Liputan6.com, Jakarta - Puasa perspektif kesehatan ruhani dan psikologi islami melihat shaum tidak hanya dipahami sebagai kewajiban ritual (mahdhah), tetapi juga memiliki dimensi mendalam bagi kesehatan ruhani dan psikologis manusia.
Puasa merupakan rukun Islam ketiga yang bersifat wajib bagi setiap Muslim yang memenuhi syarat, sebagaimana termaktub dalam QS. Al-Baqarah: 183: "Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa."
Advertisement
Hanya saja, di era modern, tidak sedikit orang yang memandang puasa sekadar sebagai ritual keagamaan tanpa menyelami dampaknya terhadap kesehatan fisik dan mental. Bahkan, sebagian kalangan medis menyamakan puasa Islam dengan starvasi (kelaparan ekstrem) sehingga mengabaikan manfaat psikospiritualnya.
Padahal, Rasulullah SAW bersabda dalam hadis yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah: "Berpuasalah, niscaya kamu akan sehat." (HR. Thabrani). Dalam perspektif psikologi Islami, kesehatan mental tidak hanya berarti terbebas dari gangguan jiwa, tetapi juga mencakup kemampuan seseorang untuk mengaktualisasikan potensi dirinya secara selaras dengan nilai-nilai keimanan.
Puasa Perspektif Kesehatan Ruhani dan Psikologi Islami
Merujuk jurnal Pengaruh Puasa Terhadap Kesehatan Mental, oleh Yati Oktavia, dkk para ulama dan ilmuwan Muslim telah lama membahas efek puasa terhadap jiwa. Imam Al-Ghazali dalam kitab Ihya' Ulumuddin menguraikan secara panjang lebar tentang dimensi-dimensi puasa yang berdampak pada penyucian jiwa (tazkiyatun nafs).
Dalam konteks modern, para peneliti seperti Allan Cott, M.D. dalam bukunya Why Fasty membuktikan bahwa puasa dapat merekonstruksi sel-sel tubuh serta meningkatkan kesehatan psikis. Sementara itu, pakar psikologi Islam kontemporer seperti Prof. Zakiah Daradjat dan Prof. Malik B. Badri menegaskan bahwa keyakinan agama sangat berperan dalam membebaskan jiwa dari gangguan dan penyakit kejiwaan .
Hasil penelitian Yati Oktavia dkk. menunjukkan bahwa pada umumnya setiap orang senantiasa memiliki potensi mental yang sehat. Dengan berpuasa yang sungguh-sungguh dan diniati karena hanya untuk mendapatkan ridha Allah SWT, seseorang akan memiliki kekuatan (power) untuk menguasai lingkungan dan berintegritas secara baik.
Kekuatan dari puasa tersebut akan mampu menggerakkan dan mengarahkan nafsu manusia yang rendah (sufli) menuju maqam (kedudukan) jiwa yang ulwi (insan kamil).
Landasan Teologis, Puasa sebagai Jalan Menuju Takwa
Penelitian juga menemukan bahwa puasa, baik wajib maupun sunnah seperti puasa Senin-Kamis, memiliki pengaruh signifikan terhadap kesehatan mental siswa dan masyarakat. Apabila seseorang menjalankan ibadah puasa dengan baik dan benar, maka jiwa atau mentalnya akan baik, karena jiwa yang sehat akan mempengaruhi gaya hidup yang normal, berkepribadian yang baik hingga dapat tercipta masyarakat yang baik pula .
Tujuan utama disyariatkannya puasa adalah untuk mencapai derajat takwa, sebagaimana ditegaskan dalam QS. Al-Baqarah: 183. M. Quraish Shihab dalam Tafsir al-Misbah menjelaskan bahwa takwa adalah "memelihara diri dari siksaan Allah dengan mengikuti segala perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya."
Orang yang bertakwa senantiasa mendapat pimpinan dan bimbingan dari Allah SWT, sehingga dalam penghidupan dan perjuangannya akan memperoleh kemenangan .
Dalam konteks kesehatan mental, takwa merupakan fondasi utama. Prof. Zakiah Daradjat, pakar kesehatan mental terkemuka di Indonesia, mendefinisikan kesehatan mental sebagai "terwujudnya keharmonisan yang sungguh-sungguh antara fungsi-fungsi jiwa serta mempunyai kesanggupan untuk menghadapi problem-problem biasa yang terjadi, dan merasakan secara positif kebahagiaan dan kemampuan dirinya".
Menurutnya, orang yang sehat mentalnya adalah orang yang berperilaku, pikiran, dan perasaannya mencerminkan dan sesuai dengan ajaran Islam. Ini berarti, orang yang sehat mentalnya ialah orang yang di dalam dirinya terdapat keterpaduan antara perilaku, perasaan, pikirannya, dan jiwa keberagamaannya.
Konsep Kesehatan Ruhani dalam Islam, Tazkiyatun Nafs
Kesehatan ruhani dalam Islam identik dengan konsep tazkiyatun nafs (penyucian jiwa). Imam Al-Ghazali dalam kitab Ihya' Ulumuddin menjelaskan bahwa jiwa manusia memerlukan nutrisi spiritual sebagaimana raga memerlukan makanan. Puasa adalah salah satu sarana utama untuk menyucikan jiwa.
Al-Ghazali membagi puasa ke dalam tiga dimensi:
- Pertama, dimensi lahiriah (shaum al-bathn wa al-farj) - menahan diri dari makan, minum, dan hubungan seksual. Ini adalah syarat minimal puasa.
- Kedua, dimensi anggota badan (shaum al-jawarih) – puasanya panca indra dan seluruh anggota tubuh dari segala yang haram dan syubhat. Yakni mengunci penglihatan, pendengaran, lisan, tangan, dan kaki dari perbuatan dosa.
- Ketiga, dimensi hati (shaum al-qalb) – puasa total, di mana hati dan akal pikiran berpuasa dari segala keinginan, kerinduan, dan harapan kepada selain Allah. Inilah puncak pencapaian spiritual dalam berpuasa.
Menurut Al-Ghazali, seyogianya puasa seseorang merangkum ketiga dimensi tersebut agar memperoleh hasil optimal, bukan sekadar hasil minimal yaitu gugurnya kewajiban. Ketiga tingkatan puasa ini dan bagaimana masing-masing berdampak pada kualitas keimanan dan kesehatan jiwa seseorang.
Perspektif Psikologi Islami: Dampak Puasa pada Kesehatan Mental
Psikologi Islami memandang manusia sebagai makhluk yang memiliki dimensi fisik, psikis, dan spiritual. Kesehatan mental tercapai ketika ketiga dimensi tersebut berfungsi secara harmonis. Puasa memberikan kontribusi pada aspek-aspek berikut:
1. Puasa sebagai Pengobatan Jiwa (Psikoterapi)
Puasa dapat menjadi terapi bagi gangguan kejiwaan ringan seperti kecemasan, stres, dan frustrasi. Dengan berpuasa, seseorang belajar mengalihkan fokus dari pemenuhan kebutuhan fisik ke pencarian makna spiritual. Hal ini sejalan dengan pendekatan logoterapi Viktor Frankl yang menekankan pentingnya makna hidup. Dalam Islam, makna hidup diperoleh melalui kedekatan dengan Allah. Quraish Shihab mencatat bahwa puasa mengingatkan manusia bahwa mereka tidak sendiri; Allah selalu menyertai, sehingga rasa gelisah dapat mereda.
2. Pengendalian Hawa Nafsu dan Emosi Positif
Puasa melatih seseorang untuk menahan amarah, menjaga lisan, dan mengendalikan pandangan. Kemampuan ini penting dalam regulasi emosi. Menahan lapar juga terbukti secara fisiologis menurunkan kadar hormon kortisol (stres) jika dilakukan dengan pola yang benar. Emosi positif seperti sabar, syukur, dan ikhlas tumbuh subur saat berpuasa, dan ini merupakan fondasi kesehatan mental.
3. Meningkatkan Kecerdasan Sosial dan Empati
Rasa lapar yang dirasakan saat puasa membangkitkan empati terhadap kaum miskin yang serba kekurangan. Hal ini mendorong perilaku sosial seperti sedekah dan kepedulian. Keterhubungan sosial yang kuat merupakan salah satu faktor protektif terhadap gangguan mental. Puasa juga mengikis egoisme karena seseorang dilatih untuk merasakan penderitaan orang lain.
4. Pembentukan Kepribadian yang Tangguh (Resiliensi)
Kebiasaan menahan diri dan disiplin selama puasa membangun karakter tangguh yang mampu menghadapi tekanan hidup. Remaja dan siswa yang terbiasa puasa menunjukkan tingkat stres lebih rendah dan prestasi akademik lebih baik, karena mereka terlatih untuk fokus dan mengatur waktu.
Keyakinan agama berperan besar dalam membebaskan jiwa dari gangguan. Puasa memperkuat keyakinan tersebut melalui pengalaman spiritual langsung.
Fadhilah Puasa untuk Kecerdasan Emosional
Puasa, Kecerdasan Emosional, dan Kecerdasan SosialPuasa berdampak signifikan terhadap pengembangan kecerdasan emosional dan sosial:
1. Pengendalian Emosi dan Penumbuhan Emosi Positif
Puasa melatih seseorang untuk menahan amarah, menjaga lisan, dan mengendalikan pandangan. Hal ini sejalan dengan konsep al-imsak (menahan diri) yang menjadi esensi puasa. UIN Sunan Ampel Surabaya dalam publikasinya menyatakan bahwa puasa berarti memasuki proses pensucian hati (tashfiatul qolbi atau tazkiyatul qolbi), di mana hati dan daya nalar "dikarantina" untuk melakukan transmisi spirituality charging.
Emosi positif seperti sabar, syukur, ikhlas, dan harap (raja') tumbuh subur saat berpuasa. Allah berfirman dalam QS. Al-Baqarah: 153: "Hai orang-orang yang beriman, mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan shalat, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar."
2. Peningkatan Empati dan Kepedulian Sosial
Rasa lapar yang dirasakan saat puasa membangkitkan empati terhadap kaum miskin yang serba kekurangan. Hal ini mendorong perilaku sosial seperti sedekah, infak, dan zakat. Rasulullah SAW adalah teladan dalam hal ini:
"Rasulullah SAW adalah orang yang paling dermawan, dan kedermawanannya lebih menonjol lagi di bulan Ramadhan ketika Jibril menemuinya." (HR. Bukhari)
Keterhubungan sosial yang kuat merupakan faktor protektif terhadap gangguan mental. Puasa juga mengikis egoisme karena seseorang dilatih untuk merasakan penderitaan orang lain. Dr. Syamsuddin Arif dalam tulisannya di Republika menyebutkan bahwa penelitian psikologi modern membuktikan bahwa anak-anak yang mampu menunda kepuasan (sabar) memiliki prestasi lebih baik, emosi stabil, lebih mandiri, dan mampu mengendalikan diri dalam keadaan tertekan.
Manfaat Puasa dalam Kesehatan Jasmani dan Rohani
Sinergi antara dimensi lahiriah dan batiniah dalam puasa melahirkan keseimbangan (equilibrium) antara kekuatan jasmani dan rohani. UIN Sunan Ampel dalam publikasinya menjelaskan bahwa dengan berpuasa, manusia mampu melahirkan energi spiritualitas dalam kapasitas daya tahan tubuh yang cukup besar dan mampu mentransmisi seluruh jaringan kognisi, afeksi, dan psikomotoriknya .
Dalam kondisi ini, dalam diri manusia ada potensi kemandirian (independensi) emosional dan spiritual, sehingga segala bentuk pola pikir, pola sikap, dan pola tindak selalu dalam koridor hirarkhi ketuhanan (tauhid). Artinya, dengan berpuasa, seseorang mencitrakan dirinya menjadi hamba yang memiliki kesadaran dan kesanggupan sebagai khalifah fil ardhi yang mampu menabur benih-benih keteladanan, kesabaran, kedisiplinan, dan kesalehan sosial bagi lingkungannya .
Puasa yang dilakukan kaum muslim memiliki hikmah membentuk kepribadian muttaqin (character muttaqien). Kepribadian ini terimplementasi dalam bentuk sehatnya spiritual, di mana seseorang akan memiliki dzauk (rasa) bahwa segala gerak-gerik, ucapan, perbuatan selalu dalam pengawasan Allah SWT .
Identifikasi seseorang yang telah meraih sehat mental menurut Winarno adalah: terbebas dari ikatan raganya, hilang dalam jiwanya watak iri, dengki, benci, dendam, dan amarah. Ia akan menampakkan wajah berseri-seri, ceria, dan murah senyum, yang menandakan sehatnya jiwa.
People Also Ask:
Apa itu kesehatan dan psikologi dari perspektif Islam?
Psikologi kesehatan dari perspektif Islam berkaitan dengan pemahaman tentang interaksi faktor bio-sosial, psikologis, dan spiritual dalam kesehatan dan penyakit berdasarkan prinsip-prinsip petunjuk dari Al-Qur'an dan Hadits .
Apa tujuan utama dari puasa dalam perspektif Islam?
Jakarta, Berita UIN Online – Ibadah puasa di bulan Ramadan merupakan kewajiban spiritual bagi umat Muslim. Puasa bukan hanya tentang menahan diri dari lapar dan haus, tetapi juga untuk melatih serta meningkatkan ketakwaan setiap individu.
Manfaat puasa bagi kesehatan jasmani dan rohani?
Puasa memberikan manfaat bagi kesehatan jasmani dan rohani. Puasa memfasilitasi detoksifikasi dengan menghilangkan akumulasi racun dan bahan kimia dalam sistem pencernaan, ginjal, dan organ vital lainnya yang telah terpapar bahan pengawet, bahan tambahan makanan, pemanis buatan, karsinogen, asap rokok, dan lain-lain.
Manfaat puasa secara psikologis?
Studi oleh Sahaby dkk. (2022) menemukan bahwa puasa selama pandemi dapat meningkatkan kesejahteraan mental. Sementara itu, penelitian Jandali et al. (2024) menyatakan bahwa puasa Ramadan mampu meningkatkan kebahagiaan, kepuasan hidup, serta menurunkan tingkat stres, kecemasan, dan depresi.
Apa saja aspek kesehatan dalam perspektif Islam?
Prinsip-prinsip kesehatan dalam Islam mencakup kebersihan, makanan yang sehat dan halal, olahraga, tidur yang cukup, menjaga kesehatan mental, serta pencegahan dan pengobatan. Semua ini menunjukkan bahwa Islam mengajarkan umatnya untuk menjaga keseimbangan hidup, baik secara fisik, mental, maupun spiritual.