Liputan6.com, Jakarta - Ada setidaknya lima tanda ibu hamil alias bumil harus membatalkan puasa Ramadan. Menurut dokter spesialis kandungan (obstetri dan ginekologi/obgin) Alfonso Anggriawan kelima tanda itu adalah:
- Pusing berat atau hampir pingsan
- Gerakan janin berkurang
- Kontraksi atau nyeri perut hebat
- Dehidrasi (urine sangat sedikit dan pekat)
- Mual muntah hebat.
“Kesehatan ibu dan janin selalu menjadi prioritas utama. Puasa saat hamil bisa dilakukan pada kondisi tertentu, tetapi tidak wajib jika berisiko bagi kesehatan. Setiap kehamilan berbeda, sehingga keputusan terbaik adalah yang mempertimbangkan aspek medis dan kenyamanan ibu,” kata dokter yang sehari-hari praktik di Eka Hospital PIK dalam keterangan pers, Selasa (24/2/2026).
Advertisement
“Ingat, menjaga kesehatan ibu berarti juga menjaga kesehatan si kecil. Jika diperlukan, selalu konsultasikan dengan dokter kandungan sebelum memutuskan berpuasa,” tambahnya.
Sebelumnya, Alfonso menjelaskan bahwa ibu hamil secara medis boleh berpuasa jika kondisi kehamilan sehat dan tidak berisiko. Namun, dalam ajaran Islam, ibu hamil termasuk golongan yang mendapat keringanan (rukhsah) untuk tidak berpuasa jika khawatir terhadap kesehatan janin atau dirinya sendiri.
“Artinya, keputusan berpuasa sebaiknya berdasarkan kondisi medis, dikonsultasikan dengan dokter kandungan, dan tidak memaksakan diri,” jelas Alfonso.
Tidak Semua Bumil Dapat Jalankan Puasa
Alfonso menambahkan, tidak semua ibu hamil dapat menjalankan puasa, ada beberapa kondisi yang membuat ibu hamil tidak disarankan untuk puasa, yakni:
- Hiperemesis gravidarum (mual muntah berat)
- Tekanan darah rendah atau sering pusing
- Anemia sedang–berat
- Diabetes gestasional
- Riwayat kontraksi prematur
- Pertumbuhan janin terhambat (IUGR)
- Kehamilan kembar dengan risiko tinggi.
Pada kondisi tersebut, puasa dapat meningkatkan risiko dehidrasi, hipoglikemia, hingga kontraksi.
Sebaliknya, pada kehamilan sehat, penelitian menunjukkan puasa umumnya tidak berdampak signifikan terhadap berat lahir atau kondisi janin jika asupan nutrisi tetap tercukupi. Namun, jika ibu kurang asupan cairan, kekurangan kalori dan protein, dan mengalami penurunan berat badan drastis, maka ini dapat memengaruhi pertumbuhan janin.
Perhatikan Kualitas Asupan Saat Sahur dan Buka Puasa
Alfonso mengatakan, kunci utamanya adalah kualitas asupan saat sahur dan berbuka, bukan hanya soal kuantitas.
Ibu hamil yang sudah periksa ke dokter dan dibolehkan puasa perlu memerhatikan beberapa hal, yakni:
- Tidak melewatkan sahur
- Pilih makanan tinggi protein (telur, ayam, ikan), karbohidrat kompleks (nasi merah, oatmeal), lemak sehat, serta sayur dan buah
- Cukupi cairan 2-3 liter per hari dengan gunakan pola 2–4–2, yakni dua gelas saat berbuka, empat gelas malam hari, dan dua gelas saat sahur
- Hindari makanan terlalu manis dan berminyak karena lonjakan gula darah dapat membuat tubuh cepat lemas
- Istirahat cukup
- Kurangi aktivitas berat dan paparan panas berlebihan
- Tetap konsumsi vitamin prenatal sesuai anjuran dokter.