IHSG Diprediksi Menguat, Cek Rekomendasi Saham Hari Ini 23 Februari 2026

Berikut prediksi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan rekomendasi saham pada perdagangan saham Sebin, (23/2/2026).

oleh Agustina MelaniDiterbitkan 23 Februari 2026, 07:42 WIB
Laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berpeluang menguat pada perdagangan saham Senin, (23/2/2026). (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Liputan6.com, Jakarta - Laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berpeluang menguat pada perdagangan saham Senin, (23/2/2026). IHSG hari ini akan bergerak di ksiaran 8.440-8.503. Lalu bagaimana strategi rekomendasi saham-nya?

IHSG melemah 0,03% ke posisi 8.271 dan masih didominasi oleh tekanan jual pada perdagangan saham Jumat, 20 Februari 2026.

“Best case, apabila IHSG mampu bertahan di atas 8.170, IHSG masih berpeluang melanjutkan penguatannya untuk membentuk bagian dari wave © dari wave [x] ke rentang 8.440-8.503,” kata Herditya dalam catatannya.

Herditya menuturkan, waspadai akan ada potensi koreksi IHSG ke 8.059-8.119. Ia mengatakan, IHSG akan berada di level support 8.170,8.025 dan level resistance 8.408,8.596 pada perdagangan saham Senin pekan ini.

Sementara itu, dalam riset PT Pilarmas Investindo Sekuritas menyebutkan, IHSG berpotensi menguat terbatas dengan level support dan level resistance 8.200-8.360.

Rekomendasi Saham

Untuk rekomendasi saham hari ini, PT Pilarmas Investindo Sekuritas memilih saham PT Archi Indonesia Tbk (ARCI), PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS), dan PT XL Axiata Tbk (EXCL).

Herditya memilih saham PT Blue Bird Tbk (BIRD), PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS), PT Vale Indonesia Tbk (INCO), dan PT PAM Mineral Tbk (NICL).

Rekomendasi Teknikal

Berikut rekomendasi teknikal dari MNC Sekuritas:

1.PT Blue Bird Tbk (BIRD) - Spec Buy

Saham BIRD menguat 0,57% ke 1.750 dan masih didominasi oleh volume pembelian dengan kecenderungan mengecil.

“Selama masih mampu berada di atas 1.710 sebagai stoplossnya, posisi BIRD saat ini diperkirakan berada pada bagian dari wave (v) dari wave [i],”  ujar Herditya.

Spec Buy: 1.725-1.740

Target Price: 1.765, 1.785

Stoploss: below 1.710

 

2.PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) - Buy on Weakness

Saham BRMS menguat 0,47% ke 1.060 tetapi disertai dengan munculnya tekanan jual, pergerakannya pun belum mampu menembus MA20.

“Kami perkirakan, posisi BRMS sedang berada pada bagian dari wave ii dari wave (c) dari wave [b],” kata dia.

Buy on Weakness: 985-1.035

Target Price: 1.120, 1.225

Stoploss: below 900

 

 

Rekomendasi Teknikal Lainnya

Pekerja menatap layar monitor yang menampilkan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Jumat (7/2/2025). (Liputan6.com/Angga Yuniar)

3.PT Vale Indonesia Tbk (INCO) - Buy on Weakness

Saham INCO menguat 0,73% ke 6.900 dan disertai dengan munculnya volume pembelian. “Saat ini, posisi INCO diperkirakan berada pada bagian dari wave [iv] dari wave 5,” ujar dia.

Buy on Weakness: 6.425-6.775

Target Price: 7.225, 7.625

Stoploss: below 6.350

 

4.PT Pam Mineral Tbk (NICL) - Buy on Weakness

Saham NICL terkoreksi 4,38% ke 1.200 dan disertai dengan tekanan jual, pergerakannya pun belum mampu break dari MA60. Herditya menuturkan, pihaknya memperkirakan, posisi NICL saat ini berada pada bagian dari wave B dari wave (B).

Buy on Weakness: 1.100-1.170

Target Price: 1.375, 1.470

Stoploss: below 1.040

 

 

  Disclaimer: Setiap keputusan investasi ada di tangan pembaca. Pelajari dan analisis sebelum membeli dan menjual saham. Liputan6.com tidak bertanggung jawab atas keuntungan dan kerugian yang timbul dari keputusan investasi

Penutupan IHSG pada 20 Februari 2026

Pejalan kaki melintas dekat layar pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di kawasan Jakarta, Senin (13/1/2020). IHSG menguat 0,34 persen atau 21 poin ke level 6.296 pada penutupan perdagangan Senin (13/1) sore ini. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Sebelumnya, laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melemah tipis pada perdagangan saham Jumat (20/2/2026). Koreksi IHSG hari ini terjadi di tengah mayoritas sektor saham yang tertekan dan nilai tukar rupiah menguat terhadap dolar Amerika Serikat.

Mengutip data RTI, IHSG hari ini ditutup turun terbatas 0,03% menjadi 8.271,76. Indeks saham LQ45 menguat 0,12% ke posisi 835,27. Sebagian besar indeks saham acuan menghijau.

Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nico Demus menuturkan, jelang akhir pekan, IHSG di zona melemah seiring sentimen eksternal.

Dari mancanegara, bursa kawasan Asia melemah di tengah peningkatan militer Amerika Serikat (AS) di kawasan Timur Tengah.

"Pelaku pasar mempertimbangkan risiko geopolitik, yang mana ketegangan antara AS dan Iran meningkat setelah Presiden AS Donald Trump menetapkan tenggat waktu 10-15 hari untuk pembicaraan kesepakatan nuklir,” ujar Nico dikutip dari Antara.

Nico menuturkan, pelaku pasar menilai tindakan Trump terkait tenggat waktu tersebut, memberikan indikasi bagaimana AS menekan Iran dalam perundingan.

 

Sentimen IHSG Lainnya

Layar yang menampilkan informasi pergerakan saham di gedung Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Senin (8/6/2020). Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat 1,34% ke level 5.014,08 pada pembukaan perdagangan sesi I, Senin (8/6). (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Pada saat sama, AS telah mengerahkan militer terbesar di kawasan Timur Tengah sejak invasi Irak tahun 2003, yang meningkatkan prospek operasi lebih luas dan berkelanjutan.

Dengan demikian, peristiwa ini meningkatkan risiko bahwa konflik AS dan Iran dapat mendorong Iran untuk membatasi lalu lintas melalui Selat Hormuz, koridor penting untuk ekspor minyak mentah dari kawasan tersebut.

Trump memperingatkan Teheran untuk mencapai kesepakatan tentang program nuklirnya atau menghadapi konsekuensi, sementara Iran mengisyaratkan potensi pembalasan terhadap pangkalan AS jika diserang.

Dari dalam negeri, pemerintah Indonesia dan AS resmi menandatangani draft kesepakatan tarif AS sebesar 19 persen, yang diwakili dari Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Indonesia bersama bersama Perwakilan Dagang AS.

“Draft kesepakatan tentunya akan memberikan kepastian para pelaku usaha dan investor, tetapi di sisi lain belum ada penjelasan resmi kapan kesepakatan tarif tersebut berlaku,” kata dia.

 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya