Liputan6.com, Jakarta - Lahir dan tumbuh besar di pusat kota, membuat Achmad Faizal (30) tak pernah terpikirkan akan menjalani kehidupan di desa. Namun, demikianlah kehidupannya saat ini. Sejak ibu mertuanya meninggal dunia pada medio 2024, istrinya harus pulang ke rumah orang tuanya untuk menemani sang ayah di Desa Sukorejo, Kecamatan Tambakrejo, Kabupaten Bojonegoro. Beberapa bulan kemudian, Faizal menyusul pulang ke desa untuk mengelola toko kelontong milik mendiang mertuanya.
“Awalnya kami LDR (long distance relationship atau hubungan jarak jauh, red), soalnya saya kerja di kota, pulang ke sini (desa, red) setiap hari sabtu. Terus istri minta bantuan mengelola toko karena kewalahan, soalnya dia juga kerja jadi kan dobel-dobel mikirnya. Yaudah saya pulang ke sini (desa, red),” papar pria Sarjana Teknik Sipil itu saat ditemui Liputan6.com di tokonya pada Rabu (11/2/2026).
Advertisement
Saat Faizal tiba di desa, Laily (29), istrinya belum lama terdaftar sebagai Agen BRILink. Lini bisnis baru ini membuat aktivitas transaksi di toko bertambah. Dari yang awalnya hanya fokus pada kegiatan jual beli sembako dan palawija, kemudian juga melayani aneka transaksi perbankan. Ditemui pada waktu dan lokasi yang sama, Laily mengungkap perjalanannya sebagai Agen BRILink.
“Begitu daftar kan tidak otomatis mendapatkan mesin EDC, jadi pertama pakai aplikasi BRILink di HP yang fiturnya terbatas, tidak bisa transfer atau tarik tunai pakai kartu ATM kan jadi ya transaksinya masih terbatas. Waktu itu pertama-tama konsumen saya ya saudara-saudara sendiri karena mereka saya promosiin,” jelas Laily diikuti tawa renyah, Rabu (11/2/2026).
Tak berhenti sampai di situ, Laily yang sejak SMP sudah merantau jauh dari rumah sehingga tidak cukup akrab dengan para tetangga, merasa harus melakukan promosi terus-terusan mengenai BRILink miliknya. Salah satu yang dilakukan adalah membuat pesan broadcasting ke semua kontak WhatsApp di ponsel mendiang sang ibu, yang isinya adalah para tetangga dan pelanggan sang ibu sejak dulu. Pesan itu sedikit banyak memperluas jangkauan promosi Agen BRILink miliknya.
Sambutan Hangat Pelanggan
Selang sekitar satu bulan sejak resmi terdaftar sebagai Agen BRILink, toko milik pasutri milenial itu memperoleh mesin EDC karena telah memenuhi target transaksi dengan aplikasi BRILink Mobile. Sesuai dugaan, mesin EDC ini menjadi magnet promosi yang cukup ampuh.
“Kalau di desa kan enggak semua orang punya HP ya, jadi enggak semua orang mau kalau bukti transaksinya tidak bisa dicetak pakai kertas. Setelah mesin EDC BRI datang, ya orang-orang antusias, toko makin ramai karena orang bisa tarik tunai pakai kartu ATM langsung, transaksi apapun juga bisa dicetak struknya. Itu yang mereka mau,” jelas Faizal.
Lebih lanjut ia mengungkap bahwa selain pelayanan yang baik dan biaya admin terjangkau, keakrabannya dengan tetangga turut membuat bisnis Agen BRILink miliknya ramai pelanggan. Bagi warga kota, pola bisnis yang diterapkan Faizal dan istrinya mungkin kurang masuk akal karena sangat berbasis pada kepercayaan pada pelanggan.
“Jadi kalau transaksi di sini misalnya saya enggak punya kembalian atau pelanggan bayar admin uangnya kurang, ya enggak papa. Bisa dilunasi nanti atau besok-besok kalau ke sini lagi. Model kayak gini kan enggak mungkin bisa diterapkan di kota. Kalau di desa mungkin banget soalnya ya hubungan antara Agen BRILink dan pengguna jasa sudah sangat baik, sama-sama percaya,” ungkap alumnus Universitas Bojonegoro itu.
Tak Langsung Kaya, tapi Hidup Lebih Bermakna
Senada, Laily yang lahir di desa tapi sejak remaja sudah meninggalkan rumah untuk bersekolah mengaku kagum dengan cara hidup warga desa, khususnya di wilayahnya. Menurut pengamatannya, sebagian besar UMKM bertahan karena warganya saling dukung. Kalau ada tetangga menjual barang yang dibutuhkan, warga desa akan lebih memilih beli di tetangganya daripada di tempat lain. Demikian halnya dengan Agen BRILink yang sebagian besar pelanggannya adalah tetangga satu dusun kami.
“Pendapatan sebagai Agen BRILink dengan lokasi toko kami tidak di tepi jalan raya dan hanya buka sampai jam 4 sore itu tidak banyak, satu bulan sekitar Rp1 juta, tapi ya itu rasanya saya dan suami merasa hidup kami lebih berarti. Mungkin karena sejak hidup desa kami lebih slow living kali ya menjalani hari. Biaya hidup murah, saya sering masak hasil kebun, banyak kegiatan bersama tetangga, begitu kayaknya yang bikin hidup terasa beda dari sebelumnya,” papar alumnus Universitas Sebelas Maret Surakarta itu.
Daya tarik Agen BRILink Mbak Ifa yang dikelola Faizal dan Laily juga didukung kuat oleh fungsinya sebagai one stop solution (solusi satu pintu). Pelanggan bisa belanja kebutuhan pokok, termasuk menjual hasil panen seperti jagung dan gabah, sekaligus melakukan aneka transaksi perbankan di satu toko saja. Istilahnya, sekali dayung, pelanggan bisa melampaui dua-tiga pulau sekaligus. Tidak perlu berpindah-pindah tempat untuk memenuhi aneka kebutuhan rumah tangga.