Liputan6.com, Jakarta - PT BFI Finance Indonesia Tbk (BFIN) akan membeli kembali atau buyback saham senilai Rp 100 miliar. Buyback saham akan dilakukan selama tiga bulan.
Mengutip keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI), Jumat, (20/2/2026), PT BFI Finance Indonesia Tbk akan buyback saham tidak akan melebihi 1% dari modal disetor perseroan dan saham yang beredar atau free float setelah pelaksanaan buyback tidak akan menjadi kurang dari 40% dari modal disetor perseroan.
Advertisement
Perseroan akan buyback saham sejak 23 Februari 2026 dan dilakukan maksimal selama tiga bulan. Buyback saham akan dilakukan di BEI melalui pasar regular dan hanya akan dilakukan melalui PT Trimegah Sekuritas Indonesia. “Pelaksanaan buyback akan mengikuti ketentuan lainnya sesuai POJK Nomor 13/2023 dan POJK Nomor 29/2023,” demikian seperti dikutip dari keterbukaan informasi BEI.
Perseroan akan memakai dana sendiri untuk buyback saham. Hasil buyback saham itu akan dicatat sebagai saham treasuri sebagai pengurang ekuitas perseroan.
Manajemen BFI Finance mengatakan buyback saham dilakukan sebagai upaya menjaga stabilitas perdagangan saham di pasar modal dalam kondisi volatilitas tinggi dan meningkatkan kepercayaan investor. Penetapan kondisi pasar yang berfluktuasi secara signifikans ebagaimana berlaku sampai enam bulan yakni 17 Maret 2026.
Adapun pelaksanaan buyback ini akan dilakukan dengan mengacu pada ketentuan-ketentuan yang berlaku sebagai berikut:
1. Peraturan Otoritas Jasa Keuangan No. 13 Tahun 2023 tentang Kebijakan Dalam Kinerja dan Stabilitas Pasar Modal Pada Kondisi Pasar Yang Berfluktuasi Secara Signifikan (POJK No. 13/2023).
2. Surat Otoritas Jasa Keuangan No. S-102/D.04/2025 tanggal 17 September 2025 perihal Kebijakan Pelaksanaan Pembelian Kembali Saham yang Dikeluarkan oleh Perusahaan Terbuka dalam Kondisi Pasar yang Berfluktuasi Secara Signifikan (Surat OJK No. S102/D.04/2025); dan
3. Peraturan Otoritas Jasa Keuangan No. 29 Tahun 2023 tentang Pembelian Kembali Saham Yang Dikeluarkan oleh Perusahaan Terbuka (POJK No. 29/2023).
Presdir BFI Finance Beli 1,18 Juta Saham BFIN, Segini Nilainya
Sebelumnya, Presiden Direktur BFI Finance Indonesia Tbk (BFIN) Sutadi menambah kepemilikan saham BFIN pada awal Februari 2026.
Mengutip keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI), Senin, (9/2/2026), Presiden Direktur BFIN Sutadi membeli 1.183.000 saham BFIN dengan harga Rp 705 per saham pada 4 Februari 2026.Dengan demikian, nilai pembelian saham BFIN itu sekitar Rp 834,01 juta.
"Tujuan transaksi untuk investasi dengan status kepemilikan langsung,” demikian seperti dikutip dari keterbukaan informasi BEI.
Setelah transaksi pembelian saham, Sutadi genggam 21 juta saham BFIN atau setara 0,14%. Sebelumnya Sutadi memiliki 19,81 juta saham BFIN atau setara 0,13%.
Pada penutupan perdagangan saham Senin, 9 Februari 2026, harga saham BFIN turun 0,72% ke posisi Rp 690 per saham. Harga saham BFIN dibuka turun lima poin ke posisi Rp 690 per saham. Harga saham BFIN berada di level tertinggi Rp 695 dan level terendah Rp 685 per saham. Total frekuensi perdagangan 2.352 kali dengan volume perdagangan saham 172.508 saham. Nilai transaksi Rp 11,9 miliar.
Berdasarkan data google finance, harga saham BFIN turun 2,82% dalam lima hari terakhir.
Sebelumnya, laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) bergejolak tetapi mampu melanjutkan penguatan signifikan. Bahkan, IHSG hari ini kembali ke 8.000 di tengah nilai tukar rupiah menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dan mayoritas sektor saham menghijau.
Sektor Saham
Analis PT MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana menuturkan, penguatan IHSG didorong sektor saham energi, basic dan siklikal. Selain itu, pergerakan saham emiten-emiten konglomerasi juga mengangkat IHSG. “Di sisi lain hari ini ada rilis Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) yang mengaut di level 127 vs 123,5,” ujar Herditya saat dihubungi Liputan6.com.
Total frekuensi perdagangan 2.273.043 kali dengan volume perdagangan saham 40,7 miliar saham. Nilai transaksi harian saham Rp 17,9 triliun. Posisi dolar Amerika Serikat terhadap rupiah di kisaran 16.798.
Dari 11 sektor saham menghijau, dua sektor saham melemah. Sektor saham kesehatan turun 0,23% dan sektor saham keuangan susut 0,19%. Sementara itu, sektor saham basic meroket 4,41%, dan catat kenaikan terbesar.
Selain itu, sektor saham energi naik 2,93%, sektor saham industri bertambah 0,19%, sektor saham consumer nonsiklikal melompat 1,53%, sektor saham consumer siklikal medaka 2,06%.
Selanjutnya sektor saham properti mendaki 0,58%, sektor saham teknologi bertambah 0,81%, sektor saham infrastruktur menanjak 1,23% dan sektor saham transportasi meroket 0,40%.