Real Madrid dan Jalan Membangun Kembali Kejayaan: Identitas Lebih Penting dari Belanja Instan

Real Madrid membutuhkan transisi struktural dan kesabaran untuk kembali menguasai Eropa, bukan sekadar perekrutan pemain bintang secara impulsif.

oleh Gia Yuda PradanaDiterbitkan 25 Februari 2026, 11:14 WIB
Real Madrid (15 kali juara) - Real Madrid adalah klub sepak bola yang paling banyak memenangkan kali Liga Champions sampai saat ini. Tahun juara: 1956, 1957, 1958, 1959, 1960, 1966, 1998, 2000, 2002, 2014, 2016, 2017, 2018, 2022, 2024. (AFP/Paul Ellis)

Liputan6.com, Jakarta - Mendukung Real Madrid merupakan sebuah pengalaman yang mengubah standar dan ekspektasi seorang penggemar sepak bola secara permanen. Keberhasilan klub ini dalam mengubah pencapaian luar biasa menjadi rutinitas membuat para pendukungnya selalu menuntut trofi setiap musim.

Kenyataan saat ini menunjukkan bahwa Real Madrid belum sepenuhnya siap untuk mendominasi kompetisi Eropa secara instan. Meski logo di dada tetap menuntut rasa hormat global, kepemimpinan di dalam lapangan tidak lagi terlihat sejelas era sebelumnya.

Sangat penting bagi manajemen untuk menyadari bahwa bakat-bakat muda di skuad saat ini masih dalam proses pendewasaan. Otoritas dalam momen-momen krusial pertandingan masih terus berkembang dan belum mencapai titik kematangannya.


Memperkuat Tulang Punggung Tim

3. Menjuarai Ballon D'or dan FIFA's Player of the Year di dua liga berbeda, yakni ketika bermain untuk Manchester United dan Real Madrid. (AFP/Pierre-Philippe Marcou)

Pembangunan ulang tim harus dimulai dari posisi-posisi krusial yang menjadi tulang punggung permainan di lapangan hijau. Posisi penjaga gawang, bek tengah, gelandang sentral, hingga penyerang tengah merupakan fondasi yang harus segera dibenahi.

Para pemain di posisi tersebut memiliki pandangan luas ke seluruh lapangan untuk mengatur ritme permainan tim. Ketika inti tim ini kuat, seluruh pemain akan berfungsi lebih koheren dengan ide-ide taktikal yang jauh lebih jelas.


Belajar dari Kesuksesan Masa Lalu

Bek Real Madrid, Sergio Ramos, melakukan selebrasi usai membobol gawang Athletic Bilbao pada laga La liga di Stadion San Mames, Minggu (5/7/2020). Real Madrid menang 1-0 atas Athletic Bilbao. (AFP/Ander Gillenea)

Kita telah melihat bagaimana Real Madrid tetap berdiri kokoh meski kehilangan sosok megabintang seperti Cristiano Ronaldo pada tahun 2018. Hal ini terjadi karena tulang punggung tim tetap utuh dengan kehadiran pemimpin seperti Sergio Ramos dan Thibaut Courtois.

Ketenangan Toni Kroos serta Luka Modric di lini tengah menjadi kunci dalam mengontrol jalannya pertandingan-pertandingan besar. Hasilnya, gelar Liga Champions tetap bisa diraih pada tahun 2022 dan 2024 karena mentalitas juara yang tetap terjaga.


Keputusan Sulit Terkait Skuad

Kylian Mbappe dari Real Madrid (tengah) mendapat ucapan selamat dari rekan-rekannya, Vinicius Junior (kanan) dan Aurelien Tchouameni, setelah mencetak gol dalam laga La Liga antara Real Oviedo dan Real Madrid di Stadion Carlos Tartiere, Oviedo, Spanyol, Minggu, 24 Agustus 2025. (AP Photo/Miguel Oses)

Sebelum bermimpi mendatangkan bintang baru, klub harus berani mengambil keputusan tidak populer mengenai pengurangan pemain. David Alaba telah mengumumkan akan hengkang, sementara kondisi fisik Antonio Rudiger mulai terlihat menurun dalam dua tahun terakhir.

Situasi Vinicius Junior juga memerlukan pembicaraan jujur karena keberadaannya bersama Kylian Mbappe menciptakan ketidakseimbangan di lini serang. Melepasnya saat kontrak tersisa hingga 2027 bisa menghasilkan dana besar sekitar 200 juta Euro (Rp3,9 triliun) untuk keseimbangan finansial jangka panjang.


Menghindari Jebakan Transfer Impulsif

Real Madrid menjadi juara Liga Champions musim 2013/2014 setelah menang dramatis 4-1 atas rival sekota Atletico Madrid melalui perpanjangan waktu di Estadio da Luz, Lisbon, Portugal, Minggu (25/5/2014) dinihari WIB (AFP PHOTO/FRANCK FIFE).

Klub harus menahan godaan untuk merekrut pemain muda yang hanya bersinar dalam beberapa pertandingan di liga domestik. Real Madrid seharusnya memantau mentalitas pemain, bukan sekadar keterampilan teknis yang terlihat memukau di cuplikan video media sosial.

Identitas klub yang pantang menyerah hingga peluit akhir harus tetap menjadi kriteria utama dalam mencari pengganti para legenda. Kesabaran adalah kunci agar tidak terjatuh ke lubang yang sama seperti Manchester United yang kehilangan identitas akibat transfer tidak kompatibel.

Sumber: The Real Champs

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya