BEI Proses IPO 8 Perusahaan, Mayoritas Beraset Jumbo

Bursa Efek Indonesia (BEI) menyebutkan delapan perusahaan masuk pipeline pencatatan saham. Berikut sektornya.

oleh Agustina MelaniDiterbitkan 23 Februari 2026, 06:59 WIB
Bursa Efek Indonesia (BEI) menyatakan ada delapan perusahaan dalam pipeline pencatatan saham (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Liputan6.com, Jakarta - Bursa Efek Indonesia (BEI) menyatakan ada delapan perusahaan dalam proses penawaran saham perdana atau initial public offering (IPO) untuk pencatatan saham di BEI hingga kini. Dari delapan perusahaan itu, mayoritas ber-aset jumbo.

Demikian disampaikan Direktur Penilaian Perusahaan BEI I Gede Nyoman Yetna, ditulis Senin (23/2/2026).

“Hingga saat ini, terdapat delapan perusahaan dalam pipeline pencatatan saham di BEI,” ujar dia.

Adapun hingga 20 Februari 2026 belum ada aktivitas pencatatan saham di BEI.

Sementara itu, berdasarkan klasifikasi aset peruashaan yang kini berada dalam pipeline merujuk pada POJK Nomor 53/POJK.4/2017 yakni tiga perusahaan dari ases skala menengah (aset antara Rp 50 miliar-Rp 250 miliar) dan lima perusahaan aset skala besar (aset di atas Rp 250 miliar).

Berikut rincian sektornya:

  • 2 perusahaan dari sektor basic materials
  • 0 perusahaan dari sektor consumer siklikal
  • 1 perusahaan dari sektor consumer nonsiklikal
  • 1 perusahaan dari sektor energi
  • 2 perusahaan dari sektor keuangan
  • 0 perusahaan dari sektor perawatan kesehatan
  • 1 perusahaan dari sektor industri
  • 0 perusahaan dari sektor infrastruktur
  • 0 perusahaan dari sektor properti dan real estate
  • 0 perusahaan dari sektor teknologi
  • 1 perusahaan dari sektor transportasi dan logistic

Selain itu, BEI mencatat hingga kini telah diterbitkan 2 emisi dari 13 penerbit efek bersifat utang dan sukuk (EBUS) dengan dana yang dihimpun sebesar Rp 15,71 triliun.

“Sampai dengan 20 Februari 2026 terdapat 30 emisi dari 21 penerbit EBUS yang sedang berada dalam pipeline,” kata Nyoman.

Berikut klasifisikasinya:

  • 2 perusahaan dari sektor basic materials
  • 0 perusahaan dari sektor consumer siklikal
  • 1 perusahaan dari sektor consumer nonsiklikal
  • 4 perusahaan dari sektor energi
  • 10 perusahaan dari sektor keuangan
  • 0 perusahaan dari sektor perawatan kesehatan
  • 1 perusahaan dari sektor industri
  • 3 perusahaan dari sektor infrastruktur
  • 0 perusahaan dari sektor properti dan real estate
  • 0 perusahaan dari sektor teknologi
  • 0 perusahaan dari sektor transportasi dan logistic

Selain itu, BEI juga menyampaikan terdapat tiga perusahaan tercatat yang telah menerbitkan rights issue senilai Rp 3,75 triliun hingga 20 Februari 2026.

“Serta masih terdapat satu perusahaan tercatat dalam pipeline rightsissue BEI dengan rincian dari sektor properti dan real estate,” kata dia.

BEI soal Revisi Outlook Lembaga Pemeringkat, Fundamental Emiten Tetap Kuat

Suasana di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Senin (2/11/2015). Pelemahan indeks BEI ini seiring dengan melemahnya laju bursa saham di kawasan Asia serta laporan kinerja emiten triwulan III yang melambat. (Liputan6.com/Immanuel Antonius)

Sebelumnya, PT Bursa Efek Indonesia (BEI) memandang revisi outlook peringkat kredit Indonesia oleh lembaga pemeringkat internasional belum memberikan dampak berarti terhadap pasar modal Indonesia. Bursa menilai performa serta fundamental perusahaan tercatat atau emiten tetap berada pada level yang kokoh.

Pejabat Sementara Direktur Utama BEI Jeffrey Hendrik menyampaikan, sampai saat ini belum tampak tekanan signifikan di level emiten sebagai imbas dari perubahan outlook tersebut. Ia menegaskan, pelaku pasar tetap lebih menitikberatkan pada evaluasi kinerja perusahaan secara mikro.

"Terkait dengan outlook, kami secara mikro melihat bahwa sejauh ini fundamental perusahaan-perusahaan tercatat kita masih kuat,” kata Jeffrey dalam konferensi pers di Gedung BEI, Jakarta, Senin (9/2/2026).

Jeffrey menambahkan, BEI terus mengingatkan investor agar mengambil keputusan secara rasional dengan mempertimbangkan fundamental emiten serta menyesuaikannya dengan profil risiko masing-masing. Menurut dia, reaksi pasar semestinya tidak hanya bertumpu pada penilaian dari pihak eksternal.

 

Langkah Lembaga Pemeringkat

Layar grafik pergerakan saham di Gedung BEI, Jakarta, Rabu (14/10/2020). Pada pembukaan perdagangan pukul 09.00 WIB, IHSG masih naik, namun tak lama kemudian, IHSG melemah 2,3 poin atau 0,05 persen ke level 5.130, 18. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Sebelumnya, lembaga pemeringkat internasional Moody’s Ratings telah menurunkan prospek peringkat kredit Indonesia menjadi negatif dari stabil.  Moodys menilai, perubahan prospek ini karena berkurangnya prediktabilitas dalam pembuatan kebijakan. Akan tetapi, Moody’s mempertahankan peringkat Indonesia di peringkat Baa2.

Peringkat obligasi senior tanpa jaminan mata uang lokal dan asing ditegaskan pada Baa2 dan obligasi senior tanpa jaminan jangka menengah atau medium term notes (MTN) dan obligasi senior tanpa jaminan dalam mata uang asing. Adapun peringkat Baa2 termasuk dalam kategori investment grade yang artinya negara atau entitas yang dinilai masih dianggap layan sebagai tujuan investasi. Namun, peringkat ini tidak sekuat peringkat lebih tinggi dan menunjukkan tingkat risiko moderat.

Mengutip the Edge Malaysia, Kamis, 5 Februari 2026, Moody’s mempertahankan peringkat di Baa2 dengan outlook menjadi negatif dari stabil mencerminkan risiko terhadap efektivitas kebijakan dan tanda-tanda melemahnya tata kelola.

“Jika berlanjut, tren ini dapat mengikis kredibilitas kebijakan Indonesia yang telah mapan, yang telah mendukung pertumbuhan ekonomi yang solid dan stabilitas makroekonomi, fiskal dan keuangan,” kata Moody’s.

 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya