Kusala Sastra Khatulistiwa 2026, Merawat Keberagaman Suara Karya Sastra Indonesia

Penjaringan kandidat Kusala Sastra Khatulistiwa 2026 berlangsung selama dua bulan, yakni Januari hingga Februari 2026.

oleh Dea SifaDiterbitkan 14 Februari 2026, 07:00 WIB
Anugerah Kusala Sastra Khatulistiwa yang digelar di Jakarta, Sabtu (28/6/2025) memfiturkan tiga kategori, yaitu untuk buku kumpulan cerpen, novel, dan puisi. (Foto: Dok. Tim Kusala Sastra Khatulistiwa 2025)

Liputan6.com, Jakarta - Kusala Sastra Khatulistiwa (KSK) 2026 mulai menjaring kandidat karya sastra Indonesia. Proses ini menandai dimulainya rangkaian penyelenggaraan edisi ke-22 penghargaan sastra yang telah konsisten menjadi wadah apresiasi bagi karya prosa dan puisi Indonesia tersebut.

Tahun ini, penjaringan kandidat berlangsung selama dua bulan, yakni Januari hingga Februari 2026. Hingga awal Februari, panitia telah menerima 104 judul buku dari penulis dan penerbit. Selain pengiriman langsung, pihaknya juga aktif menjaring buku-buku berkualitas yang belum diajukan.

KSK 2026 punya tiga kurator, yaitu Eka Kurniawan, Hasan Aspahani, dan Nezar Patria. "Sebagai kurator, kami tidak ikut campur dalam proses penilaian," kata Eka saat jumpa pers di Jakarta, 5 Februari 2026.

Ia menyambung, "Kami hanya meneruskan tradisi yang sudah dibangun sejak masa Richard Oh, bahwa penyelenggara tidak mencampuri keputusan juri." Para kurator memiliki tugas mengawal sistem, menjaga tradisi, dan memastikan proses berjalan transparan serta berkesinambungan.

Penilaian sepenuhnya dilakukan dewan juri independen yang terdiri dari sastrawan, kritikus, dan akademisi sastra. Dewan juri membaca dan menilai karya berdasarkan sejumlah aspek, seperti kekuatan estetik, kebaruan gagasan, kualitas bahasa, serta relevansi sosial dan budaya.

Pemisahan peran antara kurator dan juri dinilai penting untuk menjaga kredibilitas KSK sebagai penghargaan sastra yang independen.

Seluruh karya yang dinilai merupakan buku yang telah diterbitkan, bukan manuskrip. Setelah tahap menjaring kandidat, proses akan berlanjut ke pembacaan awal oleh juri, penyusunan daftar panjang, penetapan daftar pendek, serta penentuan pemenang.

 

Melibatkan Komunitas Pembaca dan Penulis Sastra

Konferensi pers Kusala Sastra Khatulistiwa 2026 menandai dimulainya proses menjaring karya sastra Indonesia. (Liputan6.com/Dea Sifa)

Menurut Hasan, KSK 2026 juga melibatkan komunitas pembaca dan penulis sastra. Rekomendasi dari komunitas akan dimasukkan ke dalam daftar buku yang dipertimbangkan juri. "Kami ingin mempersempit jarak antara buku yang dibaca juri dan buku yang dibaca publik," kata dia.

Direktur Program KSK, Gema Laksmi Mawardi, menilai sastra Indonesia saat ini berada dalam kondisi produkti, beragam, dan semakin partisipatif.  "Sastra Indonesia hari ini sangat hidup. Bukan hanya penulis yang aktif, tetapi juga pembaca dan komunitas yang terlibat," ujar dia.

Kusala Sastra Khatulistiwa dikenal tidak hanya memilih pemenang, tapi juga memetakan perkembangan sastra Indonesia dari waktu ke waktu. Melalui proses seleksi berlapis dan keterlibatan juri independent, KSK bermaksud merawat keberagaman suara sastra dari beberapa penjuru.

Membuka Ruang Dialog

Kurator Kusala Sastra Khatulistiwa 2026 memaparkan peran dan mekanisme penjaringan karya sastra dalam konferensi pers di Balai Sastra HB Jassin, Jakarta. ( Dok. Kusala Sastra Khatulistiwa 2026)

KSK juga ingin membuka ruang dialog antar karya, penulis, dan pembaca. Dengan demikian, ajang penghargaan ini tidak sekadar menjadi wadah apresiasi, melainkan penanda dinamika dan arah sastra kontemporer lokal.

Karya-karya yang masuk dan dinominasikan kerap mencerminkan perubahan tema, keberanian bentuk, serta cara penulis merespons realitas sosial, politik, dan budaya yang terus bergerak.

Selama lebih dari dua dekade, Kusala Sastra Khatulistiwa telah mengapresiasi karya prosa dan puisi Indonesia, termasuk karya dari penulis dan penerbit independen yang sebelumnya kurang mendapat sorotan publik.

Tidak sedikit buku yang kembali dibaca, diperbincangkan, dan mendapat tempat di ruang diskusi sastra setelah masuk nominasi Kusala Sastra Khatulistiwa. Dalam konteks ini, KSK berperan sebagai ruang kurasi, sekaligus arsip yang merekam dinamika, kegelisahan, dan arah baru sastra indonesia dari waktu ke waktu.

Pemenang KSK 2025

Ruang konferensi pers Kusala Sastra Khatulistiwa 2026 di Balai Sastra HB Jassin, Jakarta. (Liputan6.com/Dea Sifa)

 

Pelaksanaan KSK 2025 menjadi pijakan penting bagi penyelenggaraan tahun ini. Melansir situs webnya, dewan juri menetapkan tiga pemenang utama, tahun lalu, yaitu:

  1. Kategori Novel - Duri dan Kutuk karya Cacilia Oday
  2. Kategori Kumpulan Cerpen - Akhir Sang Gajah di Bukit Kupu-Kupu karya Sasti Gotama
  3. Kategori Kumpulan Puisi - Hantu padang karya Esha Tegar Putra

Setiap pemenang menerima hadiah uang tunai Rp 75 juta, serta pembelian buku senilai Rp 25 juta yang didistribusikan ke sekolah, perpustakaan, dan komunitas literasi. Selain itu, buku pemenang dan nominasi ditawarkan pada publik melalui pameran dengan diskon sekitar 20─30 persen di stan mitra penerbit.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya