Kementan Bidik Investasi 200 Ribu Sapi di Kalteng, Perkuat Swasembada Daging

Kementerian Pertanian (Kementan) membidik investasi peternakan sapi terpadu 200 ribu ekor di Kalimantan tengah untuk memperkuat ketahanan pangan.

oleh Meila Alfauzi SukmawanDiterbitkan 18 Februari 2026, 21:00 WIB
Ilustrasi hewan ternak sapi (Istimewa)

Liputan6.com, Jakarta - Kementerian Pertanian (Kementan) tengah menargetkan investasi peternakan sapi skala besar di Kalimantan Tengah dengan populasi ternak hingga 200 ribu ekor yang dikembangkan dalam ekosistem terintegrasi. Hal ini sebagai bagian dari strategi memperkuat pasokan daging nasional secara berkelanjutan.

Menteri Pertanian sekaligus Kepala Badan Pangan Nasional, Andi Amran Sulaiman menjelaskan langkah ini merupakan bagian dari strategi nasional untuk mempercepat swasembada daging dan susu sekaligus mengembangkn kawasan peternakan modern melalui pola kemitraan.

“Langkah ini menjadi bagian dari strategi nasional mempercepat swasembada daging dan susu sekaligus membangun sentra peternakan modern berbasis kemitraan,” kata Amran, dilansir dari Antara , Rabu (18/02/2026).

Andi Amran menyebut, Indonesia memiliki sumber daya alam yang mampu mengembangkan industri sapi di negeri ini, mulai dari kesediaan lahan hingga pakan alami. Ia menyebut target investasi tersebut terbagi atas 100 ribu ekor untuk pengembangan dan 100 ribu untuk plasma.

"Indonesia ini negeri agraris. Tanahnya luas, rumput tumbuh, sumber daya ada. Yang penting bagaimana kita mengelola dengan baik dan kita buat nyaman para investor untuk bergerak cepat. Saya harap 100 ribu untuk pengembangan dan ditambah 100 ribu plasma, jadi 200 ribu," ujarnya.

Menurutnya, kunci percepatan ini terletak pada penyederhanaan regulasi dan kepastian usaha. Pemerintah berkomitmen menciptakan iklim investasi yang kondusif agar pelaku usaha dapat fokus membangun industri, memperluas populasi ternak, serta memperkuat hilirisasi produk.

"Indonesia adalah negeri agraris yang besar. Tanahnya subur, alamnya luas. Tapi kalau bisa dipersulit kenapa dipermudah, akhirnya kita lambat sendiri. Padahal pelihara sapi itu sederhana. Tanam rumput, sapi minum, hidup, selesai. Yang bikin ribet kadang izinnya," lanjut Amran.

Kalteng Disiapkan Jadi Kawasan Industri Sapi Terpadu

Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman saat konferensi pers, di kantor Kementan, Jakarta, Kamis (22/1/2026). (Foto: Liputan6.com/Tira Santia)

Pengembangan kawasan terkonsentrasi di peternakan terpadu di Kabupaten Sukarama, Kalimantan Tengah sebagai sentra peternakan sapi terintegrasi skala besar yang dikembangkan di lahan seluas sekitar 40.006 hektare dengan populasi awal kurang dari 1000 ekor sapi.

“Dan menargetkan pengembangan hingga 200.000 indukan produktif,” ujarnya.

Konsep industri sapi terpadu (Integrated Cattle Industry) dijalankan dengan menggabunngkan sapi potong, sapi pperah, serta iduustri pengolahan dalam satu kawasan.

Model itu diperkuat dengan pertanian terpadu sapi, kelapa sawit, di mana penggembalaan dilakukan di area perkebunan untuk efisiensi pakan sekaligus menghasilkan pupuk organik, sehingga dapat meningkatkan nilai tambah dan kelangsungan usaha.

Ia juga mendoorong pengembangan usaha peternakan dalam skala besar dan terintegrasi agar mampu memberikan dampak yang signifikan terhadap peningkatan populasi sapi nasional. Menurutnya, dengan adanya kolaborasi antara pemerintah dan swasta harus diarahkan pada pembangunan kawasan produksi yang modern, efisien, serta berorientasi jangka panjang.

"Kalau investornya nyaman, dia akan tanam lebih besar. Tapi kalau tidak nyaman, dua kali maju, dua kali mundur. Sepuluh tahun habis di izin. Ini yang harus kita manfaatkan," tegasnya.

Skema Inti Plasma dan Dukungan Pembiayaan

Seorang warga menggiring sapi dari kandang karantina ke kendaraan pengangkut untuk dikirim dari Sulawesi Tengah ke Samarinda, Kalimantan melalui pelabuhan Wani, Donggala, Minggu (12/6/2022). (Foto: Heri Susanto/ Liputan6.com).

Dalam pelaksanaannya, pemerintah akan menerakan pola kemitraan inti-plasma. Skema itu memungkinkan perusahaan besar menjadi inti yang terjadi dengan petternak rakyat sebagai plasma.

Untuk memperluas manfaat ekonomi, pemerintah menyiapkan dukungan pembiayaan melalui Kredit Usaha Rakyat (KUR) sektor pertanian dan fasilitas asuransi yang disiapkan guna menjaga keinginan usaha dan meminimalkan risiko.

“Kalau dikelola bersama, inti kuat, plasma tumbuh, maka ekonomi bergerak. Negara hadir mendukung pembiayaan dan perlindungan. Pengusaha berkembang, masyarakat ikut sejahtera,” katanya.

Melalui langkah nasional ini, Kementan menargetkan pengembangan diarahkan untuk meningkatkan populasi indukan produktif, memperkuat produksi daging dan susu, menyerap tenaga kerja lokal, serta mendorong pertumbuhan ekonomi di wilayah sekitar.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya