Liputan6.com, Washington, DC - Keputusan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump untuk memerintahkan serangan udara terhadap Iran akan sangat bergantung pada penilaian dua utusan khususnya, Steve Witkoff dan Jared Kushner, terkait apakah Teheran sengaja mengulur waktu dalam perundingan mengenai kesepakatan untuk menghentikan kemampuan memproduksi senjata nuklir. Informasi ini disampaikan oleh sejumlah pihak yang mengetahui pembahasan internalnya seperti dikutip dari The Guardian.
Hingga kini, Trump belum membuat keputusan final mengenai kemungkinan serangan. Pemerintah AS masih menunggu proposal terbaru dari Iran yang dijadwalkan dikirim pekan ini, menjelang putaran negosiasi yang disebut para pejabat sebagai upaya terakhir dan dijadwalkan berlangsung pada Kamis (26/2/2026) di Jenewa.
Advertisement
Perundingan tersebut akan dipimpin oleh Witkoff, miliarder pengembang real estate asal New York sekaligus teman dekat Trump selama puluhan tahun, dan Kushner, menantu Trump. Penilaian mereka mengenai peluang tercapainya kesepakatan dikabarkan akan sangat memengaruhi pertimbangan Trump. Jika kesepakatan tidak tercapai, Trump telah memberi tahu para penasihatnya bahwa ia tengah mempertimbangkan opsi serangan terbatas untuk menekan Iran. Jika langkah itu tidak membuahkan hasil, ia juga mempertimbangkan serangan yang jauh lebih besar untuk memaksa terjadinya perubahan rezim.
Seorang pejabat AS mengatakan pada Senin (23/2) bahwa Witkoff merupakan bagian dari kelompok penasihat yang memberikan masukan kepada Trump terkait langkah yang akan diambil terhadap Iran. Ia disebut terlibat dalam seluruh pertemuan yang membahas isu tersebut.
Trump dilaporkan telah menerima sejumlah pengarahan mengenai opsi militer yang tersedia, termasuk dalam pertemuan terbaru pada Rabu (18/2) di Ruang Situasi Gedung Putih. Selain itu, dalam beberapa pekan terakhir ia disebut juga meminta pandangan dari berbagai pejabat senior di lingkungan West Wing mengenai kebijakan terhadap Iran.
Para penasihat utama lainnya dalam isu ini meliputi Wakil Presiden JD Vance; Menteri Luar Negeri (Menlu) Marco Rubio; Direktur CIA John Ratcliffe; Menteri Pertahanan (Menhan) Pete Hegseth; Ketua Kepala Staf Gabungan Jenderal Dan Caine; Kepala Staf Gedung Putih Susie Wiles; serta Direktur Intelijen Nasional Tulsi Gabbard.
Perdebatan Internal soal Opsi Militer
Vance disebut telah memaparkan kedua sisi argumen terkait serangan udara. Namun, ia juga menekan Jenderal Caine mengenai potensi risiko yang mungkin timbul. Sikap Vance dinilai lebih berhati-hati karena ia kurang yakin terhadap peluang keberhasilan serangan terhadap Iran, berbeda dengan keyakinannya dalam operasi untuk menangkap Presiden Venezuela Nicolas Maduro.
Kekhawatiran Caine terutama berfokus pada rendahnya persediaan sistem pertahanan rudal. Tahun lalu, setelah Trump memerintahkan pengeboman terhadap fasilitas pengayaan nuklir Iran, AS menembakkan 30 rudal Patriot untuk mencegat serangan balasan Iran—penggunaan Patriot terbesar dalam satu kali operasi sepanjang sejarah AS.
Serangan balasan Iran saat itu dinilai terbatas. Namun kali ini, Iran telah berjanji akan membalas sekeras mungkin jika diserang. Pemimpin Tertinggi Iran Ayatullah Ali Khamenei pekan lalu memperingatkan bahwa negaranya memiliki kemampuan untuk menenggelamkan kapal perang AS.
Menurut salah satu sumber yang mengetahui situasi tersebut, Caine terdengar lebih vokal menyampaikan kekhawatirannya di dalam Pentagon dibanding saat memberikan pengarahan langsung kepada Trump. Beberapa pejabat secara pribadi berspekulasi bahwa hal itu dilakukan agar ia tidak terlihat mendorong kebijakan tertentu.
Dalam pernyataannya, juru bicara Gedung Putih Anna Kelly menyatakan bahwa Caine adalah seorang profesional yang sangat dihormati yang tugasnya memberikan informasi tidak bias kepada panglima tertinggi dan ia melakukannya dengan sangat baik. Kelly menegaskan bahwa Caine tidak menyampaikan pandangan pribadinya.
Di sisi lain, terdapat pula ketidakpastian di dalam pemerintahan mengenai apakah serangan udara cukup untuk memaksa Iran membuat kesepakatan atau bahkan menggulingkan Khamenei dan lingkaran pemimpin religiusnya.
Untuk menghindari konflik militer, pejabat pemerintahan juga mengeksplorasi sejumlah opsi jalan keluar. Salah satu gagasan yang dibahas adalah mengizinkan Iran mempertahankan kemampuan pengayaan nuklir secara terbatas, khusus untuk keperluan penelitian medis, pengobatan, atau tujuan energi sipil lainnya.
Langkah Diplomatik Disertai Pamer Kekuatan
Menlu Marco Rubio dijadwalkan melakukan perjalanan ke Israel untuk memperbarui informasi kepada Perdana Menteri Benjamin Netanyahu dalam pertemuan yang dijadwalkan pada 28 Februari. Demikian menurut dua sumber yang mengetahui rencana tersebut.
Namun menjelang sesi negosiasi yang berpotensi menjadi yang terakhir, terdapat tanda-tanda bahwa posisi kedua pihak semakin mengeras.
Dalam wawancara dengan Fox News pada Minggu, Witkoff mengatakan bahwa arahan Trump adalah memastikan Iran tidak memiliki kemampuan pengayaan nuklir sama sekali. Sementara itu, Menlu Iran Abbas Araghchi mengatakan dalam program CBS "Face the Nation" bahwa Teheran tidak siap untuk melepaskan kemampuan pengayaan tersebut.
Sementara Trump mempertimbangkan kemungkinan otorisasi tindakan militer, AS telah mengerahkan konsentrasi kekuatan udara terbesar di Timur Tengah sejak invasi Irak pada 2003.
Kapal induk USS Gerald Ford, kapal induk paling canggih milik Angkatan Laut AS, diperkirakan akan tiba di kawasan dalam beberapa hari ke depan. Kapal tersebut dilaporkan bergerak ke selatan Italia pada Minggu dalam perjalanan menuju Israel dan akan menjadi kapal induk kedua yang berada di wilayah tersebut.
Kehadiran USS Gerald Ford akan menambah puluhan jet tempur canggih F-35 dan F-22, serta pesawat pengebom dan pesawat pengisian bahan bakar yang telah lebih dulu dikerahkan.
Pengerahan kekuatan militer tersebut memberi Trump opsi untuk menjalankan kampanye udara berkepanjangan terhadap Iran, bukan hanya serangan terbatas seperti operasi musim panas lalu, ketika pesawat pengebom B-2 terbang dari AS untuk menyerang sejumlah kecil fasilitas pengayaan nuklir di Fordow, Isfahan, dan Natanz.