Liputan6.com, Rabat - Ramadan di Maroko bukan sekadar bulan ibadah, tetapi juga momentum pelestarian tradisi turun-temurun yang masih bertahan hingga kini.
Di berbagai kota seperti Rabat dan Fez, masyarakat menyambut waktu sahur dengan kehadiran Nafar, sosok pria berpakaian tradisional yang berkeliling permukiman sambil meniup terompet panjang untuk membangunkan warga.
Advertisement
Tradisi Nafar telah berlangsung selama berabad-abad dan menjadi bagian tak terpisahkan dari suasana Ramadan di Maroko. Biasanya, Nafar mengenakan jubah panjang (djellaba), sandal tradisional, serta penutup kepala khas Maroko. Ia berjalan kaki menyusuri gang-gang sempit kota tua, meniup alat musik tiup tradisional sambil melantunkan doa atau zikir singkat.
Selain Nafar, hidangan berbuka puasa juga mencerminkan kekayaan budaya lokal. Sup harira menjadi menu wajib di hampir setiap rumah. Hidangan berbahan dasar tomat, kacang-kacangan, dan daging ini disajikan bersama kurma dan roti tradisional sebagai pembuka puasa.
Pemerintah daerah setempat turut menjaga kelestarian tradisi ini dengan melibatkan generasi muda dalam berbagai kegiatan budaya Ramadan. Di tengah modernisasi dan penggunaan alarm digital, keberadaan Nafar tetap dipertahankan sebagai simbol identitas dan warisan spiritual masyarakat Maroko selama bulan suci.