Liputan6.com, Jakarta - Direktur Reliance Sekuritas Reza Priyambada menilai momentum musiman seperti Tahun Baru Imlek dan Lebaran kerap dikaitkan dengan potensi peningkatan kinerja pada sejumlah emiten, khususnya yang bergerak di sektor saham konsumsi dan sektor pendukungnya.
"Tampaknya momen Imlek dan Lebaran, sering kali dikaitkan dengan peningkatan kinerja dari emiten-emiten konsumer dan emiten-emiten yang berhubungan dengan hal tersebut. Jadi, mungkin bisa menjadi pilihan bagi para investor untuk saham-saham yang berada di bidang konsumer, perkebunan, hingga logistik. Nantinya pilihan saham dapat disesuaikan dengan karakteristik risiko masing-masing,” ujar Reza kepada Liputan6.com, Minggu, (15/2/2026).
Advertisement
Ia menambahkan, momentum tersebut dapat menjadi pertimbangan bagi investor dalam menentukan pilihan saham, dengan tetap memperhatikan profil risiko masing-masing.
Sementara itu, Pengamat Pasar Modal Reydi Octa menyebutkan bahwa berdasarkan pola historis, menjelang Imlek biasanya terjadi peningkatan minat pada sektor-sektor tertentu yang berkaitan dengan konsumsi dan mobilitas masyarakat.
“Menjelang Imlek, pola historikalnya menunjukkan minat pada sektor yang terkait konsumsi dan pariwisata, ritel, Perhotelan & transportasi (mobilitas libur), Perdagangan dan logistik,” tuturnya kepada Liputan6.com
Namun, Reydi mengingatkan penguatan yang terjadi umumnya bersifat jangka pendek dan tidak selalu mencerminkan perubahan fundamental pada kinerja perusahaan.
“Pergerakan biasanya jangka pendek, bukan perubahan tren fundamental,” pungkasnya.
Prediksi Pasar Saham saat Masuk Tahun Kuda Api
Sebelumnya, Chief Economist dan Macro Strategist BRI Danareksa Sekuritas, Helmy Kristanto, menilai memasuki tahun “Kuda Api” mencerminkan kondisi pasar saham yang bergerak cepat dan cenderung ke berbagai arah. Analogi tersebut menggambarkan dinamika volatilitas global yang cukup tinggi sejak awal tahun, seiring berbagai sentimen eksternal yang mempengaruhi pergerakan pasar keuangan.
"Apalagi di tahun kuda Api, kuda larinya ke berbagai arah. Tahun (kuda) yang penuh dinamika. Terakhir kali kita mengamati secara siklus ekonomi,” kata Helmy dalam BRIDS Market Outlook 2026, di Menara BRILian, Jakarta, Jumat (13/2/2026).
Menurut dia, pola siklus ekonomi kerap menunjukkan bahwa pada periode tertentu, volatilitas menjadi lebih dominan karena perubahan perilaku ekonomi global.
Fenomena ini tidak hanya dipicu faktor ekonomi, tetapi juga dinamika sosial dan demografi, termasuk perubahan jumlah populasi di negara besar seperti China yang bisa memicu pergeseran aktivitas ekonomi dan konsumsi.
Dalam konteks ini, Helmy melihat tahun penuh dinamika justru membuka peluang bagi pelaku pasar yang mampu membaca siklus dengan baik.
Momentum volatilitas bukan semata ancaman, melainkan fase penyesuaian yang kerap menjadi bagian dari transisi menuju pertumbuhan baru.
“Tahun kuda Api kalau kita lihat saya selalu melihat berbagai macam siklus termasuk dari sisi economic behavior. Momentum voltility, kenapa ini penting? karena ada tahun-tahun tertentu di mana jumlah populasi di China meningkat tajam, seperti tahun naga emas,” ujarnya.
Volatilitas Tinggi
Helmy menekankan, pergerakan pasar yang tidak stabil pada awal tahun bukanlah hal yang perlu disikapi secara berlebihan. Fluktuasi justru menjadi karakter utama pasar ketika memasuki fase perubahan, terlebih dengan ada pengaruh isu global yang datang silih berganti.
Ia menjelaskan, pasar saham domestik tetap memiliki fondasi yang cukup kuat. Meskipun sempat mengalami tekanan akibat sentimen global, secara historis pasar Indonesia mampu bangkit dan mencatat kinerja positif dalam jangka panjang, terutama ketika didukung oleh faktor fundamental ekonomi yang stabil.
Kondisi ini membuat volatilitas menjadi dua sisi mata uang. Di satu sisi memicu ketidakpastian, namun di sisi lain membuka ruang akumulasi dan peluang investasi bagi investor yang memiliki perspektif jangka menengah hingga panjang.
Potensi Penurunan Suku Bunga
Dari sisi makroekonomi, Helmy melihat peluang pertumbuhan tetap terjaga dengan kemungkinan kebijakan moneter yang lebih akomodatif.
Salah satu faktor yang dinilai berpotensi mendorong optimisme adalah peluang penurunan suku bunga acuan yang dapat meningkatkan likuiditas di pasar. Jika suku bunga bergerak turun, hal tersebut dapat menjadi katalis positif bagi dunia usaha dan pasar modal.
"Kita menganggap pertumbuhan ekonomi bisa meningkat dengan kemungkinan BI Rate akan turun,” pungkasnya.