Bertahan di Tengah Perang Israel-Hamas: Fanous Simbol Suka Cita, Harapan, dan Tradisi Ramadan di Gaza

oleh Helmi FithriansyahDiterbitkan 12 Februari 2026, 16:00 WIB
Bertahan di Tengah Perang Israel-Hamas: Fanous Simbol Suka Cita, Harapan, dan Tradisi Ramadan di Gaza
Menjelang bulan Ramadan, Rehan Hazem Sharab (32 tahun), seorang perempuan pengungsi yang tinggal di lingkungan Al-Mawasi, Khan Younis, Jalur Gaza selatan, mengubah kardus bantuan dan beberapa kain menjadi lampion Ramadan atau fanous. Fanous merupakan lentera tradisional berwarna-warni yang digunakan sebagai dekorasi khas untuk merayakan bulan suci Ramadan. Fanous menjadi simbol suka cita, harapan, dan tradisi yang tetap bertahan di tengah situasi konflik berkepanjangan antara Israel dan Hamas. Bagi Rehan Hazem Sharab, fanous, selain membawa kegembiraan ke tenda-tenda dan reruntuhan rumah yang hancur, sekaligus sumber penghasilan untuk menghidupi kedua anaknya dengan menjual lampion tersebut ke toko-toko. Sebagai informasi, fanous merupakan lentera tradisional berwarna-warni yang digunakan sebagai dekorasi khas untuk merayakan bulan suci Ramadan. Lentera ini sering dibuat oleh perajin lokal di Gaza, seperti di Khan Younis, dan Kota Gaza. Fanous menjadi simbol suka cita, harapan, dan tradisi yang tetap bertahan di tengah situasi konflik berkepanjangan antara Israel dan Hamas.
Rehan Hazem Sharab, seorang pengungsi Palestina berusia 32 tahun, menggantung lampion buatan tangan yang terbuat dari kotak-kotak bantuan bekas saat bersiap menyambut bulan suci Ramadan, di luar tendanya di lingkungan Al-Mawasi, Khan Younis, di Jalur Gaza selatan pada Sabtu 7 Februari 2026. Menjelang bulan Ramadan, Rehan Hazem Sharab (32 tahun), seorang perempuan pengungsi yang tinggal di lingkungan Al-Mawasi, Khan Younis, Jalur Gaza selatan, mengubah kardus bantuan dan beberapa kain menjadi lampion Ramadan atau fanous. (Bashar Taleb/AFP)
Fanous merupakan lentera tradisional berwarna-warni yang digunakan sebagai dekorasi khas untuk merayakan bulan suci Ramadan. Tampak dalam foto, Rehan Hazem Sharab, seorang warga Palestina berusia 32 tahun, membuat lampion buatan tangan dari kotak-kotak bantuan yang tersisa sebagai persiapan menyambut bulan suci Ramadan yang dimulai pada 17 Februari, di luar tendanya di lingkungan Al-Mawasi, Khan Younis, di Jalur Gaza selatan pada Sabtu 7 Februari 2026. (Bashar Taleb/AFP)
Fanous menjadi simbol suka cita, harapan, dan tradisi yang tetap bertahan di tengah situasi konflik berkepanjangan antara Israel dan Hamas. Tampak dalam foto, Rehan Hazem Sharab, seorang pengungsi Palestina berusia 32 tahun, mengantarkan lampion buatan tangannya, yang dibuat dari kotak-kotak bantuan bekas, sebagai persiapan menyambut bulan suci Ramadan yang dimulai pada 17 Februari, di luar tendanya di lingkungan Al-Mawasi, Khan Younis, di Jalur Gaza selatan pada Sabtu 7 Februari 2026. (Bashar Taleb/AFP)
Bagi Rehan Hazem Sharab, fanous, selain membawa kegembiraan ke tenda-tenda dan reruntuhan rumah yang hancur, sekaligus sumber penghasilan untuk menghidupi kedua anaknya dengan menjual lampion tersebut ke toko-toko. Tampak dalam foto, Rehan Hazem Sharab, seorang pengungsi Palestina berusia 32 tahun, memegang lampion buatan tangannya yang terbuat dari kotak-kotak bantuan bekas sebagai persiapan menyambut bulan suci Ramadan yang dimulai pada 17 Februari, di luar tendanya di lingkungan Al-Mawasi, Khan Younis, di Jalur Gaza selatan pada Sabtu 7 Februari 2026. (Bashar Taleb/AFP)
Sebagai informasi, fanous merupakan lentera tradisional berwarna-warni yang digunakan sebagai dekorasi khas untuk merayakan bulan suci Ramadan. Tampak dalam foto, Rehan Hazem Sharab, seorang pengungsi Palestina berusia 32 tahun, membuat lampion buatan tangan dari kotak-kotak bantuan yang tersisa sebagai persiapan menyambut bulan suci Ramadan yang dimulai pada 17 Februari, di luar tendanya di lingkungan Al-Mawasi, Khan Younis, di Jalur Gaza selatan pada Sabtu 7 Februari 2026. (Bashar Taleb/AFP)
Lentera ini sering dibuat oleh perajin lokal di Gaza, seperti di Khan Younis, dan Kota Gaza. Tampak dalam foto, Rehan Hazem Sharab, seorang pengungsi Palestina berusia 32 tahun, membuat lampion buatan tangan dari kotak-kotak bantuan yang tersisa sebagai persiapan menyambut bulan suci Ramadan yang dimulai pada 17 Februari, di luar tendanya di lingkungan Al-Mawasi, Khan Younis, di Jalur Gaza selatan pada Sabtu 7 Februari 2026. (Bashar Taleb/AFP)
Fanous menjadi simbol suka cita, harapan, dan tradisi yang tetap bertahan di tengah situasi konflik berkepanjangan antara Israel dan Hamas. Tampak dalam foto, Rehan Hazem Sharab, seorang pengungsi Palestina berusia 32 tahun, membuat lampion dan barang-barang lainnya dari kotak bantuan yang tersisa sebagai persiapan menyambut bulan suci Ramadan yang dimulai pada 17 Februari, di luar tendanya di lingkungan Al-Mawasi, Khan Younis, di Jalur Gaza selatan pada Sabtu 7 Februari 2026. (Bashar Taleb/AFP)

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya