Liputan6.com, Jakarta - Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) Thomas Djiwandono tampil perdana dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI. Dia menegaskan bahwa ketahanan perbankan tetap kuat dalam menghadapi skenario tekanan eksternal, sebagaimana hasil dari liquidity stress test.
“Liquidity stress test telah dilakukan oleh Departemen Surveilans Makroprudensial, Moneter, dan Market (DSMM) di mana hasil stress test itu juga menunjukkan ketahanan perbankan terhadap skenario tekanan eksternal,” kata Thomas dikutip dari Antara, Kamis (19/2/2026).
Advertisement
Pada kesempatan yang sama, Thomas juga melaporkan bahwa bank sentral tengah mempersiapkan koordinasi lebih lanjut bersama pemangku kepentingan terkait guna memperkuat narasi pertumbuhan ekonomi Indonesia yang akan dikomunikasikan kepada investor maupun lembaga pemeringkat kredit.
“Saat ini kami juga sedang mempersiapkan koordinasi lebih lanjut, dalam hal ini dengan Kemenko Perekonomian, Kemenkeu, Danantara, dan bahkan OJK ke depannya untuk membangun sebuah narasi yang terpadu mengenai pertumbuhan ekonomi yang bisa dikhususkan terhadap investor maupun credit rating agency yang akan datang di kemudian hari,” kata Thomas.
Bank Indonesia Tahan Suku Bunga Acuan Februari 2026 di 4,75%
Sebelumnya, Bank Indonesia (BI) memutuskan untuk tetap menahan suku bunga acuan atau BI Rate di level 4,75 persen pada Februari 2026. Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo mengatakan, keputusan ini diambil setelah melihat berbagai perkembangan dan prospek ekonomi di tingkat nasional maupun global.
"Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia pada 18 dan 19 Februari 2026 memutuskan untuk mempertahankan BI Rate sebesar 4,75 persen, suku bunga deposit facility sebesar 3,75 persen, dan suku bunga lending facility sebesar 5,50 persen," ujarnya, Kamis (19/2/2026).
Perry menyatakan, keputusan tersebut konsisten dengan fokus kebijakan bank sentral saat ini. Khususnya pada upaya penguatan stabilisasi nilai tukar rupiah, di tengah tetap tingginya ketidakpastian pasar keuangan global guna mendukung capaian sasaran inflasi 2026 dan mendorong pertumbuhan ekonomi.
Ke depan, Bank Indonesia berkomitmen akan terus memperkuat efektivitas transmisi pelonggaran kebijakan moneter dan kebijakan makroprudensial yang telah ditempuh selama ini, dengan tetap mencermati ruang penurunan BI Rate lebih lanjut.
"Sejalan dengan prakiraan inflasi 2026/2027 yang terkendali rendah dalam sasaran 2,5 plus minus 1 persen, dan upaya untuk turut mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi," imbuh Perry.
Kebijakan Makroprudensial
Menurut dia, kebijakan makroprudensial Bank Indonesia juga tetap diarahkan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi (pro growth), melalui peningkatan kredit pembiayaan ke sektor riil, khususnya sektor-sektor prioritas pemerintah.
"Serta mempercepat penurunan suku bunga kredit perbankan melalui implementasi kebijakan insentif likuiditas makroprudensial (KLM), dengan tetap menjaga prinsip kehati-hatian dan prudensial di perbankan," kata Perry.