Putri Kim Jong Un Dilaporkan Semakin Dekat Ditetapkan sebagai Penerus Kepemimpinan

Meski cukup sering tampil di muka publik, sosok putri Kim Jong Un masih misterius. Bahkan nama dan usianya belum terkonfirmasi.

oleh Khairisa FeridaDiterbitkan 13 Februari 2026, 17:34 WIB
Foto yang diambil pada 20 Desember 2025 ini memperlihatkan pemimpin Korea Utara Kim Jong Un bersama putrinya, Ju Ae, saat meninjau Hotel Milyong yang baru selesai dibangun di kawasan wisata Samjiyon, Provinsi Ryanggang. Foto dirilis pada 23 Desember 2025 oleh kantor berita resmi Korea Utara, KCNA, melalui KNS. (Dok. AFP/KNS/KCNA)

Liputan6.com, Pyongyang - Badan intelijen Korea Selatan (National Intelligence Service/NIS) menyampaikan kepada para anggota parlemen pada Kamis (12/2/2026) bahwa mereka meyakini putri pemimpin Korea Utara, Kim Jong Un, semakin mendekati tahap penetapan sebagai calon penerus kepemimpinan negara tersebut. Penilaian ini muncul di tengah langkah Kim Jong Un memperpanjang dinasti keluarganya hingga generasi keempat.

NIS menyampaikan penilaian tersebut dalam sebuah pengarahan tertutup. Informasi ini diungkapkan oleh anggota parlemen Lee Seong Kweun yang menghadiri pertemuan tersebut seperti dikutip dari Associated Press.

Penilaian itu muncul saat Korea Utara bersiap menggelar konferensi politik terbesarnya pada akhir bulan ini, yakni Kongres Partai Buruh. Dalam forum tersebut, Kim Jong Un diperkirakan akan memaparkan tujuan kebijakan utama untuk lima tahun ke depan sekaligus mengambil langkah-langkah untuk memperkuat cengkeraman kekuasaan otoriternya.

Dalam pengarahan tertutup tersebut, pejabat NIS menyatakan mereka memantau secara ketat kemungkinan kemunculan putri Kim Jong Un—yang diyakini bernama Kim Ju Ae dan berusia sekitar 13 tahun—bersama ayahnya di hadapan ribuan delegasi pada kongres mendatang.

Kim Ju Ae pertama kali muncul di hadapan publik saat uji coba rudal jarak jauh pada November 2022. Sejak saat itu, ia semakin sering mendampingi ayahnya dalam berbagai kegiatan, termasuk uji coba persenjataan, parade militer, serta peresmian pabrik. Pada September tahun lalu, ia turut melakukan perjalanan ke Beijing bersama Kim Jong Un dalam pertemuan puncak pertamanya dengan Presiden Tiongkok Xi Jinping dalam enam tahun terakhir, yang digelar di sela-sela acara peringatan Perang Dunia II.

Spekulasi mengenai masa depan politik Kim Ju Ae semakin menguat bulan lalu ketika ia mendampingi kedua orang tuanya dalam kunjungan Tahun Baru ke Istana Matahari Kumsusan di Pyongyang. Kompleks tersebut merupakan mausoleum keluarga yang menampilkan jenazah yang diawetkan dari kakek dan buyutnya, yakni pemimpin generasi pertama dan kedua Korea Utara. Sejumlah pakar menilai kunjungan itu sebagai sinyal paling jelas sejauh ini bahwa ia diposisikan sebagai calon pewaris kekuasaan ayahnya yang kini berusia 42 tahun.

Pada awalnya, pejabat Korea Selatan menyatakan keraguan bahwa seorang perempuan dapat dipilih sebagai pemimpin Korea Utara, dengan alasan budaya negara tersebut yang sangat konservatif dan tradisi kepemimpinan yang didominasi laki-laki. Namun, kemunculannya yang semakin menonjol dalam pemberitaan media pemerintah Korea Utara telah mendorong penilaian ulang.

Dalam penilaian sebelumnya pada September, NIS menyebut keputusan Kim Jong Un membawa putrinya ke Tiongkok kemungkinan merupakan bagian dari upaya membangun "narasi" yang dapat membuka jalan bagi proses suksesi.

"Di masa lalu, NIS menggambarkan Kim Ju Ae sedang menjalani 'pelatihan penerus'. Yang menonjol hari ini adalah penggunaan istilah 'tahap penunjukan penerus', sebuah pergeseran yang cukup signifikan," kata Lee Seong Kweun.

Menurut Lee Seong Kweun, badan intelijen itu mengutip semakin seringnya kehadiran Kim Ju Ae dalam acara-acara militer penting, keikutsertaannya dalam kunjungan keluarga ke Kumsusan, serta indikasi bahwa Kim Jong Un mulai meminta pandangannya dalam sejumlah persoalan kebijakan.

Meski visibilitasnya meningkat dalam propaganda negara, media pemerintah Korea Utara tidak pernah menyebutkan nama putri Kim Jong Un secara resmi. Ia hanya disebut sebagai "anak yang dihormati" atau "anak yang paling dicintai".

Keyakinan bahwa namanya adalah Kim Ju Ae berasal dari pengakuan mantan bintang NBA Dennis Rodman, yang pernah menceritakan bahwa ia menggendong bayi perempuan Kim Jong Un saat berkunjung ke Pyongyang pada 2013. Pejabat intelijen Korea Selatan meyakini ia lahir pada tahun tersebut.

Pada 2023, badan intelijen Korea Selatan juga menyampaikan kepada parlemen bahwa Kim Jong Un dan istrinya kemungkinan memiliki seorang putra yang lebih tua serta anak ketiga yang lebih muda dengan jenis kelamin yang belum diketahui.

 

Kongres Partai Buruh dan Sinyal Penegasan Pewaris

Kim Jong Un mengunjungi barak militer negara itu bersama istrinya, Ri Sol Ju, dan putrinya, Ju Ae, dalam rangka memperingati 75 tahun berdirinya Tentara Rakyat Korea. (Dok. KCNA)

Sejak berdiri pada 1948, Korea Utara selalu dipimpin oleh anggota laki-laki keluarga Kim. Kepemimpinan dimulai oleh pendiri negara Kim Il Sung, yang kemudian digantikan oleh putranya, Kim Jong Il.

Kim Jong Un sendiri baru berusia 26 tahun ketika secara resmi ditunjuk sebagai pewaris dalam konferensi partai pada 2010, dua tahun setelah Kim Jong Il mengalami stroke yang melemahkan kondisinya. Setelah ayahnya wafat pada Desember 2011, Kim Jong Un mendadak mengambil alih kekuasaan dengan persiapan yang relatif singkat.

Sejumlah analis menilai bahwa keputusan Kim Jong Un memperkenalkan putrinya sejak usia dini kemungkinan dipengaruhi oleh pengalamannya sendiri yang naik ke tampuk kekuasaan secara relatif mendadak dan dengan persiapan terbatas.

Kongres Partai Buruh yang dijadwalkan pada akhir Februari—yang sebelumnya digelar pada 2016 dan 2021—dapat menjadi panggung bagi Kim Jong Un untuk memformalkan rencana suksesi.

Analis senior di Sejong Institute, Cheong Seong-Chang, menyatakan bahwa Kim Jong Un mungkin akan memberikan putrinya jabatan sekretaris pertama partai, posisi nomor dua dalam struktur partai. Namun, keputusan semacam itu kemungkinan tidak akan langsung diumumkan kepada publik internasional.

Analis lain mempertanyakan kemungkinan ia menerima jabatan setinggi itu atau peran formal apa pun dalam partai, mengingat aturan partai mensyaratkan usia minimal 18 tahun bagi anggotanya.

Jika Kim Jong Un memang menggunakan kongres partai untuk mempertegas posisi putrinya sebagai penerus, tanda-tandanya kemungkinan akan lebih halus, kata Koh Yu-hwan, mantan presiden Institut Unifikasi Nasional Korea Selatan.

Sebagai contoh, partai dapat mengeluarkan pernyataan yang memuji keberhasilan Korea Utara bertahan lebih lama dibandingkan sebagian besar negara komunis lainnya dan mengaitkannya dengan keberhasilan dalam mewariskan revolusi secara berkelanjutan.

"Jika muncul komentar seperti itu, masuk akal untuk berpikir bahwa Ju Ae telah ditegaskan sebagai pewaris," imbuh Koh.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya