Open Interest Anjlok 75%, Ada Apa dengan Solana?

Harga solana (SOL) gagal menembus level USD 89 dalam dua pekan terakhir. Di sisi lain open interest melemah.

oleh Tira SantiaDiterbitkan 19 Februari 2026, 13:00 WIB
Harga Solana (SOL) kembali berada dalam tekanan setelah berulang kali gagal menembus level USD 89 dalam dua pekan terakhir.(Foto by AI)

Liputan6.com, Jakarta - Harga Solana (SOL) kembali berada dalam tekanan setelah berulang kali gagal menembus level USD 89 dalam dua pekan terakhir di tengah Open Interest melemah. Saat ini, SOL bergerak di kisaran USD 81,75, mencerminkan lemahnya dorongan beli di tengah sentimen pasar yang belum pulih sepenuhnya.

Mengutip dari Cointelegraph.com, Kamis (19/2/2026), kondisi ini memperlihatkan investor masih bersikap hati-hati terhadap aset kripto tersebut.

Tekanan ini terjadi setelah SOL sempat ditolak di area USD 145 pada pertengahan Januari, sebelum akhirnya terperosok tajam ke USD 67,60 saat gejolak pasar pada 6 Februari. Sejak saat itu, reli pemulihan berjalan tersendat dan belum menunjukkan kekuatan signifikan untuk membalikkan tren jangka pendek. Data pasar derivatif memperlihatkan tanda-tanda kepanikan dari investor bullish.

Permintaan terhadap leverage untuk posisi beli hampir menguap, menandakan pelaku pasar enggan mengambil risiko tambahan dalam kondisi volatil saat ini. Sebaliknya, pelaku pasar yang membuka posisi short justru membayar tingkat pendanaan (funding rate) tahunan hingga 20% demi mempertahankan posisi mereka.

Funding rate yang bertahan negatif lebih dari sepekan menunjukkan keyakinan kuat dari kubu bearish bahwa tekanan harga masih berpotensi berlanjut.

Open Interest Anjlok 75%, Aktivitas Jaringan Ikut Melemah

Meski masih berada di jajaran tujuh besar kripto berdasarkan kapitalisasi pasar, performa SOL dalam 30 hari terakhir tertinggal 11% dibanding pasar kripto secara keseluruhan. Penurunan ini mempertegas lemahnya momentum yang tengah dialami Solana.

Sejak mencapai puncak USD 253 pada September 2025, harga SOL telah merosot sekitar 67%. Koreksi dalam ini tidak hanya berdampak pada harga, tetapi juga memukul aktivitas on-chain serta minat di pasar derivatif.

Data menunjukkan open interest futures SOL anjlok 75% dari puncaknya sebesar USD 13,5 miliar yang tercatat lima bulan lalu. Penurunan drastis ini mencerminkan berkurangnya partisipasi dan minat spekulatif di pasar berjangka.

 

 

Disclaimer: Setiap keputusan investasi ada di tangan pembaca. Pelajari dan analisis sebelum membeli dan menjual Kripto. Liputan6.com tidak bertanggung jawab atas keuntungan dan kerugian yang timbul dari keputusan investasi.

 

Ketergantungan pada Memecoin

Aset digital kripto Solana (SOL). (Foto by AI)

Pendapatan mingguan dApps Solana turun ke USD 22,8 juta, menjadi yang terendah sejak Oktober 2024. Kondisi ini menandakan perlambatan aktivitas ekonomi dalam jaringan tersebut.

Menariknya, launchpad memecoin Pump menyumbang USD 9,1 juta atau sekitar 40% dari total pendapatan jaringan dalam sepekan. Hal ini menunjukkan ketergantungan tinggi Solana terhadap sektor memecoin dan partisipasi investor ritel. Berbeda dengan Solana, ekosistem Ethereum ditopang oleh aplikasi infrastruktur DeFi seperti Sky, Flashbots, dan Aave.

Pendapatan mingguan dApps Ethereum bahkan mencapai USD 16 juta dan tumbuh 2% dibanding bulan sebelumnya, memperlihatkan basis fundamental yang lebih beragam.

Dari sisi institusional, dana kelolaan ETF Solana tercatat sebesar USD 2,1 miliar, masih tertinggal 86% dari Ethereum yang mencapai USD 15,8 miliar. Jika tidak ada katalis baru seperti pengembangan infrastruktur kecerdasan buatan atau pasar prediksi SOL berisiko kembali tertekan, dengan level support USD 78 menjadi area krusial yang perlu dijaga.

 

 

Solana Kian Dilirik Investor Kakap, Dana Besar Masuk Diam-Diam

Solana Kripto.

Sebelumnya, adopsi Solana menunjukkan percepatan signifikan di awal tahun ini. Jika sebelumnya dikenal sebagai blockchain cepat yang kerap dibandingkan dengan Ethereum, kini Solana mulai menarik perhatian investor institusional papan atas.

Perubahan ini terjadi seiring penguatan fondasi teknis jaringan dan meningkatnya akumulasi token SOL oleh dana-dana khusus aset digital.

Dikutip dari coinmarketcap, Minggu (11/1/2026), Solana tidak lagi sekadar menawarkan potensi. Jaringan ini mulai memantapkan posisinya sebagai pemain struktural dalam ekosistem kripto global. Aliran dana institusional yang masuk menandai pergeseran baru, berada di persimpangan antara penggunaan nyata dan arus keuangan berskala besar.

Dalam unggahan di platform X (sebelumnya Twitter), analis Rex mengungkapkan bahwa sejumlah dana besar saat ini активно mengakumulasi SOL, bertepatan dengan tren pasar kripto sejak awal tahun.

“Perusahaan-perusahaan besar saat ini tengah melakukan akumulasi SOL secara masif,” ujar Rex, mengutip analisis pakar yang dikenal dengan nama Solana Sensei.

Ia menyebutkan, Forward Industry saja diperkirakan memegang hampir USD 1 miliar dalam bentuk SOL. Selain itu, Defidevcorp serta beberapa entitas lain juga mengelola posisi SOL dalam jumlah ratusan juta dolar AS.

Bagi Rex, pergerakan ini masih berada pada tahap awal, dan Solana menjadi salah satu jaringan langka yang mampu menggabungkan performa tinggi dengan skalabilitas.

 

 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya