BRI Danareksa Prediksi Pasar Saham Indonesia 2026 Menguat, Ini Alasannya

BRI Danareksa Sekuritas melihat dampat kebijakan ekonomi mulai terasa sehingga berdampak terhadap pasar saham pada 2026.

oleh Tira SantiaDiterbitkan 14 Februari 2026, 06:00 WIB
Chief Economist dan Macro Strategist BRI Danareksa Sekuritas, Helmy Kristanto saat BRIDS Market Outlook 2026, di Menara BRILian, Jakarta, Jumat (13/2/2026). (Foto: Liputan6.com/Tira Santia)

Liputan6.com, Jakarta - PT BRI Danareksa Sekuritas (BRIDS) memprediksi pasar saham Indonesia 2026 menguat, sejalan dengan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia berada di kisaran 5,1–5,3% pada 2026, didukung membaiknya konsumsi domestik, investasi, dan kondisi likuiditas.

Optimisme masyarakat tercermin dari Indeks Kepercayaan Konsumen yang naik ke 127, tertinggi dalam setahun terakhir. Di sisi perbankan, uang beredar (M2) tumbuh 9,6% dan kredit mulai ekspansif, menandakan aktivitas ekonomi yang semakin bergerak.

Sementara itu, pelonggaran suku bunga global dapat membuka peluang arus modal masuk ke emerging markets seperti Indonesia. Stabilitas domestik menjadi faktor pembeda Indonesia di tengah ketidakpastian global.

Meski tekanan eksternal seperti arah suku bunga global dan dinamika geopolitik masih memengaruhi pasar, perekonomian nasional tetap ditopang pertumbuhan yang stabil, inflasi yang terkendali, serta konsumsi domestik yang kuat.

Chief Economist, Macro Strategist and Debt Research Division Head BRIDS, Helmy Kristanto, mengatakan ini menjaga peluang investasi tetap terbuka, terutama bagi investor yang menerapkan strategi secara selektif dan disiplin.

"Pada tahun ini, dampak kebijakan ekonomi mulai terasa. Daya beli membaik, likuiditas longgar, dan aktivitas usaha meningkat. Biasanya kondisi seperti ini diikuti penguatan pasar modal. Investor yang disiplin memiliki peluang besar untuk menangkap pertumbuhan tersebut,” ujar Helmy dalam BIRDS Market Outlook 2026, di Menara BRILian, Jakarta, Jumat (13/2/2026).

Helmy mengatakan, di tengah fluktuasi pasar, obligasi juga tetap menarik sebagai penyeimbang portofolio, sehingga kombinasi saham dan instrumen fixed income menjadi strategi penting untuk menjaga stabilitas dan optimalisasi hasil investasi.

Perlu Partisipasi Investor Domestik

Layar monitor menunjukkan pergerakan pasar saham di lantai Bursa Efek Indonesia menjelang aktivitas perdagangan, Jakarta pada Senin 9 Februari 2026. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) balik ke level 8.000 pada penutupan perdagangan, Senin (9/2/2026). (BAY ISMOYO/AFP)

BRIDS menilai outlook positif memerlukan partisipasi investor domestik yang lebih aktif agar penguatan pasar benar-benar terjadi. Meningkatnya jumlah transaksi dan konsistensi investasi ritel menjadi salah satu indikator penting dalam menjaga stabilitas sekaligus pertumbuhan pasar modal Indonesia. "Kondisi tersebut menjadi fondasi penting bagi pasar modal," ujarnya.

Di sisi lain, BRIDS menilai kombinasi saham dan obligasi tetap relevan pada 2026. Arah suku bunga global yang lebih stabil dan kebijakan moneter domestik yang akomodatif membuka ruang bagi instrumen fixed income untuk tetap menarik sebagai penyeimbang portofolio, sementara saham berpotensi memberikan pertumbuhan seiring membaiknya fundamental emiten.

 

                                            

Masuk Tahun Kuda

Sedangkan kapitalisasi pasar tercatat sebesar Rp14.950 triliun dengan frekuensi sebanyak 4.931.760 kali. Tampak dalam foto, papan elektronik menampilkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Kamis (29/1/2026). (YASUYOSHI CHIBA/AFP)

Sebelumnya, Chief Economist dan Macro Strategist BRI Danareksa Sekuritas, Helmy Kristanto, menilai memasuki tahun “Kuda Api” mencerminkan kondisi pasar yang bergerak cepat dan cenderung ke berbagai arah. 

Analogi tersebut menggambarkan dinamika volatilitas global yang cukup tinggi sejak awal tahun, seiring berbagai sentimen eksternal yang mempengaruhi pergerakan pasar keuangan.

"Apalagi di tahun kuda Api, kan kuda larinya ke berbagai arah. Tahun (kuda) yang penuh dinamika. Terakhir kali kita mengamati secara siklus ekonomi,” kata Helmy dalam BRIDS Market Outlook 2026, di Menara BRILian, Jakarta, Jumat (13/2/2026).

Menurut dia, pola siklus ekonomi kerap menunjukkan pada periode tertentu, volatilitas menjadi lebih dominan karena perubahan perilaku ekonomi global. 

Fenomena ini tidak hanya dipicu faktor ekonomi, tetapi juga dinamika sosial dan demografi, termasuk perubahan jumlah populasi di negara besar seperti China yang bisa memicu pergeseran aktivitas ekonomi dan konsumsi.

Dalam konteks ini, Helmy melihat tahun penuh dinamika justru membuka peluang bagi pelaku pasar yang mampu membaca siklus dengan baik. 

Momentum volatilitas bukan semata ancaman, melainkan fase penyesuaian yang kerap menjadi bagian dari transisi menuju pertumbuhan baru.

"Tahun kuda Api kalau kita lihat saya selalu melihat berbagai macam siklus termasuk dari sisi economic behavior. Momentum voltility, kenapa ini penting? karena ada tahun-tahun tertentu dimana jumlah populasi di China meningkat tajam, seperti tahun naga emas,” ujarnya.

 

 

Volatilitas Tinggi Peluang Tetap Terbuka

Karyawan melintasi layar yang menampilkan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) saat acara Penutupan Perdagangan Bursa Efek Indonesia Tahun 2022 di Jakarta, Jumat (30/12/2022). PT Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat ada 59 perusahaan yang melakukan Initial Public Offering (IPO) atau pencatatan saham sepanjang 2022. Pada penutupan perdagangan akhir tahun, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup lesu 0,14% atau 9,46 poin menjadi 6.850,62. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Helmy menekankan, pergerakan pasar yang tidak stabil di awal tahun bukanlah hal yang perlu disikapi secara berlebihan. Fluktuasi justru menjadi karakter utama pasar ketika memasuki fase perubahan, terlebih dengan adanya pengaruh isu global yang datang silih berganti.

Ia menjelaskan, pasar saham domestik tetap memiliki fondasi yang cukup kuat. Meskipun sempat mengalami tekanan akibat sentimen global, secara historis pasar Indonesia mampu bangkit dan mencatat kinerja positif dalam jangka panjang, terutama ketika didukung oleh faktor fundamental ekonomi yang stabil.

Kondisi ini membuat volatilitas menjadi dua sisi mata uang. Di satu sisi memicu ketidakpastian, namun di sisi lain membuka ruang akumulasi dan peluang investasi bagi investor yang memiliki perspektif jangka menengah hingga panjang.

Potensi Penurunan Suku Bunga

Dari sisi makroekonomi, Helmy melihat peluang pertumbuhan tetap terjaga dengan kemungkinan kebijakan moneter yang lebih akomodatif.

Salah satu faktor yang dinilai berpotensi mendorong optimisme adalah peluang penurunan suku bunga acuan yang dapat meningkatkan likuiditas di pasar. Jika suku bunga bergerak turun, hal tersebut dapat menjadi katalis positif bagi dunia usaha dan pasar modal.

“Kita menganggap pertumbuhan ekonomi bisa meningkat dengan kemungkinan BI Rate akan turun,” pungkasnya.

 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya