Liputan6.com, Washington D.C - Pemerintah Amerika Serikat (AS) menyatakan siap kembali melakukan uji coba nuklir “dengan dasar kesetaraan” untuk menandingi aktivitas yang disebutnya tidak transparan oleh China. Pernyataan itu disampaikan pejabat senior Departemen Luar Negeri di tengah upaya Presiden Donald Trump mendorong perjanjian pengendalian senjata trilateral baru yang melibatkan Beijing dan Moskow.
Asisten Menteri Luar Negeri untuk Biro Pengendalian Senjata dan Nonproliferasi, Christopher Yeaw, mengatakan Washington akan merespons standar yang ditetapkan negara lain. “Dasar yang setara tidak berarti kembali ke uji coba atmosfer gaya Ivy Mike dengan daya ledak multi-megaton,” ujarnya dalam forum di Hudson Institute, merujuk pada uji coba bom termonuklir pertama AS pada 1952. “Namun itu berarti merespons apa yang dilakukan China atau Rusia.”
Advertisement
Pernyataan Yeaw muncul setelah berakhirnya Perjanjian Pengurangan Senjata Strategis Baru (New START) pada 5 Februari—perjanjian pengendalian senjata nuklir terakhir yang mengikat secara global antara AS dan Rusia. Trump menolak perpanjangan satu tahun yang ditawarkan Moskow dan mendorong kesepakatan baru yang juga mencakup China, dikutip dari Washington Post, Jumat (20/1/2026).
Sehari setelah Trump menyampaikan gagasan tersebut, Wakil Menteri Luar Negeri AS untuk Pengendalian Senjata dan Keamanan Internasional, Thomas DiNanno, menyebut China gagal mengungkap uji coba nuklir pada 2020.
Dugaan Uji Coba di Lop Nur
Menurut intelijen yang dirilis Washington, pada 22 Juni 2020 sebuah stasiun seismik di Kazakhstan mendeteksi getaran berkekuatan 2,75 magnitudo yang diduga berasal dari kawasan uji coba nuklir utama China di Lop Nur, sekitar 450 mil dari lokasi sensor.
Yeaw menyebut kemungkinan peristiwa itu bukan ledakan “sangat kecil” dan konsisten dengan uji ledakan nuklir. Ia mengklaim uji tersebut menghasilkan daya ledak—artinya memicu reaksi berantai nuklir—serta dilakukan dengan teknik “pemisahan” untuk menyamarkan besaran sebenarnya.
Namun sejumlah pakar independen menilai bukti tersebut belum konklusif. Ben Dando dari lembaga pemantau Norwegia NORSAR menyatakan sinyalnya lemah dan hanya terekam di satu stasiun. “Kami tidak dapat memastikan atau menyangkal bahwa itu uji coba nuklir,” ujarnya kepada NPR.
Comprehensive Nuclear-Test-Ban Treaty Organization (CTBTO) juga menyatakan telah mendeteksi dua peristiwa seismik kecil dengan selang 12 detik, tetapi menegaskan data tersebut tidak cukup untuk memastikan penyebabnya.
Pemerintah China membantah keras tuduhan itu. Juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Lin Jian, menyebut klaim AS “tidak berdasar” dan menuding Washington mencari dalih untuk melanjutkan uji coba nuklirnya sendiri.
Moratorium Global dan Ketegangan Baru
Kekuatan nuklir utama dunia telah menghentikan uji coba selama puluhan tahun. AS terakhir menguji senjata nuklir pada 1992, sementara China pada 1996. Keduanya menandatangani Perjanjian Pelarangan Uji Coba Nuklir Komprehensif (CTBT), tetapi belum meratifikasinya sehingga perjanjian itu belum berlaku efektif.
Meski moratorium dijaga, aktivitas penelitian tetap berjalan. AS mengandalkan simulasi superkomputer dan uji sub-kritis—eksperimen yang melibatkan plutonium tanpa memicu reaksi berantai. China, menurut analis Tong Zhao dari Carnegie Endowment for International Peace, juga memperluas fasilitas di Lop Nur, termasuk pembangunan terowongan baru dan infrastruktur pendukung.
Di tengah itu, Beijing mempercepat modernisasi arsenalnya. Jika pada 2019 China diperkirakan memiliki sekitar 200 hulu ledak, kini Pentagon memperkirakan jumlahnya mendekati 600, dengan target 1.000 pada 2030—angka yang mendekati paritas dengan AS dan Rusia.
Namun, dibandingkan AS yang telah melakukan lebih dari 1.000 uji coba nuklir sepanjang sejarahnya, China hanya mencatat 45 kali uji coba sebelum moratorium. Sejumlah analis menilai setiap uji tambahan berpotensi memberi keuntungan teknis lebih besar bagi Beijing ketimbang Washington.
DiNanno sebelumnya menyebut China mempersiapkan uji coba dengan daya ledak ratusan ton. Jika benar, menurut Dando, getaran 2,75 magnitudo dapat setara puluhan ton TNT—meski teknik penguburan dalam dapat menyamarkan ledakan lebih besar.
Yeaw tidak merinci keuntungan strategis yang mungkin dicari China, namun menegaskan negara tidak akan mengambil risiko semacam itu tanpa ekspektasi manfaat signifikan.
Opsi Terbuka
Di tengah ketidakpastian rezim pengendalian senjata global, Yeaw mengatakan AS tetap membuka pintu negosiasi dengan China dan Rusia. Namun, ia juga mengungkapkan Pentagon tengah meninjau opsi penambahan hulu ledak pada rudal balistik, pembom strategis, dan kapal selam nuklir.
“Banyak opsi tersedia,” katanya.
Pernyataan itu menandai babak baru ketegangan nuklir global, ketika rezim pengendalian senjata melemah dan kepercayaan antarnegara kian tergerus—menempatkan stabilitas strategis dunia dalam fase paling rapuh sejak akhir Perang Dingin.