Analis: Kepastian Tarif AS 19% Suntik Sentimen Positif ke Pasar Saham

Indonesia dan Amerika Serikat telah tandatangani tarif resiprokal 19%. Begini dampaknya ke pasar saham.

oleh Tira SantiaDiterbitkan 22 Februari 2026, 17:54 WIB
Finalisasi perjanjian dagang antara Indonesia dan Amerika Serikat yang menetapkan tarif resiprokal sebesar 19% bakal berdampak ke pasar saham. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Liputan6.com, Jakarta - Finalisasi perjanjian dagang antara Indonesia dan Amerika Serikat yang menetapkan tarif resiprokal sebesar 19% dinilai membawa angin positif bagi pasar saham domestik. Senior Market Chartist Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, menilai, hal yang paling dibutuhkan investor saat ini adalah kepastian.

“Di sini yang terpenting adalah kepastian,” kata Nafan kepada Liputan6.com, Minggu (22/2/2026).

Dia menuturkan, pasar keuangan pada dasarnya lebih sensitif terhadap ketidakpastian dibandingkan terhadap kebijakan itu sendiri. Selama angka tarif sudah jelas dan tidak berubah-ubah, pelaku pasar dapat menghitung risiko secara lebih terukur.

“Karena dengan adanya kepastian ini biasanya menurut saya ini bukan merupakan sentimen negatif. Investor kan menghendaki adanya kepastian, yang paling penting itu,” ujarnya.

Nafan menambahkan, ketidakjelasan kebijakan justru berpotensi memicu tekanan lebih dalam terhadap Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).

“Kecuali jika tidak ada kepastian, akan memberikan dampak atau uncertainty akan memberikan sentimen negatif bagi market kita, atau IHSG misalnya,” ungkapnya.

Risiko Sudah Tercermin di Pasar

Nafan menjelaskan, sebagian risiko sebenarnya telah tercermin dalam pergerakan pasar sebelumnya. Tren penurunan ekspor Indonesia ke Amerika Serikat, penyempitan surplus neraca perdagangan, hingga depresiasi rupiah terhadap dolar AS sudah menjadi sinyal awal tekanan eksternal.

Dengan demikian, penetapan tarif 19% dinilai bukan kejutan besar bagi pelaku pasar. Dalam banyak kasus, pasar saham cenderung melakukan pricing in terhadap potensi risiko sebelum kebijakan benar-benar difinalisasi.

“Jadi, kalau dengan adanya kepastian, dengan angka yang pasti di tarif 19%, tentunya ada mitigasi resikonya, hemat saya demikian. Seperti itu,” ujarnya.

 

IHSG Berpeluang Stabil di Tengah Tekanan Ekspor

Petugas kebersihan bekerja di depan layar Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Jumat (22/1/2021). Transaksi bursa agak surut dengan nyaris 11 miliar saham diperdagangkan sebanyak lebih dari 939.000 kali. (Liputan6.com/Johan Tallo)

Meski volume ekspor Indonesia ke AS berpotensi menurun akibat kebijakan tarif tersebut, Nafan melihat stabilitas pasar tetap dapat terjaga. Hal ini karena pelaku pasar kini memiliki gambaran yang lebih jelas mengenai arah kebijakan perdagangan kedua negara.

Dia menilai, dampak negatif terhadap IHSG lebih mungkin terjadi jika ketidakpastian berlarut-larut. Dengan adanya angka tarif yang pasti, investor dapat melakukan penyesuaian strategi investasi secara rasional.

“Kita juga masih memiliki tingkat likuiditas yang memadai sebagai bantalan dalam menghadapi mitigasi tekad dengan salah satu global sentiment, yaitu US Reciprocal Tariff. Ini cuma hemat saya. Apalagi domestic consumption kita juga kuat,” pungkasnya.

 

Indonesia Resmi Teken Tarif Resiprokal AS 19 Persen, Ribuan Produk Diatur

Presiden RI Prabowo Subianto dan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump resmi meneken perjanjian dagang. (Biro Pers Sekretariat Presiden)

Sebelumnya, Indonesia resmi menanyepakati perjanjian perdagangan dengan tarif resiprokal 19 persen dengan Amerika Serikat (AS). Ada 1.819 pos tarif yang diatur dalam kesepakatan dagang kedua negara.

Penandatanganan Agreement on Reciprocal Trade (ART) dilakukan oleh Presiden Prabowo Subianto dan Presiden AS Donald Trump. Kesepakatan diteken pascaagenda perdana pertemuan Dewan Perdamaian untuk Gaza atau Board of Peace (BoP).

"Indonesia dan Amerika Serikat sepakat untuk memperkuat kerjasama ekonomi," ungkap Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto dalam konferensi pers daring, Jumat (20/2/2026).

Dia mengisahkan perjalanan negosiasi yang dimulai sejak April 2025 lalu ketika Donald Trump mengumumkan Indonesia dikenakam tarif resiprokal 32 persen. Negosiasi berujung pada penurynan tarif menjadi 19 persen dengan berbagai ketentuan tambahan lainnya.

"90 persen daripada dokumentasi yang dikirim oleh Indonesia dipenuhi oleh Amerika. Jadi usulan Indonesia dipenuhi oleh Amerika yang tertuang dalam Agreement on Reciprocal Tariff," ucapnya.

Hasilnya, dua Kepala Negara menandatangani ART yang mencakup 1.819 pos tarif. Sebagian komoditas bahkan mendapat pembebasan tarif. "Dalam ART ini ada 1.819 post tarif produk Indonesia baik itu pertanian maupun industri," Menko Airlangga menambahkan.

Minyak Sawit RI Bebas Tarif Masuk AS

ISPO kembali menyerahkan sertifikat kepada 40 perusahaan kelapa sawit di Indonesia 5 diantaranya dikantongi anak perusahaan Astra Agro. (Foto: Astra Agro)

Sebelumnya, sejumlah komoditas pertanian hingga produk manufaktur asal Indonesia tak akan dikenakam tarif bea masuk ke Amerika Serikat (AS). Ada minyak kelapa sawit, kakao, hingga tekstil dan garmen RI yang dibebaskan dari tarif resiprokal AS.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto menyampaikan, hal tersebut tertuang dalam Agreement of Reciprocal Trade (ART) yang diteken Presiden Prabowo Subianto dan Presiden AS Donald Trump. Total ada, 1.819 pos tarif yang diatur dalam beleid tersebut, minyak sawit, kopi hingga kakao dibebaskan dari tarif.

"Minyak sawit, kopi, kakao, rempah-rempah, karet, komponen elektronik termasuk semikonduktor, komponen pesawat terbang, yang tarifnya adalah 0 persen," ungkap Airlangga dalam konferensi pers daring, Jumat (20/2/2026).

Tekstil dan Garmen Bebas Tarif Bersyarat

Selain komoditas tadi, ada produk lainnya yang juga mendapatkan pembebasan tarif dengan skema berbeda. Yakni, produk tekstil dan garmen asal Indonesia akan mendapat tarif 0 persen dengan kuota tertentu.

"Khusus untuk produk tekstil dan aparel Indonesia, Amerika juga akan memberikan tarif 0 persen dengan mekanisme tarif rate quota atau TRQ," ujarnya.

"Tentunya ini memberikan manfaat bagi 4 juta pekerja di sektor ini, dan kalau kita hitung dengan keluarga, ini sangat berpengaruh terhadap 20 juta masyarakat Indonesia," sambung Menko Airlangga Hartarto.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya