Liputan6.com, Jakarta - Bulan Ramadhan adalah bulan yang penuh berkah dan ampunan. Di penghujungnya, terdapat sepuluh hari terakhir yang memiliki keistimewaan luar biasa, di mana di dalamnya terdapat malam yang lebih baik dari seribu bulan, yaitu Lailatul Qadar. Sunnah i’tikaf di 10 hari terakhir Ramadhan menjadi anjuran demi mendapatkan berkah penutup Ramadhan, Itqun minan Nar (fase pembebasan dari api neraka).
Sepuluh hari terakhir Ramadhan adalah kesempatan yang tidak boleh disia-siakan. Dengan beri'tikaf, seorang muslim tidak hanya mengejar Lailatul Qadar, tetapi juga melatih jiwa untuk konsisten dalam ketaatan, menjauh dari hiruk-pikuk dunia, dan mendekatkan diri kepada Allah dengan sepenuh hati.
Advertisement
Rasulullah SAW senantiasa menghidupkan sepuluh malam terakhir Ramadhan dengan i'tikaf, sebagaimana dicontohkan oleh para istri dan sahabat Nabi. Merujuk Ebook Fiqih Ringkas I'tikaf, M. Nur Ichwan Muslim, Masjid Nusantara dan sumber relevan lainnya berikut ini adalah pengertian, hukum hingga tata cara sunnah i'tikaf.
Pengertian I'tikaf dan Dalilnya
Secara bahasa (lughatan), i'tikaf berarti "menahan diri" atau "memenjarakan". Imam al-Fayumi dalam Al-Mishbah al-Munir menyebutkan bahwa i'tikaf berarti menahan diri dari berbagai kegiatan yang rutin dikerjakan.
Secara istilah syar’i (syar’an), para ulama memiliki redaksi yang berbeda, namun pada intinya i'tikaf adalah berdiam diri di dalam masjid untuk beribadah kepada Allah, yang dilakukan oleh orang tertentu dengan tata cara tertentu.
Definisi ini mencakup tiga unsur utama: berdiam di masjid, niat beribadah, dan dilakukan oleh Muslim yang berakal.
I'tikaf disyariatkan berdasarkan dalil dari Al-Qur'an, Sunnah, dan Ijma' ulama.
Dalil dari Al-Qur'an
Perintah untuk membersihkan masjid bagi yang i'tikaf:
"Dan telah Kami perintahkan kepada Ibrahim dan Ismail: 'Bersihkanlah rumah-Ku untuk orang-orang yang thawaf, yang i'tikaf, yang ruku’ dan yang sujud.'" (QS. Al-Baqarah: 125). Ayat ini menunjukkan bahwa i'tikaf adalah aktivitas ibadah yang dilakukan di masjid, sehingga masjid harus disucikan untuk mereka.
Larangan mencampuri istri saat i'tikaf:
"(Tetapi) janganlah kamu campuri mereka itu, sedang kamu beri'tikaf dalam masjid." (QS. Al-Baqarah: 187)
Imam Ibnu Katsir dalam Tafsir Al-Qur'an Al-'Azhim menjelaskan bahwa larangan ini mengindikasikan bahwa i'tikaf adalah ibadah yang agung, sehingga pelakunya harus menjaga diri dari hal-hal yang membatalkannya.
Dalil dari Sunnah
Kebiasaan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam: "Bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa beri'tikaf pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan hingga Allah mewafatkan beliau." (HR. Bukhari No. 1922 dan Muslim No. 1172)
Aisyah radhiallahu ‘anha juga meriwayatkan bahwa Rasulullah beri'tikaf pada sepuluh hari terakhir Ramadhan hingga wafat, kemudian para istrinya pun beri'tikaf setelah beliau wafat (HR. Bukhari dan Muslim).
Perintah untuk mencari Lailatul Qadar dengan i'tikaf: "Carilah Lailatul Qadar di sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan." (HR. Bukhari No. 1917 dan Muslim No. 1169)
Ijma' Ulama
Para ulama sepakat bahwa i'tikaf adalah ibadah yang disyariatkan. Imam Ibnu Qudamah dalam Al-Mughni menyatakan, kaum muslimin sepakat tentang disyariatkannya i'tikaf. Imam Ibnul Mundzir juga menegaskan hal serupa dalam kitabnya Al-Ijma'.
Hukum dan Hikmah I'tikaf
Hukum asal i'tikaf adalah sunnah (mustahab) atau dianjurkan, terutama di sepuluh hari terakhir Ramadhan. Namun, bisa menjadi wajib jika seseorang bernadzar untuk melakukannya, sebagaimana hadits Umar bin Khattab radhiallahu ‘anhu yang pernah bernadzar i'tikaf di Masjidil Haram, lalu Rasulullah memerintahkannya untuk menunaikan nadzar tersebut (HR. Bukhari No. 1927).
Imam An-Nawawi dalam Al-Majmu' menegaskan i'tikaf sunnah menurut kesepakatan ulama, kecuali jika seseorang mewajibkannya atas dirinya dengan nadzar.
Imam Ibnul Qayyim rahimahullah dalam Zadul Ma'ad (2/82) menjelaskan, kebaikan dan konsistensi hati dalam berjalan menuju Allah tergantung kepada terkumpulnya kekuatan hati kepada Allah dan menghadapkan hati secara total kepada-Nya.
Makan dan minum berlebihan, terlalu sering bergaul, banyak bicara, dan tidur merupakan faktor-faktor yang memperkeruh hati. Maka rahmat Allah menuntut pensyariatan puasa yang mampu mengikis hal itu, dan juga pensyariatan i'tikaf agar hati fokus beribadah, berkhalwat dengan-Nya, dan memutus kesibukan dengan makhluk."
Dengan i'tikaf, seorang hamba dapat merenung, memperbanyak dzikir, dan mempersiapkan diri meraih ridha Allah, terutama di malam-malam penuh kemuliaan.
Tata Cara I'tikaf sesuai Sunnah
Berikut adalah langkah-langkah praktis melaksanakan i'tikaf:
1. Niat
Niat adalah syarat sah i'tikaf. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, "Sesungguhnya setiap amalan tergantung pada niatnya." (HR. Bukhari No. 1, Muslim No. 1907). Niat cukup di dalam hati, misalnya: "Saya niat i'tikaf di masjid ini karena Allah ta'ala."
2. Memasuki Masjid
Disunnahkan memasuki masjid sebelum matahari terbenam pada malam ke-21 Ramadhan (HR. Muslim No. 1167). Dianjurkan untuk mandi, memakai wewangian, dan pakaian terbaik, serta shalat sunnah tahiyatul masjid ketika masuk.
3. Menyendiri di Tempat Khusus
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membuat tenda kecil (kemah) di dalam masjid untuk beri'tikaf (HR. Muslim No. 1167). Hal ini membantu konsentrasi ibadah dan menghindari hal-hal yang tidak bermanfaat. Bagi wanita, lebih ditekankan membuat sekat agar tidak terlihat laki-laki (untuk menghindari fitnah) (Al-Inshaf 7/582).
4. Tidak Keluar Masjid Kecuali untuk Kebutuhan Mendesak
'Aisyah radhiallahu ‘anha berkata, "Rasulullah tidak masuk rumah ketika i'tikaf kecuali untuk suatu kebutuhan (manusiawi)." (HR. Bukhari No. 1925, Muslim No. 297). Kebutuhan mendesak seperti buang air, makan jika tidak ada yang mengantarkan, atau mandi janabah. Keluar tanpa udzur membatalkan i'tikaf.
5. Beribadah dengan Aktif
I'tikaf bukan hanya diam pasif, melainkan diisi dengan berbagai ibadah.
Syarat-Syarat I'tikaf
Adapun syarat i'tikaf yakni:
- Islam – I'tikaf tidak sah dari orang kafir.
- Berakal dan Tamyiz – Orang gila, mabuk, atau pingsan tidak sah i'tikafnya.
- Suci dari Haid dan Nifas – Wanita yang sedang haid atau nifas tidak boleh berdiam di masjid.
- Niat – Membedakan i'tikaf dari aktivitas lain di masjid.
- Izin Suami bagi Istri, Izin Majikan bagi Budak – Karena hak suami/majikan harus dijaga. Ibnu Qudamah dalam Al-Mughni (3/151) menyatakan, "Istri tidak boleh i'tikaf kecuali seizin suami, demikian pula budak."
- Dilakukan di Masjid – Dalilnya QS. Al-Baqarah: 187 dan ijma' ulama. Imam Al-Qurthubi dalam Al-Jami' li Ahkamil Quran (2/324) berkata, "Para ulama sepakat bahwa i'tikaf tidak sah kecuali di masjid."
Kriteria Masjid untuk I'tikaf:
- Bagi laki-laki: Harus di masjid yang ditegakkan shalat berjamaah, karena ia wajib shalat berjamaah. Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma berkata, "Tidak ada i'tikaf kecuali di masjid yang ditegakkan shalat berjamaah di dalamnya." (HR. Abdullah bin Ahmad dalam Masail 2/673). Jika i'tikaf di masjid jami' (tempat shalat Jum'at), maka lebih utama.
- Bagi perempuan: Diperbolehkan di masjid mana pun selama aman dari fitnah.
Amalan-Amalan yang Dianjurkan Ketika I'tikaf
1. Ibadah Mahdhah (Ritual)
- Shalat sunnah: Shalat tahajud, shalat sunnah rawatib, dan shalat sunnah mutlak.
- Membaca Al-Qur'an: Mentadabburi dan memperbanyak tilawah. Bulan Ramadhan adalah bulan Al-Qur'an.
- Dzikir dan Doa: Memperbanyak istighfar, tasbih, tahmid, tahlil, dan takbir. Khusus di sepuluh malam terakhir, perbanyak doa: "Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu ‘anni" (Ya Allah, Engkau Maha Pengampun dan menyukai ampunan, maka ampunilah aku) (HR. Tirmidzi No. 3513, shahih).
- Muhasabah (introspeksi diri): Merenungkan dosa dan merencanakan perbaikan diri.
2. Ibadah Muta'addiyah (Sosial) yang Ringan
- Mengeluarkan zakat jika waktunya tiba.
- Amar ma'ruf nahi munkar jika ada kesempatan tanpa mengurangi kekhusyukan.
- Menjawab salam.
- Memberi fatwa jika ditanya dan mampu.
Imam An-Nawawi dalam Al-Majmu' (6/528) dan ulama Hanafiyah dalam Fathul Qadir (2/396) membolehkan hal ini, berdasarkan hadits bahwa Rasulullah pernah berbincang dengan para istri dan berkhutbah kepada sahabat saat i'tikaf (HR. Bukhari No. 1933 dan Muslim No. 1167).
3. Meninggalkan Perkara yang Tidak Bermanfaat
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, "Di antara kebaikan Islam seseorang adalah meninggalkan hal yang tidak bermanfaat baginya." (HR. Tirmidzi No. 2318, hasan). Ini termasuk mengurangi pembicaraan duniawi, tidur berlebihan, dan aktivitas sia-sia lainnya.
4. Berpuasa (Bagi yang Mampu, Khusus di Luar Ramadhan)
Meskipun mayoritas ulama (Hanafiyah, Syafi'iyah, Hanabilah) berpendapat puasa bukan syarat sah i'tikaf, namun berpuasa saat i'tikaf di luar Ramadhan sangat dianjurkan karena merupakan kebiasaan Rasulullah. Ibnu 'Abbas radhiallahu ‘anhuma berpendapat, "Seorang yang i'tikaf tidak wajib berpuasa, kecuali ia mewajibkannya atas dirinya." (HR. Baihaqi dalam Sunan Al-Kubra No. 8370, shahih).
Perkara yang Diperbolehkan saat I'tikaf
Perkara yang Diperbolehkan Ketika I'tikaf:
1. Beraktivitas dan Tidur di Masjid
Konsekuensi dari berdiam di masjid adalah melakukan aktivitas biologis di dalamnya, selama tidak mengotori masjid. 'Aisyah radhiallahu ‘anha menceritakan bahwa Rasulullah biasa menyisir rambutnya saat i'tikaf, yang menunjukkan beliau berada di masjid dan berinteraksi dengan keluarganya yang menjenguk (HR. Bukhari No. 1925).
2. Dikunjungi Keluarga
Shafiyah radhiallahu ‘anha datang menjenguk Rasulullah saat i'tikaf (HR. Bukhari No. 1933). Namun, kunjungan hendaknya tidak lama agar tidak mengganggu kekhusyukan.
3. Menikah dan Menikahkan di Dalam Masjid
Imam An-Nawawi dalam Al-Majmu' (6/559) mengatakan, "Seorang mu'takif diperbolehkan menikah dan menikahkan. Ini ditegaskan oleh Asy-Syafi'i dan para sahabatnya sepakat, tidak ada khilaf dalam hal ini." Tentu saja, akad nikah dilakukan di masjid tempat i'tikaf dan tidak menyita waktu lama.
Hal yang Membatalkan I'tikaf
- Jima' (bersetubuh) – Dalil QS. Al-Baqarah: 187. Para ulama sepakat bahwa jima' membatalkan i'tikaf (Al-Jami' li Ahkamil Quran 2/324, Maratibul Ijma' hlm. 41).
- Bercumbu dengan syahwat yang mengeluarkan mani – Jumhur ulama berpendapat hal ini membatalkan i'tikaf karena termasuk dalam pengertian mubasyarah yang dilarang.
- Keluar dari masjid tanpa udzur syar'i – Ibnu Hazm dalam Maratibul Ijma' (hlm. 48) menyatakan adanya ijma' bahwa keluar tanpa kebutuhan membatalkan i'tikaf.
- Murtad (keluar dari Islam).
- Hilang akal (gila atau pingsan).
- Haid atau nifas – Karena wanita tidak boleh berdiam di masjid dalam kondisi tersebut.
Keutamaan I'tikaf 10 Hari Terakhir Ramadhan
Berikut adalah 5 keutamaan utama melaksanakan i'tikaf di 10 hari terakhir Ramadhan:
1. Meraih Lailatul Qadar (Malam yang Lebih Baik dari 1.000 Bulan)
Ini adalah tujuan utama dan keutamaan terbesar i'tikaf di sepuluh hari terakhir.
Rasulullah bersabda, "Carilah Lailatul Qadar di sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan."(HR. Bukhari No. 1917 dan Muslim No. 1169)
Dengan beri'tikaf, seorang muslim berdiam di masjid untuk menghidupkan malam-malam ganjil (21, 23, 25, 27, 29) yang dijanjikan di dalamnya terdapat malam mulia tersebut. Siapa yang beribadah pada malam Lailatul Qadar karena iman dan mengharap pahala, diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.
2. Mengikuti Jejak dan Meneladani Rasulullah
I'tikaf adalah ibadah yang secara konsisten dilakukan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam hingga akhir hayatnya.
Aisyah radhiallahu ‘anha meriwayatkan, "Bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa beri'tikaf pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan hingga Allah mewafatkan beliau."(HR. Bukhari No. 1922 dan Muslim No. 1172)
Melakukan i'tikaf berarti menghidupkan sunnah dan meraih kecintaan Allah dengan mengikuti jejak kekasih-Nya.
3. Memfokuskan Hati Secara Total kepada Allah (Tafarrugh li Tha'atillah)
I'tikaf adalah momentum "khalwat" (menyendiri) dengan Allah di tengah hiruk-pikuk dunia.
Imam Ibnul Qayyim, dalam kitabnya Zadul Ma'ad menjelaskan bahwa hikmah i'tikaf adalah untuk mengumpulkan kekuatan hati agar fokus beribadah kepada Allah, memutus kesibukan dengan makhluk, dan hanya menghadap kepada-Nya. Ini membersihkan hati dari "kekeruhan" akibat terlalu banyak bergaul, bicara, dan tidur.
4. Perlindungan dari Gangguan Setan dan Hawa Nafsu
Dengan mengurung diri di masjid, seorang muslim "memenjarakan" dirinya dari maksiat dan hal-hal yang melalaikan.
Dalam Fiqih I'tikaf, disebutkan bahwa i'tikaf membentengi seorang hamba dari godaan setan yang datang melalui pandangan, pendengaran, dan bisikan. Ia juga menahan hawa nafsu untuk tidak keluar mencari kesenangan duniawi yang dapat melalaikan dari ibadah.
5. Pembersihan Dosa dan Peningkatan Derajat
Kesungguhan dalam beribadah di sepuluh malam terakhir melalui i'tikaf (shalat, baca Al-Qur'an, dzikir, doa) menjadi sarana penghapus dosa.
Rasulullah SAW bersabda tentang keutamaan Ramadhan, "Barangsiapa yang berpuasa Ramadhan karena iman dan mengharap pahala, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu."(HR. Bukhari No. 1901)
I'tikaf di penghujung Ramadhan adalah penyempurna puasa dan shalat malam, sehingga seorang hamba keluar dari bulan suci dalam keadaan bersih dan derajatnya terangkat di sisi Allah.
People also Ask:
Kenapa kita dianjurkan i'tikaf di 10 hari terakhir bulan puasa?
PEKANBARU - I'tikaf adalah ibadah yang dianjurkan, terutama di sepuluh malam terakhir bulan Ramadan. Ibadah ini dilakukan dengan cara bermalam di masjid sebagai langkah mendekatkan diri kepada Allah SWT. Para Mu'takif (orang yang beri'tikaf) menjauhi kesibukan duniawi.
Itikaf mulai jam berapa sampai jam berapa?
I'tikaf Mulai Jam Berapa? Berdasarkan berbagai sumber, tidak ada batasan waktu tertentu untuk melaksanakan i'tikaf. Namun, ibadah ini utamanya dikerjakan pada 10 hari terakhir di bulan Ramadan mulai dari sebelum matahari terbenam di malam ke-20 atau ke-21 sampai sebelum sholat Idul Fitri.
Bagaimana cara itikaf yang benar?
Ringkasan AIIni Dia Niat dan Tata Cara I'tikaf yang Benar Sesuai SunnahCara itikaf yang benar adalah dimulai dengan niat ikhlas karena Allah, berdiam diri di masjid, memperbanyak ibadah seperti salat sunah, membaca Al-Qur'an, zikir, doa, dan bersalawat, serta menghindari hal-hal duniawi dan perkataan sia-sia, terutama di 10 hari terakhir Ramadan untuk mengejar Lailatul Qadar. Keringanan ada untuk keluar masjid hanya karena darurat (makan/minum/buang hajat).
10 hari terakhir Ramadhan, apa yang harus dilakukan?
Amalan-Amalan Terbaik di 10 Hari Terakhir RamadhanI'tikaf di Masjid. ...Memperbanyak Salat Malam. ...Membaca dan Tadabbur Al-Qur'an. ...Memperbanyak Doa, Terutama Doa Lailatul Qadar. ...Bersedekah dengan Harta dan Tenaga. ...6. Memperbanyak Dzikir dan Istighfar. ...7. Membangunkan Keluarga untuk Ibadah. ...Menghindari Perbuatan Sia-Sia.