi Rp 2,85 pada 2025 dari 2024 sebesar Rp 2,04.
Ekuitas perseroan naik 19,42% menjadi Rp 4,67 triliun pada 2025 dari 2024 sebesar Rp 3,91 triliun. Liabilitas naik 547,5% menjadi Rp 18,89 triliun pada 2025 dari 2024 sebesar Rp 2,97 triliun. Aset perseroan naik 245,08% menjadi Rp 23,56 triliun pada 2025 dari 2024 sebesar Rp 6,82 triliun. Perseroan kantongi kas dan setara kas Rp 236,65 miliar pada 2025 dari 2024 sebesar Rp 168,22 miliar.
BNBR Ambil Alih 100% Tol Cimanggis–Cibitung, Targetkan Pendapatan Berkelanjutan
Sebelumnya, PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR) memperkuat langkah ekspansi bisnis infrastrukturnya dengan menguasai penuh Tol Cimanggis–Cibitung. Aksi korporasi ini dilakukan melalui anak usaha, PT Bakrie Toll Indonesia (BTI), yang resmi menyelesaikan pengambilalihan 100 persen kepemilikan PT Cimanggis Cibitung Tollways (CCT).
Penandatanganan Perjanjian Jual Beli Saham (Sale & Purchase Agreement/SPA) dilakukan antara BTI, PT Sarana Multi Infrastruktur (Persero) atau SMI, dan PT Waskita Toll Road (WTR) di Jakarta. Direktur Utama & CEO BNBR, Anindya N. Bakrie, menyebut akuisisi ini muncul dari peluang strategis untuk menguasai seluruh saham CCT.
Sebelumnya, BNBR memiliki 10 persen saham CCT, baik langsung maupun melalui BTI. Dengan divestasi SMI dan WTR, perseroan menilai momentum ini ideal untuk melakukan konsolidasi penuh atas aset tol strategis tersebut.
“Pertimbangan utama dilakukannya transaksi ini adalah untuk memperkuat posisi Grup Usaha Perseroan dalam sektor infrastruktur nasional, sejalan dengan strategi bisnis jangka panjang Perseroan,” ujar Anindya dikutip dari Antara, Sabtu (29/11/2025).
Dengan kepemilikan penuh, BNBR optimistis dapat meningkatkan sinergi bisnis, memperkuat kontrol operasional, serta mendorong kontribusi pendapatan berkelanjutan bagi grup.
Pembelian 72 Juta Lembar Saham
Wakil Direktur Utama BNBR, A. Ardiansyah Bakrie, menjelaskan bahwa pengambilalihan CCT dilakukan melalui pembelian 72 juta lembar saham atau setara 90 persen dari total saham yang ditempatkan dan disetor penuh. Rinciannya, 55 persen saham diambil dari SMI dan 35 persen dari WTR, dengan total nilai akuisisi Rp 1 triliun.
Selain saham, BTI juga mengambil alih piutang kepada CCT senilai Rp 2,565 triliun, yang merupakan pinjaman pemegang saham dari SMI dan WTR.
Ardi menegaskan ruas Tol Cimanggis–Cibitung memiliki nilai strategis tinggi sebagai jalur alternatif untuk mengurangi kemacetan, terutama di Tol Jakarta–Cikampek. “Selain itu, menjadi bagian penting dalam meningkatkan konektivitas dan pertumbuhan kawasan industri di Jabodetabek,” ujarnya.
Tol ini berperan mendukung kelancaran lalu lintas sekaligus meningkatkan efisiensi logistik di berbagai kawasan industri utama.
Masa Konsesi 45 Tahun
PT Cimanggis Cibitung Tollways merupakan Badan Usaha Jalan Tol (BUJT) yang mengelola ruas sepanjang 26,184 km dengan masa konsesi 45 tahun hingga 10 Agustus 2061. CCT bertanggung jawab atas pendanaan, perencanaan teknis, pembangunan, pengoperasian, hingga pemeliharaan seluruh ruas Tol Cimanggis–Cibitung.
Sebagai Proyek Strategis Nasional (PSN), jalan tol ini resmi beroperasi penuh sejak diresmikan Wakil Presiden ke-13 RI, Ma’ruf Amin, pada 9 Juli 2024.
Ruas tol ini terintegrasi dalam jaringan Jalan Tol Jakarta Outer Ring Road (JORR) 2 yang menghubungkan Kota Depok, Kota Bekasi, Kabupaten Bogor, dan Kabupaten Bekasi. Selain itu, ruas ini terhubung langsung dengan Tol Jagorawi, Tol Trans Jawa Jakarta–Cikampek, Tol Cinere–Jagorawi, dan ke depan akan tersambung dengan Tol Jakarta–Cikampek 2 Selatan.
Kehadiran tol ini diharapkan memperkuat konektivitas antarkawasan, meningkatkan efisiensi transportasi, dan mempercepat distribusi barang di kawasan industri setempat.