Scaramucci: Pasar Masuki Bear Market, saatnya Borong Bitcoin

Anthony Scaramucci menilai pasar kripto sedang dalam fase bear market dan mengajak investor tetap mengakumulasi Bitcoin.

oleh Arthur GideonDiterbitkan 25 Februari 2026, 18:00 WIB
Aset kripto Bitcoin, Altcoin, hingga Meme Coin. (Ilustrasi By AI)

Liputan6.com, Jakarta - Anthony Scaramucci, pendiri SkyBridge Capital, firma investasi asal New York, menyatakan bahwa pasar keuangan, termasuk kripto, saat ini telah memasuki fase bear market atau pasar lesu. Menurutnya, yang menjadi persoalan utama bukanlah apakah pasar sedang turun, melainkan seberapa lama fase tersebut akan berlangsung.

Dalam pernyataannya pada Minggu lalu, dikutip dari Yahoo Finance, Rabu (25/2/2026), Scaramucci mengatakan bahwa investor sebaiknya tidak terpaku pada rasa takut. Ia justru mendorong pelaku pasar untuk terus membangun posisi di Bitcoin (BTC), bukan hanya berspekulasi jangka pendek.

Ia menegaskan, pendekatan yang tepat saat ini adalah “accumulate, don’t speculate” atau mengumpulkan aset secara bertahap, bukan sekadar mengejar keuntungan cepat. Sikap ini sejalan dengan perannya selama bertahun-tahun sebagai pendukung utama aset kripto.

Melalui unggahan di platform X, Scaramucci menjelaskan bahwa bear market biasanya berlangsung hingga para pelaku pasar kehilangan energi dan kepercayaan diri, bukan hanya karena ketakutan memuncak.

Bear market tidak berakhir hanya karena rasa takut mencapai puncaknya. Biasanya berakhir karena para pelaku pasar sudah kelelahan,” tulisnya.

Ia juga menambahkan, saat pesimisme terdengar paling keras, justru banyak investor berada dalam posisi yang terlalu kecil untuk menyambut pembalikan arah pasar.

 

Disclaimer: Setiap keputusan investasi ada di tangan pembaca. Pelajari dan analisis sebelum membeli dan menjual Kripto. Liputan6.com tidak bertanggung jawab atas keuntungan dan kerugian yang timbul dari keputusan investasi.

 

Bitcoin Dinilai Belum Mencerminkan Kepanikan Global

Ilustrasi Kripto. (Foto By AI)

Dalam unggahannya, Scaramucci menyoroti pergerakan Bitcoin sebagai salah satu indikator penting. Ia menilai, jika penurunan saat ini benar-benar dipicu oleh kekhawatiran terhadap pelemahan nilai mata uang, maka Bitcoin seharusnya mengalami lonjakan tajam.

“Jika ini murni soal kepanikan pelemahan mata uang, Bitcoin seharusnya terbang tinggi,” tulisnya.

Namun, kenyataannya tidak demikian. Ia melihat adanya perbedaan sikap antara investor muda dan investor lama. Menurutnya, aliran dana dari investor muda masih mengarah ke kripto, sementara investor institusional yang lebih senior cenderung memilih emas dan perak.

Dalam unggahan tersebut, Scaramucci juga menuliskan:

“Ya, kita sedang berada di bear market. Pertanyaannya bukan apakah, tetapi berapa lama. Setiap siklus selalu ada pihak yang mengatakan ‘ini sudah berakhir’. Tapi lihat lebih dalam.”

Ia mengaku telah melewati sembilan fase bear market sepanjang kariernya. Dari pengalaman itu, ia menyimpulkan bahwa sentimen pasar sering kali bereaksi berlebihan dibandingkan kondisi fundamental.

Menurutnya, ketika suara pesimis paling dominan, banyak investor justru belum memiliki eksposur yang cukup terhadap aset kripto.

Selain itu, Scaramucci juga mengungkap bahwa ia sempat menargetkan harga Bitcoin mencapai USD 150.000 pada akhir tahun lalu. Namun, target tersebut meleset karena ia tidak memperhitungkan tekanan jual besar-besaran dari para “whale” atau pemilik Bitcoin dalam jumlah besar.

 

Regulasi dan Perbedaan Generasi Jadi Faktor Penting

Ilustrasi aset kripto Bitcoin. (Foto By AI)

Dalam pernyataan sebelumnya, Scaramucci juga menyampaikan optimisme terhadap masa depan Bitcoin jika kebijakan kripto di Amerika Serikat mengalami perbaikan. Ia menilai regulasi yang lebih jelas dan tidak terlalu dipolitisasi dapat mendorong pertumbuhan sektor blockchain dan keuangan terdesentralisasi.

Menurutnya, potensi reformasi regulasi ini menjadi salah satu faktor yang memperkuat analisisnya terhadap kondisi pasar saat ini. Ia percaya, perubahan sentimen dan alokasi dana investor bisa terjadi seiring perkembangan kebijakan tersebut.

Selain faktor regulasi, Scaramucci juga menyoroti adanya perbedaan generasi dalam dunia investasi. Ia menilai investor institusional yang lebih tua cenderung bergerak lebih lambat dan masih memilih logam mulia dibandingkan aset digital.

Sementara itu, Bitcoin dinilainya masih menjadi instrumen yang diminati generasi muda dan terus melalui proses adopsi serta penyesuaian pasar.

Dampak pelemahan pasar kripto juga terlihat pada saham-saham yang berkaitan dengan Bitcoin, termasuk perusahaan yang memiliki eksposur besar terhadap aset tersebut. Tekanan jual tidak hanya terjadi pada harga spot, tetapi juga pada instrumen yang berbasis sentimen dan leverage.

Scaramucci sendiri telah lama mempromosikan Bitcoin melalui berbagai platform publik, termasuk lewat bukunya “The Little Book of Bitcoin”. Pandangannya soal “kelelahan pasar” dinilai memiliki pengaruh besar, terutama bagi investor ritel yang mencari arah di tengah tren penurunan panjang.

Ia juga mengingatkan pentingnya membangun portofolio yang tangguh. Menurutnya, kekayaan jangka panjang tidak bisa hanya bergantung pada satu aset atau satu sektor.

“Diversifikasi tetap menjadi kunci, agar risiko bisa dikelola dan peluang pertumbuhan tetap terbuka dalam berbagai kondisi ekonomi,” ujarnya.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya