Pembangunan Giant Sea Wall Jakarta dan Semarang-Demak Bakal Dikerjakan Serentak, Kapan?

BOPPJ menyatakan, pembangunan Giant Sea Wall akan mengikuti instruksi Presiden Prabowo Subianto.

oleh Maulandy Rizky Bayu KencanaDiterbitkan 23 Februari 2026, 17:08 WIB
Pembangunan giant sea wall akan menyedot dana hingga USD 100 miliar. (Foto: Liputan6.com/Maulandy R)

Liputan6.com, Jakarta - Badan Otorita Pengelola Pantai Utara Jawa (BOPPJ) bakal melakukan pengerjaan tanggul taut raksasa atau Giant Sea Wall secara serentak di beberapa titik. Khususnya di wilayah-wilayah prioritas seperti Teluk Jakarta dan Kendal-Semarang-Demak

Kepala BOPPJ Didit Herdiawan Ashaf mengatakan, pembangunan Giant Sea Wall bakal mengikuti instruksi dari Presiden Prabowo Subianto, pengerjaannya dilakukan secara simultan. 

"Pelaksanaan kegiatannya ini bisa simultan antara Jakarta dengan Jawa Tengah. Jawa Tengahnya itu mulai dari Kendal-Semarang-Demak, itu bisa bersamaan. Dengan kondisi seperti itu, maka kita bisa melakukan kegiatannya pada saat pelaksanaan groundbreaking bersama-sama," ujarnya dalam sesi konferensi pers di Jakarta, Senin (23/2/2026).

Adapun dalam rencana pembangunan tanggul laut raksasa di Pantura Jawa, beberapa kepala daerah terkait sempat melontarkan pernyataan. Seperti Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung, yang menyebut proyek Giant Sea Wall di wilayahnya bakal mulai groundbreaking September 2026. 

Di sisi lain, Bupati Demak sempat mengklaim wilayahnya jadi prioritas pembangunan tanggul laut. Hanya saja, Didit bilang proses pengerjaannya tidak akan semudah yang dibayangkan. 

"Tapi tidak semudah itu mas, karena saya harus melakukan kegiatan rencana program. Jadi ada dua program kegiatan. Karena kita harus ada continuous improvement adjustments di dalam pelaksanaan kegiatan infrastruktur," tegasnya. 

2 Rencana Program

Adapun dalam pelaksanaan dua program kegiatan tersebut, BOPPJ pertama harus memastikan pembangunan di Teluk Jakarta dan Kendal-Semarang-Demak tak hanya dilakukan secara beriringan, tapi juga memikirkan kelanjutan program di dua kawasan itu setelah Giant Sea Wall terbentuk. 

Kedua, pembangunan infrastrukturnya perlu ada perencanaan mundur (backward planning) sesuai hitungan matematis yang tepat. Sehingga porsi pembiayaannya ke depan tidak terlalu mahal jika terjadi perubahan. 

"Saya tidak pernah mengatakan bulan bulan September (mulai background), tidak pernah saya katakan seperti itu. Tapi saya berusaha untuk mempercepat infrastruktur itu dilakukan," kata Didit. 

 

Pembiayaan dari APBN dan Investor

Kepala BOPPJ Didit Herdiawan Ashaf saat konferensi pers, Senin (23/2/2026). (Foto: Liputan6.com/Maulandy R)

Terkait skema pembiayaan, BOPPJ membuka diri terhadap dana dari APBN hingga investor. Meskipun belum memiliki rinciannya, Didit menghitung secara menyeluruh proyek Giant Sea Wall bisa menyedot biaya hingga sekitar USD 100 miliar, atau setara Rp 1.680 miliar (kurs Rp 16.800 per dolar AS). 

"Oleh karena itu, di dalam pelaksanaan kegiatan pembangunannya, kita melihat bahwa investasi, ada yang dari APBN. Hitungan besarnya, USD 80-100 miliar," terang Didit.

Secara proyeksi, proyek Giant Sea Wall di Pantura Jawa bakal membentang dengan panjang sekitar 535 km. Terpapar dari Kabupaten Serang, Banten hingga Kabupaten Gresik di Jawa Timur.

 

AHY Sebut Proyek Giant Sea Wall Penting demi Selamatkan 50 Juta Warga Pantura

Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, Agus Harimurti Yudhoyono (Menko AHY) mengungkapkan peluang penerapan Work From Anywhere (WFA) untuk meminimalisir lonjakan pergerakan arus balik masyarakat saat lebaran 2025.

Sebelumnya, Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan (IPK), Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), menilai pembangunan tanggul laut raksasa alias Giant Sea Wall sangat diperlukan. Lantaran nasib 50 juta masyarakat yang bermukim di pesisir pantai utara atau Pantura Jawa bergantung pada proyek itu. 

"Yang jelas, pada akhirnya kita ingin yang terbaik untuk Indonesia, penyelamatan 50 juta masyarakat yang ada di sekitar Pantura ini benar-benar harus mendapatkan perhatian kita," ujar AHY di kantornya, Jakarta, Selasa (21/10/2025).

Di sisi lain, ia pun mewaspadai tantangan alam yang mengancam masyarakat di Pantura Jawa. Terutama akibat penurunan muka tanah setiap tahunnya. 

"Kondisi alam, tantangan geografis, sekaligus tantangan iklim ini sudah mendesak. Oleh karena itu, kami dengan Badan Otorita Pengelola Pantura Jawa akan terus berkolaborasi di lapangan. Tak hanya dalam konsep, tapi juga dalam eksekusinya di lapangan," imbuhnya. 

Meskipun begitu, ia tidak menyangkal proyek Giant Sea Wall bakal menelan dana dalam jumlah fantastis. Oleh karenanya, AHY membuka opsi pendanaan semisal investasi dari negara lain. 

"Proyek Giant Sea Wall membutuhkan investasi yang juga tidak kecil, dan tentu kita juga mempertimbangkan banyak hal. Kita bisa ber-partner dengan salah satu negara atau bisa dengan sejumlah negara. Ini terus kita jajaki," ungkapnya. 

 

 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya