Imlek 2026, Merek Mewah Global Berebut Hati Konsumen China

Brand mewah global berlomba merilis koleksi Imlek demi menarik konsumen China jelang Tahun Kuda.

oleh Arthur GideonDiterbitkan 17 Februari 2026, 07:00 WIB
Beragam dekorasi khas perayaan Tahun Baru Imlek mulai ramai diperdagangkan. Tampak dalam foto, seorang balita yang digendong melihat dekorasi kemakmuran di sebuah stan untuk menyambut Tahun Baru Imlek, di sebuah Bazaar, Beijing, China, Minggu 1 Februari 2026. (AP Photo/Andy Wong)

Liputan6.com, Jakarta - Sejumlah merek mewah global, mulai dari Harry Winston hingga Loewe, semakin agresif merilis koleksi khusus Tahun Baru Imlek untuk menarik konsumen China.

Menjelang Tahun Kuda yang dimulai pada Selasa, dikutip dari CNBC, Selasa (17/2/2026), Harry Winston meluncurkan jam tangan edisi terbatas berbahan emas mawar seharga USD 81.500 atau Rp 1,37 miliar (estimasi kurs Rp 16.820 per dolar AS). Jam tersebut dihiasi bezel berlian dan ornamen kuda berwarna merah.

Sementara itu, merek fesyen premium Chloé merilis koleksi kapsul, mulai dari syal sutra seharga USD 250 atau Rp 4,2 juta hingga tas bahu kulit ular senilai USD 5.300 atau Rp 89,14 juta dengan detail kepala dan ekor kuda.

Sejumlah merek lain seperti Gucci dan Loro Piana juga menghadirkan gantungan tas bermotif kuda.

Kehadiran koleksi Imlek ini dinilai menjadi sinyal optimisme bagi industri barang mewah, yang berharap kebangkitan pasar China setelah beberapa tahun mengalami perlambatan.

 

Pasar Luxury China Mulai Bangkit

Tahun 2026 adalah Tahun Kuda Api (Fire Horse) yang melambangkan energi yang dinamis, kebebasan, dan semangat perubahan yang kuat. Tampak dalam foto, seorang wanita berbelanja dekorasi keberkahan saat bazar menyambut Tahun Baru Imlek di Beijing, China, Minggu 1 Februari 2026. (AP Photo/Andy Wong)

Dalam beberapa tahun terakhir, konsumen China yang sebelumnya menjadi penggerak utama industri luxury global, mengurangi belanja akibat perlambatan ekonomi dan melemahnya sektor properti.

Menurut estimasi Bain & Company, nilai pasar barang mewah China mencapai sekitar 350 miliar yuan pada 2024 atau setara 50 miliar dolar AS. Pada 2025, pasar tersebut menyusut sekitar 3–5 persen, namun mulai menunjukkan tanda pemulihan pada paruh kedua tahun tersebut.

Analis senior Bernstein, Luca Solca, memprediksi belanja luxury di China akan stabil dengan pertumbuhan satu digit menengah pada 2026.

“Orang China tidak lagi kagum pada apa pun yang datang dari Barat. Interpretasi Imlek yang asal-asalan tidak akan membawa hasil,” kata Solca.

Ia juga mencatat, sebelum pandemi Covid-19, konsumen China menyumbang sekitar sepertiga pasar barang mewah global. Kini, porsinya turun menjadi sekitar 23 persen.

Meski begitu, Tahun Baru Imlek tetap menjadi momentum penting bagi merek Barat untuk menunjukkan penghormatan terhadap budaya China.

 

Strategi Baru Tarik Konsumen Muda

Orang-orang berbelanja dekorasi kemakmuran di sebuah stan untuk menyambut Tahun Baru Imlek, di sebuah Bazaar, Beijing, China, Minggu 1 Februari 2026. (AP Photo/Andy Wong)

Kepala praktik konsumen Boston Consulting Group (BCG) di China Raya, Veronique Yang, menilai interpretasi simbol Imlek yang terlalu harfiah bisa dianggap malas atau kurang menghargai budaya.

“Anak muda China menghormati budaya lama, tetapi mereka ingin melihatnya ditafsirkan secara modern,” ujarnya. “Penting membangun narasi yang menghubungkan warisan budaya dengan visi kontemporer.”

Profesor strategi luxury di Pepperdine University, Daniel Langer, menambahkan bahwa konsumen China kini jauh lebih selektif.

“Mereka sudah pergi ke tempat terbaik, makan di restoran terbaik, dan belanja di toko terbaik. Ekspektasi mereka terhadap merek jauh lebih tinggi,” katanya.

Untuk menjangkau konsumen secara lebih autentik, sejumlah merek mengandalkan pengalaman imersif. Valentino menggelar festival lentera di Shanghai, sementara Burberry meluncurkan kampanye Imlek lengkap dengan butik pop-up dan arena seluncur es.

“Banyak elemen budaya yang bisa diintegrasikan dalam sebuah cerita. Ini bukan hanya soal hewan zodiak,” ujar Yang.

Dengan pendekatan yang lebih kreatif dan mendalam, merek-merek mewah berharap dapat kembali merebut hati konsumen China di tengah persaingan yang semakin ketat.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya