BEI Ungkap 5 Sektor Saham Syariah Terbesar, Energi dan Konsumer Jadi Primadona

Bursa Efek Indonesia (BEI) merilis daftar sektor saham syariah paling dominan per Desember 2025. Sektor barang konsumen non-primer memimpin pasar.

oleh Tira SantiaDiterbitkan 26 Februari 2026, 18:45 WIB
Pekerja melintasi layar pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di BEI, Jakarta, Rabu (16/5). Meski terjebak di zona merah, IHSG berhasil mengakhiri perdagangan di level 5.841. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Liputan6.com, Jakarta - Bursa Efek Indonesia (BEI) mengungkapkan sektor-sektor saham syariah yang paling dominan dan dapat menjadi pertimbangan investor dalam memilih instrumen investasi berbasis syariah.

Kepala Divisi Pasar Modal Syariah BEI, Irwan Abdalloh, mengatakan hingga Desember 2025, komposisi saham syariah menunjukkan distribusi sektor yang cukup beragam, baik dari sisi jumlah emiten maupun kapitalisasi pasar.

Irwan menjelaskan, jika dilihat dari jumlah saham dan pangsa pasar (market share), sektor barang konsumen non-primer menjadi yang paling dominan di pasar saham syariah Indonesia.

Per Desember 2025, sektor tersebut menguasai sekitar 18% market share terhadap total saham syariah yang tercatat di BEI. Posisi berikutnya ditempati sektor barang konsumen primer, disusul barang baku, energi, dan properti.

"Jadi, kalau kita lihat per Desember 2025, kalau kita bandingkan antara market cap dan numbers sahamnya, maka yang paling dominan itu ada di barang konsumen non-primer sebesar 18% market share-nya terhadap total saham Besar 18% market share-nya terhadap total saham sariah yang ada di BEI," kata Irwan dalam acara Edukasi Wartawan dengan tema Pasar Modal Syariah, secara virtual, Kamis (26/2/2026).

Kelima sektor tersebut menjadi kelompok terbesar karena masing-masing memiliki kontribusi di atas 10% terhadap keseluruhan saham syariah di pasar modal domestik.

"Kemudian yang kedua barang baku, tiga infrastruktur, empat barang konsumen primer, yang kelima properti dan real estate. Jadi ini pertanyaan cukup menarik. Jadi kalau ada yang nanya, kalau saya mau investasi syariah, berinvestasi dari size-nya, maka ada lima sektor industri terbesarnya," ujarnya.

 

Barang Konsumen Primer

Sebelumnya, sepanjang Senin (9/2/2026), pergerakan IHSG diwarnai penguatan 433 saham. Sementara, 252 saham melemah dan 136 lainnya stagnan. Tampak dalam foto, layar monitor menunjukkan pergerakan pasar saham di lantai Bursa Efek Indonesia menjelang aktivitas perdagangan, Jakarta pada Senin 9 Februari 2026. (BAY ISMOYO/AFP)

Menariknya, hanya satu sektor yang konsisten muncul dalam dua kategori sekaligus, yakni barang konsumen primer. Sektor ini memiliki jumlah emiten besar sekaligus kapitalisasi pasar yang kuat.

Sementara itu, sektor energi unggul dari sisi ukuran perusahaan, sedangkan sektor barang konsumen non-primer lebih dominan dari sisi jumlah saham.

"Yang irisan itu cuma satu, yaitu di barang konsumen primer. Energi di bawah, tapi barang konsumen primer untuk sisi jumlah sahamnya ada di atas. Jadi menarik nih, kalau size-nya energi terbesar, tapi kalau bisa numbers, ternyata barang konsumen non-primer yang paling besar," pungkasnya.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya