Benfica vs Real Madrid: Vinicius Murka dan Tuding Prestianni Pengecut!

Duel Benfica vs Real Madrid di Liga Champions diwarnai tudingan rasisme. Vinicius Jr sebut Prestianni pengecut usai pertandingan berakhir.

oleh Dimas Ardi PrasetyaDiterbitkan 18 Februari 2026, 16:44 WIB
Vinicius Junior (kanan) mencetak gol tunggal kemenangan Real Madrid atas Benfica pada laga leg pertama knockout play-off Liga Champions musim ini di Estadio da Luz, Lisbon, Rabu (18/02/2026) dini hari WIB. Sayangnya dalam duel tersebut, Vincius menjadi korban tindakan rasisme yang dilakukan pendukung dan pemain Benfica, Gianluca Prestianni. (AFP/PATRICIA DE MELO MOREIRA)

Liputan6.com, Jakarta - Pertandingan leg pertama playoff knockout Liga Champions antara Benfica dan Real Madrid di Estadio do Dragao, Rabu (18/02/2026) dini hari WIB, berakhir dengan tensi tinggi. Laga tersebut bukan hanya soal hasil akhir, tetapi juga diwarnai tudingan aksi rasisme yang mengarah kepada Vinicius Jr.

Real Madrid membawa pulang kemenangan tipis 1-0 dari markas Benfica. Namun sorotan justru tertuju pada insiden yang melibatkan Vinicius Jr dan winger muda Benfica, Gianluca Prestianni.

Gol kemenangan Vinicius pada awal babak kedua sempat menjadi momen penentu pertandingan. Akan tetapi, duel panas dengan Prestianni membuat laga sempat terhenti dan memicu aktivasi protokol anti-rasisme.

Vinicius melaporkan dugaan hinaan rasial kepada wasit Francois Letexier. Situasi tersebut membuat pertandingan dihentikan sekitar 10 menit sebelum akhirnya dilanjutkan kembali.


Vinicius Jr: Para Rasis Adalah Pengecut!

Vinicius Junior mencetak gol tunggal kemenangan Real Madrid atas Benfica pada laga leg pertama knockout play-off Liga Champions musim ini di Estadio da Luz, Lisbon, Rabu (18/02/2026) dini hari WIB. Sayangnya dalam duel tersebut, Vincius menjadi korban tindakan rasisme yang dilakukan pendukung dan pemain Benfica, Gianluca Prestianni. (AP Photo/Pedro Rocha)

Insiden bermula setelah Vinicius terlibat adu argumen dengan Prestianni di tengah pertandingan. Bintang asal Brasil itu kemudian berlari ke arah wasit untuk melaporkan dugaan pelecehan rasial yang ia terima.

Tak lama setelah laga usai, Vinicius menyampaikan pernyataannya melalui Instagram Stories. Ia secara terbuka mengecam tindakan yang ia anggap sebagai bentuk rasisme di lapangan.

Vinicius menuliskan: "Para rasis, di atas segalanya, adalah pengecut. Mereka perlu menutup mulut mereka dengan baju untuk menunjukkan betapa lemahnya mereka. Tetapi mereka mendapat perlindungan dari orang lain yang, secara teoritis, berkewajiban untuk menghukum mereka. Tidak ada yang baru dalam hidup saya atau dalam kehidupan tim saya yang terjadi hari ini. Saya menerima kartu kuning karena merayakan gol. Saya masih tidak mengerti mengapa," tulisnya, dikutip dari Goal.

"Di sisi lain, itu hanyalah protokol yang dieksekusi dengan buruk dan tidak ada gunanya. Saya tidak suka muncul dalam situasi seperti ini, terutama setelah kemenangan besar dan ketika berita utama seharusnya tentang Real Madrid, tetapi ini perlu."

Pernyataan tersebut langsung menyedot perhatian publik sepak bola Eropa. UEFA pun dikabarkan akan menyelidiki dugaan insiden tersebut dalam waktu dekat.


CBF Pasang Badan untuk Vinicius

Pemain Real Madrid Vinicius Junior merayakan gol pembuka bersama pelatih Real Madrid Alvaro Arbeloa pada laga play-off Liga Champions antara SL Benfica vs Real Madrid di Lisbon, Portugal, Selasa, 17 Februari 2026. (AP Photo/Pedro Rocha)

Dukungan untuk Vinicius datang dari negaranya sendiri. Confederação Brasileira de Futebol (CBF) secara resmi menyampaikan solidaritas melalui media sosial.

Lanjut Baca:

Federasi sepak bola Brasil itu menegaskan bahwa rasisme tidak memiliki tempat di sepak bola. Mereka juga menyebut Vinicius sebagai korban dari tindakan diskriminatif yang kembali terjadi. Dalam pernyataan resminya, CBF menulis: "CBF berdiri dalam solidaritas dengan Vinícius Júnior, korban dari tindakan rasisme lainnya pada Selasa ini, setelah mencetak gol untuk Real Madrid melawan Benfica di Lisbon. Rasisme adalah kejahatan. Itu tidak dapat diterima. Itu tidak boleh ada di sepak bola atau di mana pun." "Ayo, kamu tidak sendirian. Sikapnya terhadap tindakan atau protokol adalah contoh keberanian dan martabat. Kami bangga padamu. Kami akan tetap teguh dalam perjuangan melawan semua bentuk diskriminasi. Kami di sisimu. Selalu."

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya