Liputan6.com, Washington, D.C - Upaya mengatasi krisis global akibat gigitan ular memasuki babak baru setelah tim ilmuwan mengembangkan kandidat antivenom universal berbasis antibodi manusia. Terobosan ini berawal dari penelitian terhadap seorang pria yang selama bertahun-tahun sengaja memaparkan dirinya pada bisa ular mematikan.
Insinyur imun komputasi Jacob Glanville, pendiri perusahaan bioteknologi Centivax, memimpin riset yang bertujuan menciptakan penawar bisa ular yang lebih luas dan aman. Hasil penelitian tersebut dipublikasikan dalam jurnal ilmiah Cell pada 25 Februari 2026.
Advertisement
Keracunan akibat gigitan ular menjadi ancaman kesehatan global. Setiap tahun, hampir dua juta orang terdampak, dengan sekitar 100.000 kematian tercatat di berbagai negara berkembang. Antivenom konvensional selama ini diproduksi dari antibodi hewan, yang berisiko memicu reaksi alergi serius dan sering kali hanya efektif untuk spesies ular tertentu.
Glanville mengatakan ketertarikannya pada isu ini berakar dari masa kecilnya di dataran tinggi Guatemala, wilayah terpencil yang kerap menghadapi kasus gigitan ular tanpa akses cepat ke fasilitas medis. “Antivenom selalu membuat saya tertarik,” ujarnya.
Terobosan riset ini bermula ketika tim Glanville menemukan sosok unik: Timothy Friede, seorang mekanik truk sekaligus kolektor ular yang sejak 2000 secara sengaja menyuntikkan bisa ular ke tubuhnya untuk membangun kekebalan. Friede, yang kini bekerja sebagai herpetolog di Centivax, tercatat telah mengalami lebih dari 200 gigitan ular dan menyuntikkan sekitar 500 dosis tambahan bisa selama 17 tahun.
Eksperimen itu sempat hampir merenggut nyawanya. Beberapa bulan setelah memulai, Friede digigit kobra dua kali berturut-turut dan koma selama empat hari. “Itu kesalahan besar,” akunya. Namun setelah selamat, ia melanjutkan upayanya dengan tujuan membantu korban gigitan ular lainnya.
Pada 2017, Glanville mengetahui kisah Friede dan meminta sampel darahnya. Dari darah yang diduga telah “hiperimun” tersebut, tim peneliti mengekstraksi DNA antibodi dari sel imun dan menggunakan teknik phage display untuk membangun pustaka sekitar dua miliar kandidat antibodi.
Fokus Penelitian
Fokus penelitian diarahkan pada 19 spesies ular paling mematikan dari famili Elapidae—kelompok yang mencakup mamba, kobra, taipan, dan krait, serta menyumbang sekitar separuh spesies ular berbisa di dunia.
Melalui proses seleksi ketat, para ilmuwan berhasil mengisolasi antibodi yang mampu mengikat bagian kunci racun yang menyerang sistem saraf. Analisis struktur kristal menunjukkan antibodi tersebut menutup situs toksin yang relatif seragam di berbagai spesies, sehingga berpotensi menetralkan bisa dari banyak jenis ular sekaligus.
Pengujian pada hewan memperkuat temuan tersebut. Dalam uji in vivo, tikus yang disuntik bisa dari enam spesies mamba hitam dan kobra bertahan hidup setelah menerima antibodi. Sebaliknya, seluruh tikus yang tidak diobati mati dalam hitungan jam.
Peneliti bisa ular dari Institut Sains India, Kartik Sunagar, yang tidak terlibat dalam studi ini, menilai penelitian tersebut dirancang dengan sangat baik dan menghasilkan antibodi yang menjanjikan.
Meski masih memerlukan uji klinis lanjutan sebelum dapat digunakan pada manusia, temuan ini membuka jalan bagi pengembangan antiserum universal—sebuah langkah potensial untuk menyelamatkan ribuan nyawa setiap tahun, terutama di wilayah terpencil yang minim akses layanan kesehatan.