Liputan6.com, Jakarta - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencatat koreksi 4,73% dalam sepekan terakhir ke level 7.935. Hal itu dipengaruhi sentimen MSCI yang menyoroti risiko Indonesia masuk kategori frontier market apabila transparansi pemegang saham tidak terpenuhi. Selain itu, kondisi pasar turut dipengaruhi dinamika global dan domestik. Koreksi IHSG juga disertai arus dana keluar di pasar reguler sebesar Rp 1,2 triliun. Tekanan pasar terutama dipicu
Dari global, perhatian tertuju pada perkembangan geopolitik Amerika Serikat dan Iran. Presiden AS Donald Trump menyatakan pembicaraan tidak langsung yang dimediasi Oman berjalan positif dan membuka peluang pertemuan lanjutan.
Advertisement
Meski demikian, perbedaan agenda negosiasi antara kedua negara masih menimbulkan ketidakpastian dan sempat menekan harga minyak Brent ke bawah USD 67 per barel sebelum kembali stabil.
“IPOT melihat risiko geopolitik tetap tinggi karena AS pada saat yang sama menjatuhkan sanksi baru terkait ekspor minyak Iran. Iran menyita kapal tanker kecil di Teluk Persia dan kedua pihak saling melontarkan ancaman. Kami menilai peluang eskalasi serangan terbatas di maritim masih terbuka meski jalur diplomasi berlanjut,” jelas Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT), Imam Gunadi dalam keterangan resmi, Senin (9/2/2026).
Sementara itu, meredanya ketegangan dagang AS–India memberikan sentimen positif bagi Indonesia, mengingat India merupakan mitra dagang utama. AS menurunkan tarif impor, diikuti komitmen India meningkatkan pembelian energi dan produk AS serta membuka hambatan perdagangan di sejumlah sektor.
Keputusan Moody’s
Dari dalam negeri, tekanan datang dari keputusan Moody’s yang menurunkan outlook Indonesia menjadi negatif, meski peringkat kredit tetap di level Baa2. Penurunan outlook ini didasari meningkatnya ketidakpastian kebijakan dan risiko fiskal, meskipun fundamental ekonomi dinilai masih relatif solid.
“Moody’s menyoroti risiko fiskal dari perluasan belanja sosial, basis penerimaan negara yang lemah, serta ketidakjelasan tata kelola dan mandat sovereign wealth fund Danantara yang mengelola aset BUMN besar, sementara eskalasi risiko politik dan volatilitas pasar keuangan berpotensi menekan stabilitas makro jika tidak diimbangi dengan konsistensi kebijakan yang lebih kuat,” jelas Imam.
Penurunan outlook tersebut berdampak pada batas atas peringkat kredit sejumlah emiten besar, termasuk BUMN dan bank-bank utama, serta meningkatkan sensitivitas pasar terhadap risiko kebijakan ke depan.
Ke depan, pasar akan mencermati rilis data ekonomi dari Amerika Serikat, China, dan Indonesia. Dengan masih kuatnya faktor kehati-hatian global dan domestik, pergerakan IHSG diperkirakan fluktuatif dengan kecenderungan melemah terbatas, dengan support di 7.716 dan resistance di 8.207.
Sentimen Sepekan
Pada periode perdagangan 9–13 Februari 2026, pasar diperkirakan mencermati sejumlah rilis data ekonomi utama dari Amerika Serikat, China, dan Indonesia yang berpotensi memengaruhi arah pergerakan pasar.
Dari AS, data inflasi menjadi fokus utama dengan proyeksi penurunan ke 2,5% secara tahunan, yang dapat memperkuat ekspektasi pelonggaran kebijakan moneter The Fed. Data ketenagakerjaan juga dipantau, dengan klaim pengangguran awal diperkirakan di kisaran 235 ribu dan tingkat pengangguran stabil di 4,4%.
Sementara itu, dari China, rilis data inflasi yang diproyeksikan melambat menjadi 0,4% yoy mencerminkan lemahnya permintaan domestik dan membuka ruang kebijakan yang lebih longgar. Data ini dinilai penting mengingat peran China sebagai mitra dagang utama Indonesia serta pengaruhnya terhadap sentimen komoditas global.
Di dalam negeri, perhatian investor tertuju pada data penjualan ritel Desember 2025 serta penjualan mobil Januari 2026 yang akan menjadi indikator awal kondisi konsumsi masyarakat dan permintaan domestik di awal tahun. Selain itu, perkembangan kebijakan Moody’s dan implikasinya terhadap emiten nasional masih menjadi faktor yang dicermati pelaku pasar.
Secara keseluruhan, dengan masih tingginya kehati-hatian di tengah sentimen global dan domestik, pergerakan IHSG pada pekan ini diperkirakan berfluktuasi dengan kecenderungan melemah terbatas, dengan area support di 7.716 dan resistance di 8.207.
Menanggapi kondisi pasar saat ini, IPOT merekomendasikan strategi perdagangan pada saham-saham yang dapat dicermati di tengah kondisi ini. Adapun rekomendasinya sebagai berikut:
Rekomendasi Saham
PNLF
PNLF direkomendasikan dengan strategi buy on pullback. PNLF dinilai merepresentasikan pemulihan sektor asuransi jiwa seiring pertumbuhan kelas menengah dan meningkatnya kebutuhan proteksi keuangan.
Imam menilai perbaikan kualitas bisnis tercermin dari peningkatan profitabilitas, pengelolaan risiko yang lebih konservatif, serta prospek pertumbuhan premi yang stabil. Dengan valuasi yang relatif atraktif, PNLF dinilai memiliki profil risiko dan imbal hasil yang seimbang.
ADRO
Emiten ini didukung posisi kas yang kuat dan struktur bisnis yang relatif defensif di tengah volatilitas harga komoditas. Normalisasi harga batu bara dinilai masih dapat diimbangi melalui efisiensi biaya produksi, diversifikasi ke energi terbarukan, serta disiplin pengelolaan modal, termasuk kebijakan dividen. Menurut Imam neraca yang solid memberikan fleksibilitas ADRO dalam menghadapi transisi energi.
PANI
Adapaun PANI dinilai menarik seiring capaian pra-penjualan sepanjang 2025 yang mencapai Rp 4,3 triliun atau setara 100% dari target.
Imam menuturkan kinerja tersebut mencerminkan kuatnya permintaan terhadap proyek-proyek perseroan serta efektivitas strategi pengembangan kawasan. Dengan visibilitas pendapatan yang lebih terjaga dan potensi pengembangan lanjutan, PANI dipandang masih memiliki ruang pertumbuhan.
Disclaimer: Setiap keputusan investasi ada di tangan pembaca. Pelajari dan analisis sebelum membeli dan menjual saham. Liputan6.com tidak bertanggung jawab atas keuntungan dan kerugian yang timbul dari keputusan investasi.