Global Peace Convoi Indonesia Akan Mulai Lakukan Pergerakan via Laut dan Darat, Bantu Palestina

Global Peace Convoi Indonesia akan melakukan pergerakan lewat laut dan darat, berkolaborasi dengan Global Sumud Flotilla (GSF).

oleh Shabina Nasywa MuftiDiterbitkan 27 Februari 2026, 13:25 WIB
Laporan rencana pergerakan yang akan dilakukan GPCI bersama GSF untuk konvoi ke Gaza.

Liputan6.com, Jakarta - Global Peace Convoi Indonesia (GPCI) merupakan gerakan atau forum yang terdiri dari beberapa Non-Government Organization (NGO) dan berada dibawah naungan Global Sumud Flotilla (GSF).

Forum ini bertujuan untuk memperjuangkan hak-hak saudara yang berada di Palestina, terutama di Gaza yang sampai saat ini masih terdampak blokade dengan mendobrak blokade tersebut. 

GSF sendiri merupakan koalisi masyarakat sipil dari berbagai negara yang berinisiatif untuk menolak ketidakadilan dan genosida yang dilakukan oleh Israel di Gaza. GSF melakukan pergerakannya melalui 2 jalur, yaitu melalui jalur darat dan laut. 

Tahun-tahun sebelumnya, sudah banyak sekali upaya berupa bantuan yang dilakukan banyak negara untuk membantu masyarakat sekitar. Namun blokade membuat keadaan semakin sulit sehingga beberapa  bantuan tidak sampai kepada masyarakat yang berhak menerimanya. 

GPCI bekerjasama dengan GSF agar memperlancar rencana-rencana pergerakan yang akan dilakukan, sehingga Palestina dapat mudah dijangkau dari berbagai arah dan dapat dengan mudah pula mengirimkan bantuan-bantuan yang sudah direncanakan dalam beberapa bulan kebelakang. 

Koordinator GPCI Dr. Maimon Herawati menyampaikan, pergerakan sudah terjadi perubahan tanggal, yang tadinya akan dilakukan pada 29 Maret, tetapi menjadi 12 April 2026 karena ada beberapa situasi yang berlaku.

Maimun juga mengatakan, GSF akan mengirimkan 100-150 kapal menuju blokade Gaza. 

"Kapal-kapal tersebut terdiri dari kapal untuk relawan, kapal untuk Floating Hospital yang berisi sekitar 500 tenaga medis untuk memperkuat layanan medis Internasional," ujar Maimon, Kamis 26 Februari 2026.

Kapal yang berasal dari Greanpeace untuk mengangkut Eco Builder yang cukup untuk sekitar 500 orang, dan ada 1 kapal khusus untuk membawa Knockdown School yang berisi para guru dari negara Arab. 

Siapkan Pendampingan

Dr. Maimon Herawati pada launching GSF 2.0 menjelaskan laporan capaian dan rencana GPCI.

 

Capaian yang akan diraih pun tak bisa diraih dengan mudah, Kemungkinan besar kapal ini akan berhadapan dengan pemerintah mesir yang memperbolehkan kapal-kapal tersebut lewat dengan syarat harus adanya koordinasi dengan Bulan Sabit Merah. 

Selain bantuan berupa kapal-kapal yang dikirimkan, GSF juga menyediakan pendampingan sipil atau human shield yang anggotanya merupakan warga negara asing (WNA) yang siap berdiri menjaga orang-orang Palestina yang berada di belakangnya.

Sementara orang Indonesia tidak termasuk karena khawatir akan menjadi target-target berikutnya. 

"Kalau tidak bisa masuk Gaza maka konvoi darat yang sebanyak itu akan masuk ke tepi badan," ucap Maimon.

Maimon juga mengatakan, nantinya akan ada 2 tim legal yang masuk ke Gaza yakni Tim Research yang akan melakukan pencatatan didalam dan Tim Khusus Tanah untuk mengecek kualitas dan kondisi tanah Gaza setelah terjadi beberapa kali bombardir.

"Selain itu akan ada beberapa orang dari power politisi level dunia yang masuk kedalam Hague Group dan direncanakan berkumpul di Brussels untuk melakukan penekanan terhadap kondisi yang terjadi saat ini," kata Maimon.

Pada 2025, Hague group sendiri tercatat terdiri dari 9 negara, yaitu Belize, Bolivia, Kolombia, Kuba, Honduras, Malaysia, Namibia, Senegal dan Afrika Selatan. Jumlah negara yang menjadi anggota grup ini Masih akan bertambah lagi seiring berjalannya waktu. 

"Rencana pergerakan yang akan dilakukan oleh grup ini salah satunya adalah menyeret Israel ke International Court of Justice (ICJ) yang berkumpul dengan anggota political Impact Leader  dari berbagai negara di Brussels," papar Maimon.

Diikuti 300 Peserta

Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan menyebut pencegatan kapal bantuan masuk Gaza oleh tentara Israel sebagai tindakan pembajakan. (KEMAL ASLAN/AFP)

Jumlah partisipan dari konvoi laut direncanakan akan ada lebih dari 3.000 orang dan lebih dari 100 kapal. Sementara partisipan konvoi darat direncanakan akan lebih banyak dari konvoi laut karena berasal dari beberapa negara yang tersebar ke beberapa jalur.

Seperti Rusia yang akan melakukan pergerakan ke bawah, Pakistan yang dilanjutkan ke Iran lalu ke Turki, Sumut ke arah Al-Jazeera, Maroko dan Tunisia ke arah Libya dan masuk ke Rafah. 

Partisipan GSF tahun ini yaitu GSF 2.0 akan berasal dari lebih 100 negara dengan merangkul beragam profesi yang akan sangat dibutuhkan disana. Seperti dokter dan tenaga kesehatan, perawat dan tim trauma, kapten dan kru kapal, teknisi dan engineer, jurnalis, pelindung sipil, eco-builder, tenaga didik, dokumentaris untuk mendokumentasikan segala pelanggaran HAM yang terjadi di sana, tim legal dan relawan umum yang rencananya akan dibatasi dengan jumlah 10 orang per negara. Maimon mengatakan bahwa akan ada upaya untuk negosiasi terkait menambah jumlah partisipan yang dikirimkan.

"Relawan umum dengan jumlah 10 orang per negara akan coba kita diskusikan untuk memasukan lebih dari itu, yang mungkin kita bisa tambah jumlah untuk jurnalis dan eco-builder atau bahkan dokter yang InsyaAllah jumlahnya bisa banyak," terang Maimon. 

Partisipan atau relawan akan melalui 3 tahap seleksi yaitu tahap registrasi global melalui website, seleksi nasional yang akan dilakukan di GPCI dan Steering Committee Global. 

Bantuan yang Diberikan

Personel Tentara Nasional Indonesia (TNI) memeriksa tali pengikat bantuan kemanusiaan untuk warga Palestina di Gaza di dalam pesawat Hercules C-130 di Pangkalan Udara Halim Perdanakusuma, Jakarta pada 13 Agustus 2025. (BAY ISMOYO/AFP)

Pada GSF 2.0, Indonesia berencana menurunkan 100 truk bantuan pada konvoi darat, hal ini dilakukan hanya jika truk masih dalam penguasaan Indonesia saat melalui Rafah sehingga tidak diserahkan kepada Bulan Sabit Merah.

Sementara pada konvoi laut, direncanakan akan ada 250 kapal dan bisa bertambah sesuai dengan keputusan diskusi terakhir yang akan dilaksanakan pada tanggal 3 Maret di Tunisia.

Partisipan yang menaiki kapal hanya beberapa puluh orang saja. Namun diharapkan gerakan ini akan menjadi gerakan yang masif di Indonesia dan menjadi gerakan solidaritas bagi Palestina.

Gerakan ini akan dimulai dari Labuan Bajo dan akan berhenti di beberapa tempat seperti Lombok, Surabaya, Jakarta, Bangka Belitung, dan ke Dumai yang akan menjadi titik kumpul Sumatera dan dilanjutkan ke Portland untuk menyebrang ke Malaysia. Bersamaan dengan perjalanan phinisi ini, beberapa aktivitas juga dilakukan seperti aktivitas budaya, edukasi, hingga advokasi. 

Saat tiba di Malaysia, konvoi akan melebur kedalam Sumud Nusantara yang juga akan melewati 2 jalur, laut dan darat. Jalur darat akan dimulai dari Pakistan dan dilanjutkan dengan mobil khusus yang dapat menjangkau Iran dan Turki selama Iran tidak diserang Amerika.

Kapal yang akan digunakan dan direncanakan akan dibeli dalam waktu 2-3 hari kedepan adalah kapal Phinisi Florence yang memiliki lebar 4,27 meter dan panjang 15 meter, dengan harga Rp 3,6 miliar.

Kapal ini direncanakan akan dibeli secara patungan dengan Malaysia dengan harga 50/50, dengan konsekuensi membagi dua jumlah penumpang kapal. Namun Maimon menyebutkan bahwa tetap ada upaya negoisasi kepada Malaysia agar kapal tersebut dibeli seutuhnya oleh Indonesia, supaya dapat lebih banyak kuota penumpang. Rencananya tim GPCI yang merupakan penumpang kapal juga akan berganti setiap berganti pelabuhan.

"Kepada bangsa Palestina, saya berbicara atas nama bangsa Indonesia. Kami tidak akan membiarkan teman-teman sendiri, kami akan selalu bersama dengan teman-teman sampai Palestina merdeka, InsyaAllah," jelas Maimon

Infografis Daftar Negara Mengakui dan Belum Mengakui Palestina. (Liputan6.com/Abdillah)

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya