Jemaah An Nadzir di Gowa Sulsel Mulai Puasa Ramadan 1447 H pada 18 Februari 2026

Jemaah An Nadzir mulai melaksanakan tarawih malam ini.

oleh FauzanDiterbitkan 17 Februari 2026, 11:27 WIB
Masjid Raya Bandung menggelar salat tarawih berjemaah pada Sabtu(2/4/2022). (Foto: Humas Kota Bandung)

Liputan6.com, Makasaar- Jemaah An Nadzir yang bermukim di Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan, secara resmi menetapkan awal puasa Ramadan 1447 Hijriah jatuh pada Rabu, 18 Februari 2026. Penetapan tersebut dilakukan berdasarkan hasil pemantauan dan perhitungan Tim Pemantau Bulan An Nadzir di sejumlah wilayah di Indonesia.

Pimpinan Jemaah An Nadzir, Samiruddin Pademmui mengatakan, perbedaan penetapan awal Ramadan antara An Nadzir dan mayoritas umat Islam di Indonesia merupakan hal yang telah lama terjadi. Menurutnya, perbedaan tersebut bersumber dari perbedaan metodologi serta tata cara dalam memahami dan menerapkan ilmu hisab dan rukyat.

"Pada dasarnya, kami dan umat Islam lainnya sama-sama memahami hisab dan rukyat. Perbedaannya terletak pada penerapan ilmu, tata cara, dan metodologi. Dalam fikih, perbedaan seperti ini sudah lama ada dan perlu disikapi dengan kedewasaan serta sikap saling menghormati," ujar Samiruddin, Selasa (17/2/2026).

Dia menjelaskan bahwa An Nadzir dalam menetapkan awal dan akhir bulan hijriah tidak hanya merujuk pada dalil naqli, seperti Alqur’an dan Hadis, tetapi juga menggunakan dalil aqli berupa ilmu pengamatan dan perhitungan bulan yang diwariskan oleh Guru dan Imam An Nadzir, K.H. Syamsuri Abdul Madjid.

Seiring perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi astronomi, An Nadzir juga memanfaatkan berbagai aplikasi astronomi berbasis Android sebagai alat bantu penelitian.

"Hasil kajian kami selama beberapa tahun terakhir menunjukkan bahwa metode yang digunakan An Nadzir selaras dengan data astronomi modern. Aplikasi-aplikasi tersebut justru memudahkan kami mengetahui secara pasti waktu terjadinya konjungsi atau ijtimak," jelasnya.

Gerhana dan Konjungsi Jadi Patokan

Berdasarkan hasil pemantauan, bulan Sya’ban 1447 Hijriah digenapkan menjadi 30 hari. Konjungsi atau pergantian bulan dari Sya’ban ke Ramadan terjadi pada Selasa malam, 17 Februari 2026, sekitar pukul 20.03 WITA atau 19.01 WIB. Peristiwa tersebut juga bertepatan dengan terjadinya gerhana Matahari cincin, meskipun tidak dapat disaksikan dari wilayah Indonesia.

"Guru kami mengajarkan bahwa fenomena gerhana serta fase-fase pergerakan bulan dapat dijadikan salah satu patokan dalam perhitungan. Karena itu, demi kehati-hatian, kami memutuskan memulai puasa setelah terjadi pergantian bulan," kata Samiruddin.

Dengan keputusan tersebut, An Nadzir menetapkan bahwa puasa hari pertama Ramadan 1447 Hijriah dimulai pada Rabu, 18 Februari 2026. Sementara itu, salat Tarawih berjemaah mulai dilaksanakan Selasa malam, 17 Februari 2026, selama tiga malam berturut-turut. Setelahnya, ibadah Tarawih dilaksanakan secara infiradi.

Samiruddin berharap keputusan ini dapat menjadi pedoman bagi seluruh jemaah An Nadzir di Indonesia, sekaligus memperkuat sikap saling menghargai di tengah perbedaan penetapan awal Ramadan.

"Perbedaan hendaknya disikapi dengan arif dan bijaksana, serta menjadi motivasi untuk terus belajar dan memperluas wawasan, karena ilmu Allah Swt. sangat luas dan tidak terbatas," pungkasnya.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terbaru

    Berita Terkini Selengkapnya